Komarudin Kudiya, Antara Pengusaha Batik dan Dosen

oleh -
Komarudin Kudiya (kiri). Foto: Dok. Bandungmu.com.

BANDUNGMU.COM – Kerja keras dan doa yang konsisten kepada Tuhan tidak akan pernah mengkhianati hasil. Tuhan tidak pernah abai terhadap usaha, keinginan, dan kerja keras para  hamba-Nya untuk meraih keberhasilan serta kesuksesan.

Keberhasilan itulah yang diraih oleh pengusaha batik terkenal sekaligus dosen Universitas Muhammadiyah Bandung (UMBandung) dan Institut Teknologi Bandung (ITB). Dr. Komarudin Kudiya, M.Ds.

Dunia batik sudah tidak asing lagi dalam kehidupan sosok ramah yang satu ini. Dari lahir sampai menjadi sosok inspiratif pada hari ini, hari-harinya tidak lepas dari batik. Dari batik jugalah sosok ini dikenal luas oleh masyarakat Indonesia sebagai ahli dalam bidang pakaian khas Indonesia yang sudah diakui dunia internasional tersebut.

Terlahir dari keluarga yang memiliki usaha kerajinan batik tradisional di Cirebon, Jawa Barat, banyak memberikan andil besar terhadap kiprahnya dalam usaha batik yang juga sukses dengan nama “Batik Komar”. Lingkunganlah yang membentuk bagaimana sosok yang satu ini berhasil meraih kesuksesan.

Pria yang akrab dipanggil Komar tersebut lahir di Desa Trusmi, Kecamatan Plered, Kota Cirebon, pada 1968.

Sang ayah berpesan kepada Komar agar dia tidak meneruskan profesi ayahnya sebagai pedagang batik karena kondisi batik pada saat itu sedang kurang baik. Komar diharapkan bisa meneruskan pendidikannya ke perguruan tinggi.

Hingga pada akhirnya, Komar pun menuruti nasihat ayahnya dan sukses menjalankan dua hal penting dalam hidupnya, yaitu menjadi dosen dan sekaligus pengusaha batik yang sukses serta dikenal oleh masyarakat luas sampai hari ini.

Ia mendirikan batik komar pada 1998 bersama sang istri yang sama-sama memilki talent yang sama dengan dirinya.

”Ya alhamdulillah boleh dikatakan karena adanya chemistry dengan istri, akhirnya kita membangun batik Komar ini,” ucap Komar pada acara ”Sosok Inspiratif” di Channel Youtube Universitas Muhammadiyah Bandung, belum lama ini.

Komar membangung usahanya itu bukan di di kota kelahirannya, Cirebon, melainkan di Kota Bandung. Kota ini juga merupakan kota di mana Komar menyelesaikan pendidikannya. Pada awalnya, Komar mendirikan usaha batik hanya berbekal karyawan tiga orang.

Namun, lambat laun usaha itu mulai berkembang dan mapan hingga hari ini. Semuanya berkat usaha yang gigih dan konsistensi dalam menjalankan usaha.

”Jadi batik komar itu lahir besarnya di Bandung. Nah kenapa di Bandung? Karena saya kuliah atau studinya memang di Bandung di Universitas Padjadjaran D3 dan S1-nya, kemudian terus sampai berkembang S2 dan S3-nya saya selesaikan di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB,” lanjutnya.

Selain karena pengaruh dari pertemuannya dengan seniman-seniman terkenal dan dosennya, Komar memilki talenta dalam menggambar serta bakat berdagang dari kedua orang tuanya. Jadi, tidak mengherankan kalau Komar bisa dikatakan sebagai sosok yang terbilang lengkap dalam kemampuna, ya pengajar ya pengusaha.

Salah satu presetasinya ialah membuat karya monumental yaitu batik terpanjang di dunia dari bahan sutra dengan panjang 500 M tanpa sambungan, 112 komposisi warna, 407 motif, dan digelar melingkari Gedung Sate.

”Hal-hal yang seperti itu tuh belum pernah terjadi. Jadi saya membuat karya-karya monumental di samping karya-karya yang bisa kita jual terus-menerus gitu ya. Jadi jarang membuat produk-produk yang masif atau umum gitu,” jelas Komar.

“Batik Komar” sudah melakukan pameran hampir ke berbagai kota di Indonesia, seperti Bandung, Jakarta, sampai pelosok di beberapa kota, bahkan hingga ke mancanegara.

”Kita sudah boleh dikatakan hampir seluruh benua saya sudah mengikuti pameran-pameran batik,” ujarnya.

Dibandingkan dengan bisnis kuliner yang pernah ia jalani, Komar lebih memilih usaha batik. Alasannya karena barangnya tetap utuh dari tahun ke tahun dan harganya pun kadang-kadang semakin mahal.

”Coba saja kita lihat batik-batik yang sudah kuno itu sekarang, harganya sudah sangat luar biasa sehingga hal tersebut bisa punya nilai investasi juga,” tutur Komar.

Lebih lengkap mengenai Komarudin Kudiya, silakan klik channel Youtube UMBandung di atas.

Ia berpendapat bahwa karya batik yang diciptakannya itu harus memiliki nilai keunggulan, nilai estetik, dan juga keunikan. Tidak semata-mata menghasilkan karya batik biasa, tetapi harus punya nilai-nilai yang lebih.

Jika menjual yang sifatnya hanya umum-umum saja, menurut Komar, nilai tambah yang dimiliki batik tidak seberapa. Penulis buku “Kreativitas dalam Desain Batik” ini selalu menampilkan desan-desain batik terbaru, dan unik sehingga banyak digemari masyarakat.

Selain itu, pria yang menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Pengrajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI) ini merasa berkesan karena bergabung dengan Prodi Kriya Tekstil dan Fashion UMBandung.

Bagi Komar, mengajar bukanlah sekadar bertemu dengan mahasiswa di kampus, melainkan mengajar dipandang salah satu cara yang paling baik dalam berbagai ilmu. Di samping itu pula nilai ibadah dirinya semakin bertambah baik.

”Untuk mencapai kesuksesan, satu-satunya jalan yang harus ditempuh adalah dengan ilmu yang memang diminati,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *