Islampedia

Saum: Riyadhoh Meraih Sabar dan Syukur

×

Saum: Riyadhoh Meraih Sabar dan Syukur

Sebarkan artikel ini

OLEH: ENTOH WAHYU MUJADDID RAIS**

BANDUNGMU.COM – Secara alamiah sifat dasar manusia itu adalah suka berkeluh kesah. Jika mendapat kesulitan, cobaan, ujian, dan masalah manusia suka mengeluh. Sebaliknya, ketika diberi kelapangan malah menjadi kikir.

Hal ini diterangkan dalam surah Al-Ma’arij (70) ayat 19-21. Pada dasarnya, baik kesempitan maupun kelapangan adalah ujian bagi manusia. Bahkan hidup dan kematian pada hakikatnya adalah ujian bagi manusia (QS Al-Mulk: 2).

Bagi orang yang beriman, segala keadaan akan menjadi kebaikan bagi dirinya. Dalam hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin itu, seluruh keadaan yang menimpa dirinya dianggap sebuah kebaikan bagi dirinya. Hal seperti itu tidak didapati pada siapa pun, kecuali pada seorang mukmin. Jika ia mendapat kebaikan dia bersyukur maka hal itu akan mendatangkan kebaikan bagi dirnya. Jika ia mendapatkan kesusahan kemudian ia bersabar maka hal itu akan mendatangkan kebaikan bagi dirinya.”

Seorang yang beriman akan selalu sadar bahwa apa yang menimpa dirinya adalah qadarullah yang harus ia terima. Kesulitan, ujian, cobaan, masalah ataupun musibah akan dihadapi dengan sabar sehingga dari ujian itu ia mendapat pahala dan kebaikan.

Pun ketika diberi kesempatan dengan kelapangan (harta), kebahagiaan, kepuasan, dan prestasi ia juga sadar bahwa semua itu adalah anugerah dari Allah yang harus ia syukuri.

Hal itu tidak menjadikan ia sombong dan takabur karena ia sadar bukan dirinya yang hebat, melainkan Allah-lah yang telah memudahkan urusannya dan menutupi segala aibnya.

Perlu diingat, ujian itu bukan hanya sesuatu yang tidak diharapkan kedatangannya seperti cobaan dan musibah. Bisa jadi kelapangan (harta) juga ujian. Tidak sedikit orang yang lulus dengan ujian kemiskinan, tetapi ia terperosok dalam kehinaan dan dosa dengan kekayaan.

Baca Juga:  Mana Yang Lebih Baik, Menghafal Atau Memahami Al-Quran? Ini Penjelasannya

Oleh karena itu, intinya, sabar dan syukur adalah sikap yang harus senantiasa melekat pada diri seorang muslim.

Sabar dan syukur

Adapun riyadhoh untuk senantiasa memiliki sikap sabar dan syukur adalah dengan saum dan salat. Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda: As-shaumu nisfu shabr (dalam redaksi lain: As-shabru nisfu shaum) yang artinya bahwa saum itu setengahnya adalah sabar.

Jika kita merenungkan pengamalan dari ibadah puasa, kita bersabar menahan makanan dan minuman serta pasangan kita sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Segala sesuatu yang membatalkan shaum (walaupun itu semua halal) akan kita jauhi dengan sabar.

Sabar (dan salat) adalah penolong orang yang beriman (QS Al-Baqarah: 45 dan 153).

Adapun bersyukur adalah salah satu dari tujuan saum. Pada surah Al-Baqarah ayat 185 yang merupakan salah satu dari ayat rangkaian perintah puasa, di akhir ayat Allah menerangkan bahwa dengan perintah saum ini “wa la ‘allakum tasykuruun”, agar kalian dapat bersyukur.

Sekali lagi, kita renungkan amaliah saum. Betapa kita merasakan lapar dan haus selama seharian, tetapi lapar dan dahaga kita akan lenyap ketika azan magrib berkumandang, saat berbuka puasa.

Lalu coba bayangkan mereka yang merasakan lapar karena memang kelaparan, bukan karena puasa. Lapar orang yang berpuasa akan menemui ujung, saat azan magrib. Namun orang yang kelaparan, mereka tak tahu kapan rasa lapar mereka akan sirna.

Dari sini patutlah bagi kita untuk selalu bersyukur. Belum lagi dengan keringanan-keringanan dan pilihan secara syariat yang Allah berikan kepada kita ketika kita tidak mampu melaksanakan puasa di bulan Ramadhan.

Ada yang harus menggantinya di waktu yang lain (qada). Ada pula yang tak perlu melakukan puasa qada karena memang secara fisik sudah tidak sanggup berpuasa, seperti lansia, maka ganti dengan membayar fidiah. Betapa rukhsah ini adalah sesuatu yang harus kita syukuri.

Baca Juga:  Mengajak Keluarga Salat Tarawih Berjamaah di Masjid Seperti Rasulullah

Tiga amalan utama

Yang menjadi pertanyaan, saum yang seperti apa dan saum yang bagaimana yang akan menghantarkan kita sehingga memiliki sikap sabar dan syukur?

Pertama, jelas saum yang dilandasi keimanan kepada Allah SWT. Ia melaksanakan saum bukan karena alasan duniawi, seperti malu sama orang lain, supaya mendapat THR atau sekadar menggugurkan kewajiban.

Orang yang beriman benar-benar terpanggil dengan seruan Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 183 tersebut dan menjalani saum dengan ikhlas.

Ayat ini dimulai dengan harf nidaa (seruan). Maka seruan itu dilanjutkan dengan perintah untuk melaksanakan saum. Orang yang merasa terpanggil akan melaksanakannya dengan segenap ketaatan dan keikhlasan.

Oleh karena itu, persiapan iman yang mantap menjadi basis pijakan kita dalam melaksanakan saum Ramadhan.

Kedua, ialah yang melaksanakan saum dengan ilmu. Sejatinya kita dilarang melakukan sebuah amalan tanpa dasar ilmu (QS Al-Isra: 36) karena amalan tanpa ilmu akan tertolak.

Persiapan ilmu sangat penting supaya kita dapat melaksanakan saum sesuai dengan tuntunan Nabi Muhamamd SAW.

Bagaimana Nabi memulai saum dengan makan sahur yang diakhirkan, mengisi hari-hari saum Ramadhannya dengan berbagai amaliah sunah dan berbuka dengan disegerakan, hingga menyempurnakan puasanya dengan qiyamu lail atau salat tarawih.

Perlu diingat bahwa ibadah saum adalah ibadah satu paket dengan salat. Siang harinya melaksanakan saum, malam harinya salat tarawih.

Itulah alasan dalam lanjutan surah Al-Ma’arij di atas (ayat 22-23) Allah mengecualikan manusia yang suka mengeluh ketika ditimpa kesempitan dan suka kikir saat diberi kelapangan, ialah mereka yang suka salat dan khusyuk dalam salatnya.

Baca Juga:  Sebab dalam Setiap Kesulitan, Selalu Ada Kemudahan; Berbahagialah Kawan!

Tak hanya menyempurnakan saum dengan salat tarawih, orang yang melaksanakan ibadah saum dengan bekal ilmu yang kuat, akan menyempurnakan lagi saumnya dengan tadarus Al-Quran dan memperbanyak sedekah.

Inilah tiga amalan utama Nabi Muhammad SAW di bulan Ramadhan, meningkatkan kualifikasi dan kuantitas salatnya, lebih memperbanyak berinteraksi dengan Al-Quran, dan gemar bersedekah, sampai disebutkan sedekahnya Nabi di bulan Ramadhan seperti embusan angin.

Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda: “Man shaama ramadhaanalladzii iimaanan wahtisaban, ghufiralahu maataqaddamat min dzambih”. Artinya “Barang siapa yang saum di bulan Ramadhan atas dasar iman dan pengharapa/perhitungan, maka akan diampuni dosanya setahun yang telah lalu.”

Ulama hadits menjelaskan kalimat “wahtisaban” itu penuh harapan jika puasa yang dilakukan diterima sebagai amal ibadah dan dibalas pahala yang besar. Makna lain dari kalimat “wahtisaban” adalah dengan perhitungan dan bekal ilmu dalam mengamalkannya.

Kembali kepada ayat perintah puasa yaitu surah Al-Baqarah ayat 183. Ayat ini diawali dengan harf nida dan diakhiri dengan harf taroji (lam litaroji), yakni kalimat harapan.

Tak semua harapan dapat tercapai, sangat bergantung pada bagaimana cara kita dalam mencapainya.

Takwa yang menjadi tujuan dari ibadah saum, nilai utamanya adalah sabar dan syukur yang terkontekstualisasi melalui indikator-indikator takwa dalam QS Al-Baqarah ayat 1-5 dan ayat 177 serta QS Ali Imran ayat 15-17 dan 133-136.

Wallahu A’lam bi al-Shawab.

**Ketua MPK PDM Kota Bandung, Wakil Ketua PDPM Kota Bandung, Wakil Ketua Bidang Keagamaan DPD KNPI Kota Bandung, dan Guru PAI SD Muhammadiyah 3 Bandung