Oleh: Ace Somantri*
ERA global digital terus melaju tanpa bisa dibendung lagi. Disrupsi pada berbagai sektor produksi menghantam keras dan tidak memberikan ruang kompromi.
Para praktisi pendidikan berupaya memberikan pandangan untuk menyikapi disrupsi dengan hati-hati. Mereka ingin tetap berada dalam kendali agar tidak hanyut oleh perubahan.
Banyak produsen tidak mampu bertahan menghadapi dampak disrupsi yang terus meluas. Akibatnya, perlahan-lahan mereka tumbang tanpa sempat melakukan penyesuaian.
Robot AI kini menjadi primadona dalam dunia maya. Kehadirannya ternyata mampu memangkas birokrasi dalam berbagai layanan yang sebelumnya dipegang manusia.
Beberapa negara telah menjalankan industri berbasis AI sejak puluhan tahun lalu. Kini umat manusia berada dalam jebakan teknologi yang mereka ciptakan sendiri.
Memengarui kualitas lulusan
Suka tidak suka, AI perlahan menyatu dalam kehidupan manusia tanpa disadari. Di Indonesia, revolusi industri dan disrupsi masih sebatas euforia dan wacana yang belum jelas eksekusinya.
Dunia pendidikan Indonesia pun mulai goyah menghadapi tantangan yang krusial ini. Dari tingkat dasar hingga menengah, gejolaknya memengaruhi kualitas lulusan secara nyata.
Kesiapan negara dan masyarakat terlihat kabur tanpa arah yang pasti. Hal ini terjadi karena pelaku industri belum menyiapkan sistem teknologi yang mampu bersaing.
Hal yang lebih memilukan, sektor pendidikan justru menjadi ajang korupsi saat disrupsi seharusnya diantisipasi. Dalam satu periode terakhir, pendidikan nyaris hanya dijadikan alat kepentingan, bukan pembangunan.
Robot AI telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan generasi masa kini. Dengan beragam aplikasi, robotik mampu mengeksekusi tugas secara instan dan efisien dalam sistem manajemen industri.
Siapa pun yang tidak memanfaatkan teknologi akan tertinggal dan menghadapi risiko kebangkrutan. Hal itu terjadi karena sistem manajemen mereka boros dalam penggunaan sumber daya dan anggaran.
Menurut sejumlah informasi, penggunaan robot AI mampu memangkas hingga 60 persen kebutuhan manajemen. Dunia pendidikan pun jika tidak memanfaatkannya, akan terbebani sumber daya dan terganggu kesejahteraannya akibat arus kas yang tidak sehat.
Dalam dekade ini, dampak disrupsi akibat robot AI terasa sangat nyata di semua sektor industri. Banyak pelaku usaha barang dan jasa yang bangkrut dan tidak mampu bangkit kembali.
Hanya mereka yang berani mengubah paradigma secara radikal yang bisa bertahan. Sistem manajemen harus dirombak total agar tetap relevan dan produktif.
Risiko dan konsekuensi dari perubahan tersebut harus diterima demi keberlangsungan produksi. Keberanian untuk bertransformasi menjadi kunci kelangsungan hidup industri.
Kehancuran permanen
Hal yang sama juga mulai terjadi di dunia pendidikan saat ini. Tanpa perubahan mendasar, institusi pendidikan hanya menunggu waktu menuju kehancuran permanen.
Saat ini, dunia pendidikan Indonesia tengah berada dalam masa transisi menghadapi disrupsi akibat robot AI. Kebijakan pendidikan pun masih diliputi ambiguitas antara adopsi teknologi atau kembali ke pendekatan tradisional.
Terdapat dilema antara mentransformasi sistem dengan AI atau mempertahankan kekuatan verbal dalam pendidikan. Pendekatan verbal diyakini mampu membentuk kepribadian yang lebih empatik dan antisipatif.
Beberapa negara Eropa bahkan mulai kembali menggunakan buku teks. Digitalisasi pendidikan di sana dikurangi atau bahkan dihentikan sama sekali.
Namun, pilihan tersebut tentu berdampak pada anggaran belanja negara di sektor pendidikan. Setiap pendekatan memiliki konsekuensi fiskal yang harus dipertimbangkan secara matang.
Indonesia tidak boleh berlama-lama dalam situasi yang membingungkan ini. Keputusan strategis tentang arah paradigma pendidikan harus segera ditetapkan.
Pendidikan merupakan fondasi utama bagi masa depan sumber daya manusia. Kualitas sumber daya manusia (SDM) ini akan sangat menentukan arah kemajuan bangsa dan negara ke depan.
Hal penting yang harus dipahami oleh penyelenggara pendidikan adalah bahwa transformasi paradigma pendidikan masa kini harus menjamin output dan outcome yang nyata. Dampaknya harus langsung dirasakan oleh peserta didik dan institusi pendidikan itu sendiri.
Kepuasan pengguna lulusan tidak boleh hanya diukur melalui tracer study yang bersifat administratif. Sejak awal, institusi harus memiliki database minat dan bakat peserta didik serta mencocokkannya dengan kebutuhan dunia kerja.
