Opini

Saatnya Alumni PhD Indonesia Berkolaborasi

Dr Zulkaida Akbar PhD, fisikawan, peneliti nuklir, dan alumnus Florida State University (Foto: pribadi).

Oleh: Dr Zulkaida Akbar PhD, Fisikawan, peneliti nuklir, alumnus Florida State University 

BANDUNGMU.COM, Bandung — Ada berita kurang menggembirakan terkait peringkat Indonesia dalam indeks inovasi global (global inovation index).

Indikator kemampuan inovasi sebuah bangsa ini menempatkan Indonesia pada peringkat ke-88 pada 2016.

Sayangnya, kemampuan inovasi berkaitan erat dengan daya saing dan pada akhirnya menentukan produktivitas riset, industrialisasi, hingga pertumbuhan ekonomi.

Jika PhD adalah ujung tombak riset dan inovasi, lantas apakah terpuruknya peringkat Indonesia disebabkan karena kita kekurangan PhD?

Saya terkejut ketika mengetahui bahwa jumlah PhD yang dimiliki Indonesia masuk 10 besar dunia. Lantas, mengapa daya inovasi kita rendah?

Kenapa produktivitas riset Indonesia di bawah negeri tetangga? Ke mana PhD kita?

Dua kata kunci untuk menelaah sistem dan kelembagaan adalah akses dan institusi.

Barangkali kelembagaan kita saat ini belum menyediakan sistem insentif yang memadai bagi para peneliti untuk dapat berinovasi.

Harus jadi motor penggerak

Saya ingat satu pepatah “Lebih baik menyalakan sebatang lilin daripada mengutuk kegelapan.” Ada beberapa cerita yang ingin saya bagi di sini. Cerita yang semoga membantu kita untuk menatap ke depan dengan lebih baik.

Saya pernah mem-posting tentang kisah nuklir Pakistan. Pada intinya program nuklir yang digawangi oleh PINSTECH (Pakistan Institute of Nuclear Science & Technology) ini bermula dari dikirimnya beberapa anak muda Pakistan untuk belajar nuklir di UK dan USA (Argonne national laboratory).

Jumlah yang dikirim sekitar 50 orang. Dengan kata lain, 50 PhD cukup untuk mengawali kebangkitan nuklir ataupun sektor industri strategis lainnya.

Pun ribuan PhD yang dimiliki Indonesia seharusnya bisa menjadi motor penggerak sekian puluh atau belasan industri strategis di Indonesia.

Berbicara tentang angka, grup experimental hadronic physics di FSU hanya berisi dua profesor (baru mau nambah satu lagi Fall ini).

Namun, dengan hanya dua profesor grup ini bisa berperan aktif pada eksperimen di dua akselerator partikel (JLAB dan CBELSA), ikut membangun detektor, hingga beberapa kali menyelenggarakan konferensi internasional.

Barangkali kita sebenarnya tidak bermasalah dengan “angka”. Ini adalah hal positif yang harus kita syukuri karena setidaknya kita punya titik pijak untuk melangkah.

Saya yakin kita telah memiliki dokumen rencana strategis tentang bidang riset yang menjadi prioritas.

Hal baik berikutnya adalah fokus dan kolaborasi. Terkait dengan kolaborasi, saya melihat beberapa grup riset yang isinya maksimum hanya 5 orang, tetapi bisa sangat produktif.

PhD Indonesia harus berkolaborasi

Sebab itu, alangkah baiknya jika PhD-PhD  di Indonesia berkelompok dengan sejawat yang rumpun keilmuannya mirip. Tiga hingga lima orang cukup untuk mengawali, asalkan fokus.

Contoh lainnya adalah grup di LIPI yang turut andil dalam eksperimen fisika partikel di CERN. Meski dimotori segelintir orang, toh mampu berperan aktif dan menyelenggarakan workshop internasional.

Kebijakan, kelembagaan, akses, dan sistem insentif adalah domain pemerintah. Domain kita adalah mencari cara sekreatif mungkin di tengah keterbatasan.

Saya baru mendengar organisasi bernama Maju Makmur Mandiri beberapa tahun lalu dari kawan saya di FSU.

Namanya mirip toko bangunan, bahkan lokasinya satu tempat dengan kelontongan chiki. Namun, Maju Makmur Mandiri adalah pusat riset asli Indonesia yang cukup produktif.

Saya membaca di website-nya jika Maju Makmur Mandiri research center banyak mendapat grant/funding/award dari luar.

Saat ini mudah sekali untuk mendapat info tentang grant dari luar negeri untuk negara berkembang yang bisa kita manfaatkan. Saya coba random searching di Google dan saya mendapat beberapa opportunity hanya dengan 15 menit browsing.

Maju Makmur Mandiri research center bisa kita jadikan contoh tentang bagaimana sekelompok PhD membentuk grup riset, fokus, dan secara kreatif bisa memanfaatkan kesempatan mendapat dana dari luar negeri.

Dan itu adalah domain yang bisa kita lakukan.***

_____

Sumber tulisan: zulkaidaakbar.com

Exit mobile version