OLEH: INDING USUP SUPRIATNA – Sekretaris Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat
BANDUNGMU.COM – Berpuasa pada bulan suci Ramadhan menjadi hal yang sangat spesial bagi seluruh umat Islam yang beriman. Pasalnya, puasa Ramadhan dapat memberikan pelajaran yang sangat besar dan penting bagi seseorang yang menunaikannya.
Puasa sejatinya akan mendidik dan melatih seseorang dalam mengendalikan dirinya karena puasa dalam praktiknya mengharuskan manusia menahan hawa nafsu. Dengan menahan hawa nafsu sudah pasti ia dapat mengendalikan diri.
Sabar dan takwa
Jika diri sudah dapat dikendalikan, sifat sabar menjadi karakter pribadinya sebagaimana dijelaskan dalam hadis nabi yang artinya: “Puasa merupakan sebagian dari sabar.” (HR Ibnu Majah).
Sabar menurut Buya Hamka adalah suatu sikap dari jiwa yang besar dan terlatih, yang akan diperoleh dengan jalan mengendalikan diri, tabah dalam menghadapi segala ujian, dengan disertai bersyukur kepada Allah dan memegang teguh ketakwaan.
Sementara menurut Muhammad Quraish Shihab sabar adalah keberhasilan menahan gejolak hati demi mencapai sesuatu yang baik dengan jalan mensucikan Tuhan.
Dengan demikian bahwa sabar akan membina dan membimbing kepada jalan takwa. Sebagaimana yang sudah ditulis dalam Al Quran bahwa perintah puasa, di bagian akhir surah, disebutkan “supaya bertakwa”.
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al Baqarah 183).
Inilah yang menjadi pondasi utama mengapa puasa bisa membimbing dan juga membina takwa pada diri seseorang.
Takwa menurut Muhammad Quraish Shihab adalah upaya sungguh-sungguh untuk memelihara, menjauhkan diri, dari siksaan atau azab Allah dengan cara menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Takwa juga membawa seseorang pada keberkahan dan kebaikan yang terus mengalur dan mengalir mengisi setiap aktivitasnya.
Buya Hamka dalam “Tafsir Al-Azhar” menjelaskan bahwa ketakwaan kepada Allah membukakan pintu rezeki. Kalau orang sudah beriman dan bertakwa, pikirannya sendiri terbuka dan ilham pun datang.
Dua berkat
Selain itu, iman dan takwa juga menimbulkan silaturahim sesama manusia. Lantaran itu timbullah kerja sama yang baik sebagai khalifah Allah di muka bumi. Maka turunlah berkat dari langit dan bumi.
Baik berkat hakiki, yakni hujan yang membawa kesuburan bumi, teraturlah tumbuhan dan keluarlah hasil bumi, maupun berkat maknawi, yakni timbulnya pikiran-pikiran baru dan petunjuk dari Allah.
Bentuknya baik wahyu kepada para Rasul maupun ilham kepada orang-orang yang berjuang di jalan Allah dengan ikhlas.
“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS At Thalaq: 2-3).
Muhammad Quraish Shihab dalam tafsirnya mengemukakan bahwa maksud dari ayat di atas adalah akan disediakan baginya sebab-sebab memperoleh rezeki yang tidak diperkirakan sebelumnya.
Barang siapa yang menyerahkan segala urusannya kepada Allah, maka Dia akan mencukupi segala keperluannya. Sesungguhnya Allah akan melaksanakan kehendak-Nya. Segala sesuatu telah ditentukan waktu dan ukurannya masing-masing.***














