Perbedaan Musibah dan Azab

oleh -
Ilustrasi

BANDUNGMU.COM — Dalam Alquran dan Hadis, kata “bencana” dapat ditemukan dalam istilah yang bervariasi, salah duanya ialah musibah dan azab. Dalam buku Fikih Kebencanaan yang telah ditanfidz Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada 2015 dijelaskan apa itu musibah dan azab.

Pengertian Musibah

Kata muṣībah (Indonesia: musibah) berasal dari kata a-ṣāba yang berarti sesuatu yang menimpa kita. Kata muṣībah dalam Alquran secara umum mengacu pada sesuatu yang netral, tidak negatif atau positif, sekalipun terdapat beberapa ayat yang mengaitkan dengan sesuatu yang negatif.

Kata musibah dalam bahasa Indonesia selalu dikaitkan dengan semua peristiwa yang menyakitkan, menyengsarakan, dan bernilai negatif yang menimpa manusia. Musibah dalam konteks ini merupakan peristiwa yang menimpa manusia, baik yang berasal dari peristiwa alam maupun sosial.

Dalam istilah Alquran, apa saja yang menimpa manusia disebut dengan “musibah”, baik yang berwujud kebaikan maupun keburukan bagi manusia (QS Al Hadid: 22-23).

Allah juga menjelaskan bahwa jika “musibah” yang berupa kebaikan, maka hal itu berasal dari Allah, dan bila “musibah” berupa keburukan–yang kemudian disebut dengan bencana, maka karena perbuatan manusia sendiri (QS An Nisa: 79).

Baca Juga:  Tidak Semua Diwajibkan Puasa Ramadan

Alquran juga secara jelas dan sempurna menguraikan bahwa tidak semua musibah adalah bencana. Musibah yang disebut bencana dan bermakna negatif adalah musibah yang mendatangkan keburukan bagi manusia dan hal itu merupakan hasil dari perbuatan manusia sendiri juga, bukan dari Allah, meskipun secara kasat mata musibah itu terjadi di alam (QS Ghafir: 30).

Ketika musibah diartikan dengan penilaian yang negatif (mendatangkan keburukan), manusia dianjurkan untuk memaknainya dengan mengembalikan “esensi” peristiwanya kepada Allah.

Dengan demikian, dalam konteks ini, manusia harus menyadari sepenuhnya bahwa dirinya hanyalah “pelaku dan penerima” cobaan Allah berupa sesuatu yang dinilai tidak baik tersebut (QS Al Baqarah: 156).

Dengan memahami arti kata musibah seperti itu, musibah yang bernilai negatif merupakan salah satu cobaan dan ujian yang berupa keburukan. Dalam Alquran, cobaan dan ujian tersebut disebut dengan istilah balā’ (QS Al Baqarah: 155).

Baca Juga:  Mengharukan! Jalan Terjal Dai 3T Muhammadiyah, Ditolak hingga Ditangkap Aparat

Di samping berfungsi sebagai ujian dan cobaan yang berupa keburukan, balā’ juga merupakan ujian dan cobaan yang berupa kebaikan.

Pengertian Azab

Kata ‘ażāb berasal dari kata ‘a-ża-ba yang artinya sangat bervariasi sesuai dengan konteksnya. ‘Ażāb bisa bermakna sesuatu yang membuat tersiksa sebagaimana dalam hadis: Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda: “Safar adalah bagian dari siksa. (Ketika safar) salah seorang dari kalian akan terhalang (sulit) makan, minum, dan tidur. Maka, jika urusannya telah selesai, bersegeralah kembali kepada keluarganya” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Namun ketika kata ‘ażāb dikaitkan dengan berbagai peristiwa yang menimpa manusia, kata ‘ażāb berarti siksaan. Berbagai peristiwa yang menimpa manusia karena perbuatan yang melanggar ketetapan Allah disebut dengan ‘ażāb, baik yang berdampak besar maupun kecil (QS Ad Dukhan: 15-16).

Dengan memperhatikan makna kata’ażāb di atas, peristiwa-peristiwa yang merupakan ‘ażāb berasal dari luar diri manusia atau dalam diri manusia yang berfungsi sebagai ancaman dan hukuman bagi perbuatan manusia yang melanggar ketetapan Allah.

Baca Juga:  Perempuan Bukan Objek Seksual!

Peristiwa yang masuk dalam kategori ‘ażāb dapat berupa peristiwa alam yang dahsyat seperti tsunami, tanah longsor, banjir, gunung meletus, dan gempa bumi, ataupun berupa peristiwa sosial yang besar seperti peperangan dan ancaman sosial lainnya yang berfungsi sebagai peringatan agar manusia kembali pada ketetapan Allah (QS Al Sajdah: 21-22).

Dengan memperhatikan penjelasan di atas, kata ‘ażāb mengacu pada peristiwa akibat kesalahan manusia dalam menjalani kehidupan dan berinteraksi dengan manusia lain dan alam.

Peristiwa-peristiwa itu bukan merupakan bencana karena berbagai peristiwa pasti akan terjadi. Namun, ketika manusia tidak memperhitungkan risiko yang akan ditimbulkan oleh peristiwa tersebut, manusia akan mengalami bencana.

Dengan demikian, kesalahan manusia terletak pada tidak dapat memperhitungkan dengan seksama risiko yang dapat ditimbulkan oleh berbagai peristiwa dahsyat tersebut.

Oleh karena itu, sebagian ‘ażāb merupakan bencana bagi manusia yang melakukan kesalahan, yakni salah memperhitungkan faktor risiko dari peristiwa alam yang dahsyat itu.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *