Oleh: Sopaat R Selamet, Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung
BANDUNGMU.COM — Dimyati. Mungkin itu nama aslinya. Maklum orang Sunda, panggilan masa kecilnya biasa dipanggil mudahnya, ”Yat” atau “Ayat”. Jadilah populer Ayat Dimyati. Entah benar seperti itu atau tidak, itu hanya perkiraan saja terkait nama panggilan beliau.
Setidaknya panggilan “Ayat” bagi teman-temannya tidak asing. Daripada panggilan Dimyati. Saya pun jadi teringat kepada salah satu teman dekatnya di masa remaja. Ya, masa-masa Muallim Ayat Dimyati menimba ilmu di Pendidikan Guru Agama (PGA) Muhammadiyah. Lembaga pendidikan yang berada di jantung kota pusat pergerakan Muhammadiyah di Jawa Barat.
Kebetulan teman dekat Muallim Ayat–saya akrab menyebutnya Pak Ayat–itu adalah abang saya sendiri, allhahu yarham. Kalau pulang dari Kota Bandung ke kampung, dulu (alm) saudaraku itu sering kali bertanya, “KumaKha kabarna si Ayat?” Saya pun tersentak kaget. Kok abangku songong banget ke Pak Ayat manggilnya, ”Si Ayat”.
Lama kelamaan akhirnya saya tahu. Itu panggilan teman sepermainan semasa sekolahnya, teman sekelasnya di PGAM. Ternyata bukan songong, melainkan panggilan itu penanda betapa ada keakraban di antara dua sahabat semasa remaja, masa sekolahnya.
Ada karakter yang sama dua orang yang saya kagumi ini: hidupnya santun dan bersahaja. Selalu berupaya bijak dan bersikap baik kepada siapa pun dan selalu berusaha menyapa duluan. Selain sama-sama alumni PGAM di Garut.
Bedanya abangku meneruskan studi ke Kota Yogya. Abangku di mataku merupakan kader Muhammadiyah yang intelektual, aktivis konseptor, dan organisatoris-administatif juga.
Sementara Pak Ayat memilih lanjut kuliahnya di Kota Bandung–dan sempat menjalani takhasus tafsir hadits di Majma Al-Buhuts di Universitas Al-Azhar.
Sehingga lebih tampak berperan sebagai ulama, muallim, sehingga sering kami panggil kiai–artinya sosok yang dihormati dan dimuliakan karena keluasan keilmuannya dan akhlaknya yang mulia.
Sama dengan al-mukaram. Pak Ayat selain sebagai Ketua PD Muhammadiyah Kota Bandung dan Ketua PWM Jabar, beliau pun aktif sebagai Anggota MUI Jawa Barat (Majelis Fatwa).
Pencinta ilmu
Pak Ayat di mataku merupakan orang aneh, dalam pengertian langka dan positif. Sosok manusia yang mencirikan pencinta ilmu. Seringkali saya berpapasan dengan beliau di bus damri dari kampus IAIN (kini UIN kampus 1) menuju pusat kota.
Kadang-kadang berpapasan berbarengan di bus saat beliau menuju rumahnya di bilangan Cikaso Kota Bandung. Kadang-kadang sama-sama bertujuan ke Sancang, tempat aktivitas ber-Muhammadiyah.
Di bus damri itu, setiap duduk kebetulan selalu berdekatan dan beliau selalu mengajak berbincang. Uniknya beliau suka bertanya, “At, apakah kondisi badan lagi fit?” Saya jawab, “Ya, Pak, alhamdulillah sae (baik) sehat.”
Saya pun surti (paham) bahwa kalau beliau bertanya itu maka akan mengajak berbincang hal-hal yang “berat”.
Jadilah dalam bus itu obrolan yang bukan sekedar penghias bibir. Namun, semacam dialog, diskusi, atau bahkan share ilmu pengetahuan. Obrolan pun berlanjut larut.
Kebetulan sejak kecil, saya pun suka ngobrol atau bahkan lebih banyak menimba ilmu dengan ngobrol atau berbincang-bincang dengan sosok tokoh di kampung halaman pun. Misalnya dengan ayahku sendiri ataupun dengan abang serta pamanku yang ustaz di kampungku.
