Muhammadiyah Beramar Makruf Nahi Munkar Lewat Amal Usaha

oleh -
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir.

BANDUNGMU.COM – Mengisi Kuliah Umum daring STKIP Muhammadiyah Kuningan, Jumat (16/7), Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menjelaskan bahwa Kiai Ahmad Dahlan berpandangan Alquran bukan untuk dihafal, melainkan untuk diamalkan.

“Kita saat itu kan terbelakang bahkan memahami agama pun terbatas sekali pada oral, pada literal saja. Contohnya pada surah Al-Ma’un. Al-Ma’un itu kan sudah ratusan tahun di Indonesia menjadi hafalan, dibaca sebagai surah dalam salat, tapi tidak melahirkan pergerakan. Maka Kiai Dahlan mengajarkan itu selama tiga bulan. Betapa anehnya seorang Dahlan mengajarkan tujuh ayat itu sampai tiga bulan,” tutur Haedar, seperti dikutip dari laman resmi Muhammadiyah.

Bukan hanya Al-Ma’un, Kiai Dahlan juga mengulang-ulang pelajaran surah Al-Ashr selama delapan bulan. Menurut Haedar, Kiai Dahlan sengaja mengajar untuk menunggu murid-muridnya protes. Setelah mereka protes, barulah Kiai Dahlan memberikan jawaban untuk menggugah kesadaran mereka.

Berdirinya ribuan amal usaha (Aum) Muhammadiyah di bidang pendidikan, sosial, dan kesehatan saat ini, menurut Haedar, adalah hasil jawaban dari para murid Kiai Dahlan. Tidak hanya sebagai pandangan keagamaan, pendirian amal usaha menurut Haedar menjadi cara Muhammadiyah melakukan amar makruf nahi munkar.

“Poin pentingnya apa? Banyak orang menghafal Alquran menjadi kebanggaan dan itu baik. Itu ibadah. Dan Alquran dibaca dalam surat itu ibadah. Tetapi tidak cukup. Ayat itu harus ditanya apa tujuannya. Oh ayat ini berbicara tentang pembelaan terhadap kaum miskin, kaum lemah, bukan dengan retorika,” kata Haedar.

“Ada kan yang juga teriak, kritik sana, kritik sini, tapi tidak berbuat gitu kan? Nah Muhammadiyah adalah dengan perbuatan, maka itulah amal usaha. Buka pendidikan karena masih banyak yang bodoh, sudah ada pesantren, tapi saat itu kan yang dipelajari adalah soal agama dalam pengertian terbatas. Maka Kiai Dahlan mengubah cara berpikir dan sistem pendidikan menjadi sistem pendidikan Islam modern. Agama diajarkan, ilmu pengetahuan diajarkan, agama pun komprehensif, dan kemudian melahirkan paham Islam dalam Muhammadiyah,” jelasnya.

“Sehingga dari situlah kemudian lahir generasi muslim terpelajar yang baik tapi ilmu pikirannya maju. Punya keahlian dan akhirnya apa? bisa berbuat untuk mengangkat dirinya, keluarganya, bahkan masyarakat, itulah Islam yang disebut dengan Islam berkemajuan Islam yang unggulan berdaya saing,” tambah Haedar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *