BANDUNGMU.COM, Sukabumi — Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) bersama Lazismu Jawa Barat berkolaborasi menjalankan program pengelolaan sampah berbasis sekolah di MA Nurhasanah, Desa Sindangraja, Kecamatan Curugkembar, Kabupaten Sukabumi, Kamis (15/10/2026).
Program bernama Reduksi Kelola Sampah Sukabumi (Rekabumi) ini berlangsung selama enam bulan, dari bulan Juli hingga Desember 2026, dan hingga kini sudah berjalan selama 3 bulan.
Penanggung jawab program dari UMMI Johanda menjelaskan bahwa Rekabumi terdiri atas empat kegiatan.
Pertama, budidaya maggot (larva dari lalat tentara hitam). Kedua, pembuatan silase untuk pakan ternak. Ketiga, pembuatan kompos. Keempat, ecobrick dari sampah plastik.
Menurut Johanda, sekolah dipilih karena selama ini jarang tersentuh program lingkungan.
“Sekolah itu basis dasar masyarakat kecil yang kadang tidak disentuh program seperti ini. Di sekolah kita harus menanamkan pola pikir bahwa sampah bisa bermanfaat,” ujarnya.
Ia menambahkan, siswa lebih mudah digerakkan dan kegiatan Rekabumi dapat diintegrasikan dengan mata pelajaran terkait.
Sampah tak lagi dibakar
Kepala MA Nurhasanah, Nurhayati, mengatakan sebelum program berjalan, sampah di sekolah terutama plastik hanya dikumpulkan lalu dibakar. Kondisi di sekitar sekolah juga belum baik, sebagian warga masih membuang sampah ke sungai.
Namun kini sampah organik dari sekolah, rumah siswa, dan dapur SPPG di sekitar sekolah diolah menjadi kompos, silase, dan pakan maggot. Sampah plastik dibuat ecobrick, seperti gantungan kunci.
Nurhayat menyebut hasil awal dari program ini sudah terlihat. Silase diuji coba pada ternak dan tidak menimbulkan masalah, kompos mulai dipakai menanam sayuran, meski produksinya masih sedikit.
Selain itu sekolah juga menerapkan konsep bank sampah, siswa yang membawa sampah dari rumah mendapat poin setelah sampahnya ditimbang, lalu poin itu dapat ditukar dengan hasil kerajinan.
Sampah dari warga langsung dibawa ke tempat pengolahan dan dipilah oleh siswa, karena warga umumnya belum terbiasa memisahkan sampah basah dan kering.
Siti Ainsa dan Layla Nur Alpiah, siswi kelas 11 yang terlibat dalam pembuatan kompos, mengaku awalnya bergabung karena terpaksa dan merasa jijik saat memilah sampah. “Dari situ kami belajar dan sekarang kami sangat suka kompos,” kata mereka.
Untuk ke depannya tim program berencana mengolah sampah plastik menjadi paving block.
Perwakilan Himpunan Mahasiswa Biologi UMMI, Nibras Al Tholib, menjelaskan bahwa ecobrick belum dapat menuntaskan persoalan plastik kemasan makanan ringan dan paving block dinilai dapat menjadi solusi sekaligus memperbaiki lantai sekolah yang sebagian masih berupa tanah.
Namun, karena plastik tidak menyerap air, akan dilakukan uji coba agar paving block yang dihasilkan memiliki pori-pori dan tidak membuat air menggenang saat hujan. Rencana ini masih membutuhkan mesin pres atau alat cetak serta bahan pendukung.
Komitmen berkelanjutan
Johanda menilai keberlanjutan program bergantung pada mitra yang konsisten dan keterlibatan siswa yang tumbuh dari kesadaran sendiri. Ia menyebut pemantauan oleh Program Studi Pendidikan Biologi UMMI akan terus dilakukan.
Nurhayati selaku kepala sekolah juga telah menunjuk tiga guru sebagai penanggung jawab. Ia berencana memasukkan pengelolaan sampah ke dalam kegiatan kokurikuler dan membangun greenhouse untuk memanfaatkan kompos. “Ini bukan rencana, tapi keharusan yang harus terus berjalan,” ujarnya.
Wakil Ketua Badan Pengurus Lazismu Jawa Barat Endang Mahbub menyatakan pihaknya berkomitmen melanjutkan program ini bersama UMMI sebagai pengawal di lapangan.
“Kami ingin menjadi satu ekosistem pengelolaan sampah berbasis komunitas atau berbasis sekolah,” ungkapnya.
Lazismu menyiapkan dukungan sarana yang dibutuhkan untuk pengembangan program, seperti rocket stove dan mesin cetak paving block, agar ekosistem pengelolaan sampah di Desa Sindangraja dapat berjalan.
Menurutnya, paving block yang dihasilkan nantinya dapat dipasang di sekolah sebagai proyek percontohan.***(Nasywa & Irma)