Obrolan dengan Pak Ayat bisa bertema keilmuan. Bicara tafsir terkait makna musyrik yang begitu mendalam. Sampai pula mengerucut terhadap konsep pemikiran tauhid ilmu–yang sedang proses dibukukan.
Tak pernah sekalipun membicarakan persoalan kepentingan politik dalam arti politik pragmatis. Namun, lebih kepada etika, keimanan, dan mengambil ibrah dalam peristiwa atau kehidupan.
Mungkin merasa ada kesamaan dalam tradisi literasi, membaca, dan kajian yang mempertemukan keakraban saya dengan Pak Ayat.
Ini pula yang mengingatkan saya pada sosok Pak Ayat sekitar 14 tahun lalu. Saat saya masih aktif semacam “mengelola” anak-anak mahasiswa Muhammadiyah (IMM) DPD di Sancang. Saya meminta beliau untuk menyampaikan semacam kajian keilmuan bagi kami, bersama adik-adik angkatan di ortom.
Keakraban dengan Pak Ayat berlanjut, di mana pun bertemu beliau. Sering kali pula pulang bareng di angkutan umum, sama sepanjang perjalanan mengajak obrolan yang punya makna.
Sempat saya pun bertanya,”Pak, kenapa lebih suka pakai mobil umum? Kan bapak sudah mengayuh ke sepuh?”
Jawabnya,”Bapak sengaja, dengan berkendaraan seperti ini bisa berinteraksi dengan orang lain. Belajar memahami realitas sosial, betapa banyak pelajaran dalam kehidupan ini dari masyarakat kecil.”
Saya pun mengerti. Selain untuk kesehatan, seringkali kalau mengisi pengajian subuh, dari rumahnya beliau berjalan kaki ke kantor Muhammadiyah, dari Cikaso ke Sancang, Buahbatu. Atau dari Cikaso ke Antapani.
Rendah hati
Beliau sosok ayahanda yang mengayomi. Sikapnya rendah hati, tawadhu, dan terbuka dalam berdialog.
Padahal apalah saya ini, anak muda yang mungkin sebaya dengan salah satu anak sulungnya. Pantaslah pula kalau dalam sebuah status anak-anak IMM ada yang menyebutkan sosok yang humble.
Ya, saya setuju. Bukan sekedar kedalaman ilmu atau kealimannya. Pak Ayat di mataku sosok yang humble atau akrab–meskipun kuakui jarang berkeliling ke sekre belakang kantor tempat kami, anak-anak IMM. Meskipun secara fisik ada keterbatasan, tetaoi pikiran dan hatinya untuk kader tidak diragukan perhatiannya.
Pak Ayat, bukan saja sebagai guru yang ibarat teko yang menuangkan air ilmu ke dalam secangkir gelas setiap ada kesempatan bertemu. Sekitar belasan tahun lalu, saat saya mendapatkan musibah ujian kesulitan hidup. Gamang, galau, dan merasa tertekan dalam hidup.
Sosok ayahanda Pak Ayat, dengan bijaksana mengingatkan saya pada latihan membangun kesadaran diri. Beliau mengajarkan proses menguatkan jiwa. Ya, beliau mengajarkan supaya saya mendawamkan atau mewiridkan asma ul-husna setiap bakda shalat.
Secara tidak langsung, Pak Ayat pun mengajarkan bersikap baik dan jangan berburuk sangka pada sesama. Belajar membiarkan menyikapi keburukan, bahkan kedengkian orang dengan tetap bersikap baik dan mendoakan kebaikan.
Bukan itu saja. Ketika studi saya mengalami kendala keuangan. Tanpa diketahui orang lain, beliau memberi saya sejumlah uang yang besar untuk ukuran saya, supaya saya manfaatkan untuk kepentingan studi.
Di saat itu beliau hanya sosok Pak Ayat tanpa jabatan apa-apa karena jadi dosen hampir menjelang pensiun.
Saat saya bilang, ”Mau melakukan pinjaman untuk nanti bayarannya saya cicil, dari hasil kerjaan saya.” Beliau cukup mengatakan, ”Pakai saja, enggak usah dikembalikan. Kalau ada punya uang, nanti bersedekah saja, salurkan saja ke Muhammadiyah.”
Walhasil dalam proses studi saya, meraih gelar magister, terselip kontribusi nyata beliau. Bisa disebut Pak Ayat jadi sponsor beasiswa pribadi saya–meskipun tidak sepenuhnya.
Selain dimensi bayani dan burhani–dalam transfer ilmu. Pak Ayat tanpa saya sadari saat itu–baru nyadar kemudian setelahnya–seolah sedang mengajari pula tentang makna dimensi irfani dalam proses kehidupan.
Berkali-kali beliau menyampaikan pelajaran yang diselipkan lewat kisah, cerita, yang dialaminya ataupun yang dialami anggota keluarganya.
Yang setelah direnungi ternyata beliau seolah-olah secara tak langsung sedang mengajarkan proses tahapan-tahapan hidup ini, semacam bagian dari proses menjalani suluk (perjalanan batin).
Ada kisah-kisah yang kadang-kadang sulit dimengerti kalau hanya mengandalkan kerangka berpikir metode ilmiah, otak positivistik belaka. Seolah-olah beliau mengingatkan pada pelajaran hidup bahwa hidup ini ada dimensi lahir dan batin. Ada dimensi material yang serba terbatas oleh fisik alamiah natural, tapi juga ada supra-natural.
Itulah pembuktian adanya kekuasaan Tuhan Allah SWT. Antara fisik dengan nonfisik seolah-olah melebur.
Dalam penglihatan zahir, fisik atau jasad yang dipandang seolah-olah mata menggunakan alat kaca pembesar yang menerobos kulit, daging, tulang hingga ke dalam sel-sel yang lama kelamaan seolah-olah pudar dan menghilang menembus batas pandangan mata.
Itulah yang berkali-kali beliau sampaikan dalam memandang sesuatu yang bersifat material (zahir).
Kehilangan
Bagi saya, kepergian Pak Ayat dipanggil menghadap Sang Maha Pencipta adalah kehilangan sekali. Merasa masygul juga. Kenapa tidak sempat menengok di saat sakitnya–sebelum ke rumah sakit.
Seakan-akan enggak tega, kalau menengok ke rumahnya, beliau justru butuh istirahat karena kabar dari putranya–yang juga teman dekat kini–kalau ada yang nengok malah beliau selalu mengajak bicara, padahal fisiknya butuh istirahat.
Niat menjenguk ke rumah sakit beberapa hari lalu belum kesampaian–karena saya pun mesti terapi badan.
Tiba-tiba tadi siang, Sabtu (24/09/2022) pukul 13.44 saya dapat kabar via telepon dari salah satu putranya kalau beliau sudah kembali (wafat) sekitar pukul 12.
Saya bukan kehilangan sekedar sosok pribadi, tetapi kehilangan karena beliau adalah figur ayahanda, orangtua, guru, sekaligus model orang yang khusyuk dalam berpikir kuat dalam keilmuan agama sekaligus teladan dalam perbuatan baik.
Sosok yang santun, lembut dalam bertutur dan bersikap. Namun, bisa pula bersikap cukup tegas dalam hal-hal tertentu.
Selamat jalan, selamat bertemu Tuhan, Pak Ayat. Kepergianmu mengingatkan kami betapa butuhnya kami pada sosok orang yang pencinta ilmu. Cara hilangnya ilmu atau dicabutnya ilmu di antaranya dengan dipanggilnya kalangan ulama-muallim.
Kalau tidak diwariskan berkesinambungan, tentu kami akan jadi umat atau orang-orang yang seperti berjalan meraba-raba tanpa panduan cahaya di kegelapan.
Ulama adalah warasatul anbiya (pewaris nabi). Salah satunya adalah dirimu, Pak Ayat. Semoga Allah mengampuni kekhilafanmu–sebagai manusia biasa–dan menerima amal bakti sepanjang hayatmu.
Mudah-mudahan kami yang masih ada, terutama yang muda-muda, bisa mengambil pelajaran. Untuk berbenah dan meneladani karakter beliau yang sangat mencintai ilmu dan berupaya menyebarluaskannya.
Salah satu bentuk menghormati beliau adalah senantiasa menghidupkan kajian keilmuan dan berupaya mengamalkannya.***





