Opini

Nuzulul Qur’an, Momentum Revolusi Pemikiran Yang Terbarukan

×

Nuzulul Qur’an, Momentum Revolusi Pemikiran Yang Terbarukan

Sebarkan artikel ini

Oleh: Ace Somantri*

Tidak asing di telinga umat muslim, hampir dipastikan pada mengetahui bahwa Al-Qur’an pertama kali diturunkan pada bulan Ramadhan sehingga dikenal sangat populer sebagai Syahrul Qur’an.

Cukup penting dimafhumi oleh semua umat muslim yang beriman, momentum turunnya Al-Qur’an tidak sekadar simbolik peristiwa sakral, melainkan wajib dijadikan sebuah pemahaman yang lebih dalam maknanya.

Seiring waktu terlewati dari generasi ke generasi, pemberitahuan turunnya Al-Qur’an di bulan Ramadhan bukan sekadar berhenti sebatas informasi.

Hal itu sudah tercatat secara tekstual dalam ayat maupun hadis-hadis serta ribuan literatur berbagai bahasa yang tersebar di seluruh pelosok negeri di dunia.

Setiap bulan ramadhan, pasti akan ada narasi berkaitan tentang bulan tersebut sebagai bulan Syahrul Qur’an.

Hanya saja, saat masuk pada fase khusus informasi demikian cukup dalam hitungan detik browsing pada laman platform digital Google akan muncul relatif lengkap. Bahkan lebih lengkap dari apa yang disampaikan ustadz-ustadz dalam forum mimbar.

Ada yang lebih penting menjadi kesadaran yang harus dipenetrasikan kepada masyarakat muslim tanpa kecuali, bahwa alam Al-Qur’an bukan sebatas ayat-ayat yang berhenti dibaca secara tartil dari teks ayat-ayat tertulis dalam mushaf.

Bukan pula berhenti membaca dengan rajin mengejar pada jumlah banyak dan sedikitnya dari juz ke juz, sementara satu ayat pun tidak dikaji secara mendalam apa maksud, tujuan dan orientasi dari setiap ayat yang dikaji.

Momentum ramadhan dipastikan sudah berabad-abad dilewati oleh setiap generasi. Hanya saja, disaat generasi siapa dan kapan ada loncatan pemahaman yang brilian, unik dan menarik untuk dibumikan hingga manusia mampu menangkap secara jelas dan pandai mengaplikasikan dalam kehidupan nyata.

Baca Juga:  Drama Al-Zaytun: Isu Klasik Atau Jebakan Yang Mengecoh?

Istilah revolusi sangat familiar di telinga para pelajar di mana pun. Begitupun dalam narasi revolusi pemikiran bukan hal baru dalam dinamika keilmuan yang berkembang.

Pergeseran atau perubahan total pemikiran tertentu dalam menafsirkan dan memaknai setiap teks yang tertulis, apa maksud dan tujuannya hingga mampu menjawab persoalan yang muncul di hadapan mata.

Bukan mengulang-ulang makna dan tafsir yang sudah tidak relevan dengan dinamika kehidupan manusia yang berujung pada pemahaman yang stagnan tidak berkemajuan dan memajukan.

Stagnasi pemahaman bukan tidak menggunakan pendapat ahli atau ulama masa lampau. Untuk rujukan sangat wajib dan penting sebagai dasar untuk menemukan makna lain yang dianggap “up to date” sesuai dinamika zaman.

Bukan pula ajaran Islam mengikuti dinamika dengan pemaknaan sempit yang seolah-olah ajaran menyesuaikan kehendak perilaku manusia.

Justru ajaran Islam harus dapat dipahami oleh para ahli untuk memberi paham kepada manusia atas legitimasi dari teks utama.

Mereka para ilmuwan atau ulama saat itu pada masanya secara faktual melakukan revolusi pemikiran yang sangat kontekstual.

Sebagaimana Al-Alim Imam Asy-Syafii memiliki hasil pemikirannya sangat dikenal hingga saat ini dengan sebutan “qaul qodim” atau pendapat lama dan “qaul jadid” atau pendapat baru.

Bukti nyata, mereka pada masanya sudah melakukannya dekonstruksi ajaran Islam sesuai dinamika kehidupan manusia. Sampai mereka mampu membuat beberapa hasil karya pemikiran dan riset yang relatif dapat dijadikan rujukan cukup lama.

Sehingga momentum Ramadhan selain sebagai simbol sakral turunnya Al-Qur’an, juga harus menjadi simbol revolusi pemikiran dalam Islam. Pasalnya ayat-ayat yang pertama diturunkan merupakan isyarat perintah terhadap manusia untuk berpikir revolusioner yang memajukan.

Baca Juga:  Prodi PAI UM Bandung Siapkan Generasi Berkemajuan Melalui MATA MAPA 2024

Pemaknaan perintah teks kata iqra atau membaca dan kalimat ayat berikutnya ‘allama bil qalam” menandakan proses yang wajib dilakukan manusia untuk berpikir kreatif dan inovatif.

Faktanya, setelah Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama ada proses perubahan mendasar yang progresif dan akseleratif dalam melakukan perubahan dinamika gerakan di masyarakat hingga mampu membawa peradaban Islam mendunia dan melegenda.

Dapat dipastikan tiada satu pun tokoh umat manusia di alam semesta setelah beliau yang mampu menandingi gerakan revolusi pemikiran yang berwujud pada gerakan perubahan masyarakat.

Kita umatnya, saat berpikir bahwa benar tidak mungkin mampu menyamai atau menyerupai apa yang dilakukan beliau baginda Rasulullah. Paling tidak kita meyakini akan simbol wahyu Ilahi pertama sebagai simbol lahirnya gerakan revolusi berpikir manusia untuk sebuah perubahan mendasar dan cepat kearah kondisi yang lebih baik.

Sebagai umat manusia yang berakal sehat, memaknai Nuzulul Qur’an selama ini berulang-ulang dengan rutin hanya lebih bersifat reflektif seremonial semata. Hanya memberi pesan informatif kepada umat muslim.

Padahal, sebaiknya dalam satu akumulasi pemikiran pada momentum nuzulul Qur’an melahirkan sebuah hasil karya berpikir bersama untuk gerakan perubahan paradigmatik bersifat revolusioner kawah candradimuka.

Perubahan itu yang menyimbolkan sebuah gagasan keterbaruan sebagai tambahan sumber ilmu pengetahuan sains maupun teknologi kekinian dalam beberapa jenis produk yang belum pernah ada di muka bumi.

Kita menengok jauh dari jangkauan mata, walaupun tidak ada hubungannya dengan nuzulul Qur’an secara tidak langsung, tetapi nalar akal mampu melihat dibalik peristiwa tersebut.

Baca Juga:  AI dan Konsep Diri yang Berkepedulian dan Berkemanfaatan

Peristiwa dan dinamika perang Iran versus Amerika feat Israel, ada secuil ibrah yang patut diapresiasi secara kasar dan subjektif.

Pandangan masyarakat dunia terhadap umat muslimin cenderung meremehkan dalam perkembangan sains dan teknologi di era global.

Hampir dipastikan dalam satu abad ini, klaim negara-negara yang merasa maju peradabannya telah menunjukkan hasil pemikiran dan temuan-temuannya di berbagai bidang ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi yang pada umumnya negara tidak mampu melakukannya.

Sebut saja negara Jerman, Rusia, Amerika Serikat, Inggris dan Perancis dan juga negara Asia seperti negara China dan Jepang. Sementara sedikit lebih maju negara muslim di antaranya hanya Turki dan Iran. Negara lainnya masih jauh dari maju.

Tanpa diduga dan di luar prediksi, momentum perang Iran versus Israel feat Amerika di bulan Ramadhan telah mencatat sejarah dunia.

Negara muslim Iran menunjukkan kemampuan hasil karya yang monumental tidak dimiliki negara-negara kebanyakan.

Bahkan diprediksi negara-negara yang mengklaim maju pun tidak memiliki kemampuan hal demikian.

Teknologi canggih milik Israel dan Amerika hancur tak berdaya. Padahal sebelumnya diklaim berteknologi tinggi hingga mampu menangkal jenis apa pun rudal. Fakta dan realitanya Iran mampu memporak-porandakan tanpa ampun.

Tentara Israel dan Amerika pun kelimpungan. Apalagi tentara negara muslim seperti Kuwait hingga salah tembak pesawat jet tempur.

Hal itu bukti nyata Iran mempertunjukan hasil karya teknologi  monumental dari revolusi sains dan pemikiran yang mampu mengubah keadaan seketika dengan cepat.

Semoga perdamaian segera terwujud, negara congkak dan sombong segera menyadari kelemahannya. Wallahu’alam.

*Wakil Ketua PWM Jawa Barat