BANDUNGMU.COM — Dakwah merupakan aktivitas yang sangat dianjurkan dalam Islam. Meskipun berdakwah dapat dilakukan dengan hanya menyampaikan satu ayat, tetapi konten dakwah yang dibawakan oleh kader mubalig Muhammadiyah harus atraktif, tidak hanya berisi perintah dan larangan . Oleh karena itu, mubalig juga harus mendalami ajaran Islam.
Di sisi lain, aktivitas dakwah juga merupakan tindakan amar ma’ruf nahi munkar, atau mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Namun, dalam mencegah kemungkaran, mubalig atau juru dakwah juga harus dengan cara yang maruf/baik dan mensenyawakannya dengan aspek irfani, rasa, atau ihsan.
Demikian disampaikan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir di acara Kajian Virtual “Merawat Ideologi Gerakan” yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Lampung, Senin (27/12/2021).
Menurutnya, meski dalam posisi benar, tetapi tetap tidak boleh sembarangan dalam berdakwah. ”Yang akhirnya menyakiti orang, melukai orang, menyerang orang dan seterusnya atas nama nahi munkar. Aspek rasa itu penting, jangan-jangan karena dakwah tidak memperhitungkan aspek rasa orang makin alergi dan antipasti terhadap cara dakwah kita. Akhirnya makin sedikit yang ikut Muhammadiyah,” ungkap Haedar.
Termasuk ketika mubalig memahami wahyu, menurut Haedar jika merujuk kepada Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, bahwa dalam memahami wahyu harus menggunakan tiga pendekatan yaitu bayani, burhani, dan irfani yang mendalam, luas, dan saling terkoneksi.
Memahami Islam dalam perspektif Tarjih, Islam bukan hanya berisi perintah dan larangan, melainkan di dalamnya juga ada petunjuk-petunjuk. Merujuk beberapa temuan, Haedar menyebut ayat tentang perintah dan larangan dalam Alquran hanya sekitar 10 persen dan selebihnya adalah ayat yang menerangkan tentang berbagai aspek kehidupan.
”Maka kita harus saksama dalam memahami Alquran dan Hadis Nabi sehingga Islam itu isinya bukan hanya perintah dan larangan, tetapi juga petunjuk-petunjuk tentang kehidupan,” imbuhnya.
Menurutnya, jika memahami Islam hanya pada sisi perintah dan larangan, akan menjadikan Islam itu hanya sebagai agama hukum dan melihat realitas itu secara hitam-putih. Haedar mengatakan bahwa, tidak bisa semua hal dijadikan absolut dan mutlak. Oleh karena itu, juru dakwah dan kader Muhammadiyah didorong menjadi ar-rasikhuna fil ilm (berilmu yang mendalam).
Pendalaman ilmu akan membawa kebaikan di dunia dan akhirat sehingga orang beragama Islam tidak hanya mengejar akhirat dan melupakan dunianya, melainkan harus seimbang antara dunia dan akhiratnya. Sebab, dunia adalah mazra’atul akhirah atau ladang pendidikan bagi kehidupan akhirat.***












