UMBandung
Opini

Pengelolaan Amal Usaha Muhammadiyah, Antara Visioner dan Berkemajuan

×

Pengelolaan Amal Usaha Muhammadiyah, Antara Visioner dan Berkemajuan

Sebarkan artikel ini
Ace Somantri

Oleh: Ace Somantri

BANDUNGMU.COM — Puluhan ribu amal usaha Muhammadiyah tersebar ke berbagai plosok negeri. Tidak mengenal batas ruang antar kota dalam provinsi, termasuk batas bangsa dan negara dibelahan dunia.

Waktu berganti yang tidak akan pernah dilewati kembali. Semakin terus bertambah amal usaha semakin bertambah pula kebaikan yang didapat oleh Muhammadiyah.

Begitupun Kiai Dahlan, para sahabat, dan santrinya yang telah berjuang dengan tetesan darah pengorbanan jiwa dan raga.

Kita hari ini hanya meneruskan dan menikmati karya-karya mereka yang telah mendahului kita bertemu IIlahi Rabbi.

Sejauh manakah kreativitas dan inovasi kita menjalankan dakwah islamiah yang dikemas dalam entitas Muhammadiyah.

Sejauh mana juga menyusun cara yang jitu juga tepat sasaran dari gagasan Kiai Dahlan untuk menyebar dan menebar gerakan amar makruf nahi munkar.

Dengan sistem aplikasi yang dirancang dengan algoritma dari Al-Maun hingga lahir sebuah aplikasi schooling, feeding dan healing telah menjadi trade mark Muhammadiyah.

Setelah Kiai Dahlan dan generasinya kembali kepada Allah SWT, sudahkah kita membuat gerakan dakwah islamiah dengan metode jitu yang sesuai dengan tuntutan zaman?

Generasi kita selama ini, setelah para funding fathers dan generasinya berganti, sejatinya punya metode dan cara yang lebih kreatif dan inovatif.

Kenapa? Para generasi awal Muhammadiyah harus menghadapi kondisi negeri yang belum merdeka dan tidak aman sehingga tidak leluasa dalam bergerak.

Sementara itu, generasi kita saat ini semuanya nyaris ada. Begitupun bangsa dan negara ini banyak memfasilitasi Persyarikatan selama kita mampu bernegosiasi dengan baik.

Sangat keterlaluan jikalau sebagai penggerak, kita hanya menikmati apa yang sudah ada. Stagnan tidak ada inovasi gerakan yang lebih menggebrak.

Bahkan lebih parah lagi kita bermuhammadiyah dengan perilaku buruk. Menjalankan Muhammadiyah hanya sekadarnya dan kemudian menikmati gaji dari AUM.

Bahkan dapat juga dikatakan zalim manakala orang-orang yang berjasa terhadap kemajuan Muhammadiyah diabaikan dan tidak dihargai. Lebih parah lagi malahan dibunuh karakternya.

Hal seperti itu kadang-kadang tidak disadari oleh para pihak yang berada dalam lingkungan Muhammadiyah. Mereka santai-santai saja seakan-akan tidak terjadi.

Allah SWT sebagai pemilik alam semesta, Maha Mendengar, Melihat, dan Maha Adil kepada mahluk-Nya tanpa ada sudut pandang berbeda.

Baca Juga:  Lailatul Qadar, Kepekaan Sosial, dan Lebaran

Justru diri kita selalu melihat dalam sudut pandang berbeda-beda dengan diselimuti ketidaksukaan dan kepentingan yang bersifat sesaat.

Sangat mungkin reputasi yang diterima bergantung pada nilai orientasi dan bobot kepentingan yang mungkin saja bernilai baik, bahkan sangat memungkinkan bernilai buruk.

Sama halnya Muhammadiyah secara umum sudah memiliki reputasi dan marwah yang sangat istimewa. Lain halnya dalam konteks lokal pada jenjang level struktur di tingkat wilayah dan daerah yang sangat bervariatif.

Kondisi setiap persyarikatan tingkat wilayah, daerah, dan cabang akan terlihat dari keberadaan jumlah AUM dan kondisi objektif sehatnya sebuah performa entitas.