Satuan pendidikan dasar dan menengah juga perlu memberikan pengetahuan yang relevan. Pengalaman belajar harus seimbang dengan kemampuan dan karakter setiap individu.
Sejak beroperasi di dunia digital, robot AI masih jarang dimanfaatkan secara maksimal. Banyak yang enggan menggunakannya dengan alasan menjaga orisinalitas dan nilai-nilai fundamental dalam berkarya.
Namun, faktanya tanpa disadari banyak entitas justru mengalami masalah hingga menuju kebangkrutan. Pada sisi lain, robot AI telah menjelma menjadi mesin manusia yang bekerja cepat dan akurat.
Sementara itu, kinerja manusia cenderung lebih lambat dan tidak jarang dipenuhi manipulasi. Ketika terjadi kegagalan, robot AI sering dijadikan kambing hitam karena dianggap mengurangi rasa kemanusiaan.
Padahal, dari segi kejujuran dan akurasi, AI justru lebih unggul dibandingkan dengan manusia. Menyalahkannya hanya menjadi pembenaran atas ketidaksiapan menghadapi perubahan besar.
Tanda-tanda pergeseran itu sebenarnya sudah muncul sejak lama sebagai peringatan dini. Namun, banyak yang mengabaikannya hingga akhirnya terjebak dalam perubahan yang tak terelakkan.
Membaca fenomena
Terlepas dari subjektivitas manusia terhadap berbagai peristiwa, semua kembali pada sejauh mana manusia mampu membaca fenomena yang muncul. Dengan begitu, konsekuensi dan dampaknya bisa diantisipasi sejak dini agar cepat bertransformasi sesuai tuntutan zaman.
Hal yang sama berlaku dalam manajemen pendidikan yang harus siap mengubah cara, model, dan pola pengelolaan pembelajaran. Sistem pendidikan perlu menjadi lebih adaptif agar tidak tertinggal oleh perkembangan teknologi.
Robot AI dalam pendidikan akan membawa banyak perubahan dalam model pembelajaran. Pada satu sisi, kehadirannya membantu mempercepat akses terhadap informasi dan pengetahuan.
Namun, pada sisi lain, AI mengubah pola komunikasi dari interaksi verbal langsung menjadi virtual. Hal ini dapat mengikis nilai-nilai emosional seperti empati dan simpati antarindividu.
Manajemen pendidikan harus bersifat dinamis dan terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman. Namun, isi dan proses pembelajaran tetap harus mengedepankan nilai humanisme yang membangun keterikatan sosial dan emosional.
Hal ini sangat penting diperhatikan agar karakter peserta didik terbentuk secara utuh. Jika penggunaan robot AI tidak dibatasi, maka dikhawatirkan akan menggerus rasa kemanusiaan dalam kehidupan sosial.
Lebih jauh, dominasi AI juga bisa mengganggu ekosistem lingkungan dan menghapus nilai-nilai ekologisme. Ini bukan hanya soal relasi antar manusia, tetapi hubungan dengan seluruh makhluk hidup di bumi.
Generasi yang tumbuh tanpa kepedulian akan menjadi pribadi nirpeka dan acuh terhadap sesama. Baik makhluk darat maupun laut akan menjadi korban dari ketidakpedulian tersebut.
Kiamat lebih cepat
Jika hal itu terus terjadi dan merusak tatanan kehidupan alam semesta, kehancuran besar bisa semakin dekat. Bukan tidak mungkin kiamat yang dijanjikan Allah Ta’ala akan datang lebih cepat akibat kebrutalan manusia sendiri.
Oleh karena itu, sangat penting bagi manajemen pendidikan berbasis robot AI untuk benar-benar dipahami sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti segala hal. Teknologi ini harus dimanfaatkan secara selektif dalam menghadapi tantangan yang dapat merugikan secara permanen.
Pada sisi lain, manusia sebagai pencipta teknologi AI memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga keseimbangan. Solusi yang dihadirkan pun harus tetap adaptif dan berlandaskan nilai-nilai humanis.
Dengan demikian, nilai-nilai environmentalisme dan ekologisme tetap menjadi pijakan dalam menjalani kehidupan. Seluruh makhluk bumi dan alam semesta lainnya harus tetap terlindungi oleh prinsip keberlanjutan.
Penciptaan alam semesta bukan untuk dieksploitasi berdasarkan hasrat keserakahan. Penggunaannya harus sesuai kadar kebutuhan yang bijak dan penuh tanggung jawab.
Dalam ajaran Islam, seperti yang tercantum dalam QS Al-Anfal ayat 27, orang beriman dilarang mengkhianati Allah, Rasul-Nya, dan amanah yang diberikan. Amanah ini termasuk menjaga kehidupan dan keseimbangan di bumi.
Pengkhianatan terhadap amanah itu akan mendatangkan konsekuensi. Baik disadari maupun tidak, balasannya akan hadir di dunia maupun di akhirat.
Semoga kita mampu menjaga teknologi agar tetap dalam koridor nilai dan kemaslahatan bersama. Wallahu’alam.
*Wakil Ketua PWM Jawa Barat