Harga yang tidak dapat ditawar bahwa pengawasan, pembinaan, pengendalian yang berkeadilan terhadap gerak laju AUM di mana pun berada harus selalu dijalankan.

Berat dan memang membebankan jikalau pembinaan AUM dilakukan dengan standardisasi yang tidak rasional dan realistis.

Pengelolaan atau manajerial AUM dengan sumber daya yang swadaya, secara kasatmata akan berbeda jauh dibandingkan dengan institusi milik negara yang sumber dayanya dipenuhi maksimal.

Sangat keterlaluan institusi milik negara tidak memiliki posisi tawar tinggi. Namun, jikalau instiusi amal usaha swadaya seperti Muhammadiyah melebihi dari milik negara, itu menunjukkan bahwa posisi tawar Muhammadiyah memiliki reputasi yang hebat.

Sehingga visi berkemajuan yang menjadi slogan Muhammadiyah benar-benar menjadi keteladanan entitas lainnya.

Pengawasan bukan hanya datang untuk melihat dan monitoring biasa tanpa ada data yang didapat. Seharusnya saat dan setelah pengawasan ada data yang dapat dijadikan pertimbangan untuk perbaikan dan peningkatan mutu AUM.

Diharapakan saat pembinaan bukan sekedar ceramah dan pidato dengan materi harus begini dan begitu tanpa ada alasan rasionalitas dan objektivitas kebutuhan realitas sebenarnya.

Sia-sia waktu dan materi yang dikeluarkan jikalau output-nya hanya memenuhi administarasi data tertulis ada pembinaan.

Bertahun-tahun pola pembinaan AUM pada umumnya cenderung monoton. Tidak kreatif dan juga inovatif.

Sustainibility pembinaan tidak terjenjang dan kurang terarah. Hal itu karena saat setiap pembinaan berlangsung selanjutnya hasil dan output dari dampak kegiatan tersebut tidak dievaluasi secara sistemik.

Bagaimana implementasinya? Di antaranya bagaimana bentuk pembinaan yang visioner dalam mengevaluasi dan meningkatkan mutu AUM di berbagai bidang. Misalnya melakukan penguatan kompetensi leadership yang tersertifikasi.

Baca Juga:  Jejak Muhammadiyah dalam Emas Sepakbola SEA Games 2023

Hal tersebut bukan sekedar pelatihan kepemimpinan untuk memenuhi persyaratan administrasi yang dipaksakan.

Namun, ada keterbukaan, kejujuran, dan keadilan. Tentu saja yang berorientasi pada keahlian dan leadership skill yang memiliki kemampuan mempengaruhi dan menggerakan untuk memobilisasi potensi kekuatan menjadi modal dasar keunggulan dan daya saing.

Sinkronisasi sistem “by doing” memang tidak mudah. Namun, dapat dijalankan dengan baik selama ada komitmen dari perencanaan yang terstruktur.

Leadership skill berkarakter menjadi hal mutlak yang dimiliki oleh pimpinan satuan AUM. Jikalau hal tersebut dilewati dan tidak diprioritaskan, jangankan berharap AUM akan maju.

Malah yang ada AUM akan menjadi beban yang memberatkan, memilukan, dan memprihatinkan sehingga mendatangkan madarat bagi Muhammadiyah.

Selain kesadaran akan komitmen terhadap perencanaan dan juga leadership skill, Muhammadiyah sebagai induk melalui majelis dan lembaga terkait memiliki akselerasi program yang tidak terlalu normatif tekstual.

Muhammadiyah sejatinya bisa “out of the box” berdasarkan tuntutan user agar lebih kekinian sesuai dengan kondisi hari ini dan kebutuhan masa depan.

Kemampuan untuk mempercepat gerak laju AUM agar bisa beradaptasi dengan era digital global, misalnya, berbagai cara dan strategi jitu harus segera diusahakan dengan keras dan cerdas.

Jikalau sekedar jalan apa adanya, pergantian periodisasi pimpinan AUM masih ada intervensi politis persyarikatan, baik dengan cara memilih dan mengangkat atas dasar pesanan atau  menghadirkan sumber daya manusia yang didrop atau didatangkan dari luar.

Mendatangkan SDM dari AUM lain dengan alasan bahwa di internal tidak ada SDM yang kompeten, itu adalah alasan “semu” yang dibuat-buat karena kebutaan dan ketulian hati yang terbungkus karena like and dislike.

Andaikan sikap-sikap tersebut masih dijalankan, harapan AUM maju hanya keinginan dalam kata.

Bahkan sangat memungkinkan bisa membahayakan karena jadi budaya buruk kepada satuan AUM sehingga membuat suasana kinerja yang kondusif terganggu.

Kekayaan yang dimiliki lingkungan masyarakat super kaya, termasuk komunitas Muhammadiyah tidak diragukan keberadaanya.

Hanya bagaimana individu kepemimpinan memiliki komitmen memanfaatkan kekayaan yang tersebut.

Berpikir kreatif dan inovatif akan memberikan kekuatan tersendiri dalam membangun sinergitas dan kolaborasi dalam membangun kemajuan satuan AUM.

Baca Juga:  Moch Sugilaksono Raih Medali Emas dan Perak dalam Olimpiade Sains Tingkat Nasional

Tidak ada alasan saat minimal anggaran hanya mengandalkan dengan menunggu diberikan atau suporting dari donasi induk persyarikatan dan dari masyarakat.

Pimpinan satuan AUM sebaiknya memiliki cara berpikir out of the box yang mampu mendatangkan tanpa menunggu diberi atau memposisikan tangan di bawah.

Mengkapitalisasi lingkungan dengan aneka ragam diversity hayati, baik daratan maupun lautan, masih hanya dalam catatan kertas sebuah buku dan jurnal-jurnal ilmiah.

Sementara itu, memanfaatkan dan mengelola untuk dijadikan sebagai sumber material yang dapat mendatangkan pundi-pundi finansial tampaknya lebih banyak “bengong”.

Kita hanya berdiam diri karena tidak tahu caranya menggali dan mencari sesuatu yang baru. Kita tidak tahu mulai dari mana melakukannya.

Leadership skill bukan karena kesalehan atau religiusitas semu yang tampak terlihat dalam visual permukaan. Namun, kesalehan yang banyak mendatangkan manfaat pada orang, masyarakat, dan lingkungan sekitar.

Karya-karya berpikir tidak berhenti dalam jurnal-jurnal, buku, ataupun artikel-artikel yang bahasanya cenderung “langitan” dan cenderung sulit dipahami.

Lebih parahnnya lagi semua itu tidak banyak manfaat terhadap keberlangsungan institusi sosial, baik satuan AUM maupun kehidupan masyarakat luas.

Artinya, dari segala fenomena yang muncul dalam dinamika, AUM terkesan stagnan. Bahkan, secara tidak sadari mengalami kondisi menuju pailit atau menuju kebangkrutan.

Hal itu semua akibat budaya lingkungan kepemimpinan yang tidak profesional atau buruk. Jualan istilah saleh dan ikhlas sering disalahartikan.

Kadang-kadang profesionalitas tidak dimaknai sebuah keikhlasan. Sementara itu, kepemimpinan hanya sekedarnya.

Hal yang penting bagi mereka adalah tidak nekoneko, tidak kritis, asal bapak senang, ikut arus pimpinan di atas, tidak bersikap melawan budaya orang tua. Mereka juga tidak speak up terhadap kebijakan-kebijakan kontrovesial.

Sikap-sikap tersebut lebih disukai dan diminati dengan alasan profil lebih “aman” oleh pemegang kebijakan yang memiliki hak dan wewenang untuk keberlangsungan kepemimpinan satuan AUM.

Benar atau tidaknya realitas tersebut, kembali kepada kejujuran hati secara individu maupun sikap keterbukaan objektif yang kolektif.

Hal itu juga tidak semua tempat terjadi. Namun, saat satuan AUM mundur, biasanya sikap-sikap demikian mendominasi dalam gerak laju eksistensi AUM yang dikelola. Wallahu’alam.***

PMB UM Bandung