Selama Pandemi Covid-19, Saepul Adnan: ”Pangan Segar Asal Tumbuhan Banyak Dicari dan Dibutuhkan Masyarakat”

oleh -
Saepul Adnan, Pemerhati Pangan Halal dan Sehat yang juga dosen Teknologi Pangan Halal UMBandung (Sumber: Dok. Saepul Adnan)

BANDUNGMU.COM – Selama pandemi covid-19 yang saat ini belum berakhir, ada perubahan pola konsumsi pangan masyarakat Indonesia yang berbeda. Misalnya meningkatnya intensitas belanja online. Kemudian yang berkaitan dengan pola konsumsi pangan, meningkatnya pengeluaran untuk membeli bahan makanan.

Jadi selama pandemi telah terjadi peningkatan permintaan bahan pokok hingga 50 persen. Dan ini kalau dilihat dari perkiraan tahun lalu sekira bulan April, sebanyak 46 persen responden mengalami peningkatan intensitas belanja online untuk membeli bahan makanan. Jadi bukan makanan yang sudah jadi.

Fakta ini mengemuka dalam Kuliah Pangan Online Nasional yang diselenggarakan Purnama Laboratory (Purnamalab) yang bertema ”Cemaran Pangan Asal Tumbuhan: Fisik, Kimia, dan Mikrobiologi”, dengan salah satu pematerinya dosen teknologi pangan halal sekaligus Ketua Pusat Kajian Halal Universitas Muhammadiyah Bandung (UMBandung), Saepul Adnan, yang akrab dipanggil Adnan beberapa waktu lalu.

”Konsentrasi kita adalah ketahanan pangan yang saat ini menjadi sebuah permasalahan yang muncul ketika pandemi ini terjadi. Ditambah juga bahwa salah satu program prioritas pemerintah adalah masalah ketahanan pangan,” kata Adnan kepada Redaksi Bandungmu.

Namun, kata Adnan, ketahanan pangan harus menjamin keamanan dan mutu pangan. Dalam kondisi pandemi saat ini, pangan segar asal tumbuhan, menjadi salah satu yang paling utama yang dibutuhkan masyarakat. Tujuannya tentu untuk meningkatkan imunitas tubuh, baik pangan segar dari buah-buahan, sayur-sayuran, maupun rempah-rempah, terutama yang ada di Indonesia.

Menurut Adnan, pandemi covid-19 ternyata mampu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengonsumsi makanan yang lebih sehat untuk meningkatkan imunitas tubuh. Masyarakat jadi lebih memilih untuk membeli dan masak makanan di rumah. Jadi pola perilakunya lebih kepada membeli bahan bakunya.

”Membeli bahan baku makanan di luar melalui online untuk dimasak di rumah daripada membeli makanan yang sudah jadi. Itu preferensinya lebih memilih makanan yang sehat dengan cara memasak di rumah,” tambah Koordinator Inovasi dan Inkubasi Pusat HKI UMBandung ini.

Jamu dan rempah-rempah

Selain itu, dalam kuliah online yang diikuti seluruh kepala dinas, kepala bagian, dan kepala seksi dari dinas ketahanan pangan seluruh Indonesia ini, ada data bahwa masyarakat Indonesia banyak memburu jamu dan rempah-rempah. Jamu, rempah-rempah, seperti kunyit, jahe, kemudian juga herbal, menjadi populer saat ini.

”Masyarakat memilih jamu sebagai salah satu alternatif untuk meningkat imunitas tubuh dan mencegah penyakit. Ini memang pada waktu yang bersamaan saat diumumkannya kasus (covid-19) pertama di Indonesia, kunci yang berkaitan itu adalah yang berkenaan dengan immune system,” ucap Adnan.

Masyarakat, lanjut Adnan, banyak yang mencari jamu pencegah corona, jamu anticorona. Pokoknya yang berkaitan dengan itu. Berkaitan dengan yang disebut jamu-jamuan untuk meningkatkan imunitas tubuh.

Hal itu diakui Adnan sebagai perubahan pola konsumsi perilaku masyarakat akibat pandemi covid-19 terkait dengan pangan.

Terkait dengan makanan yang harus dikonsumsi masyarakat, Adnan menyarankan sebaiknya, pertama konsumsi makanan bernutrisi. Harus dipertimbangkan nutrisinya, kandungan gizinya, selain itu juga harus dipersiapkan dengan cara mencuci sayur dan buah atau bahan pangan agar lebih bersih.

”Tentu semua itu dilakukan dengan memperhatikan protokol-protokol kesehatan,” tambah Adnan.

Pangan yang aman dan sehat itu, selain harus memiliki nutrisi dan gizi, menurut Adnan, tidak boleh ada cemaran yang masuk ke dalam pangan tersebut. Cemaran itu ada tiga macam jenisnya yang umum terjadi.

”Khususnya untuk pangan sehat asal tumbuhan. Misalnya, buah dan sayur itu memiliki kriteria untuk menjadi pangan yang sehat dan aman, yaitu dengan cara tidak tercemar oleh fisik, benda fisik, kimia, ataupun mikrobiologi atau biologis,” tukas Komite Auditor Halal LPHKHT Muhammadiyah ini.

Masyarakat jangan khawatir

Sebaiknya pangan jangan sampai terkena cemaran fisik. Misalnya pangan atau makanan itu ada yang tercampur dengan logam-logam, kerikil, rambut, kuku, atau apa pun yang bisa masuk ke dalam makanan tersebut.

Adapun cemaran kimia, itu berkaitan dengan residu pestisida yang ada dalam sayuran. Misalnya, ketika kita membeli sayur tidak dicuci dengan bersih, itu kemungkinan ada residu pestisida karena proses penanaman di lahan pertanian ada kegiatan membasmi hama.

Sementara cemaran mikbiologi itu, misalnya ada bahan-bahan seperti mikroba, E.Coli yang umumnya sering terjadi, berada dalam bahan pangan segar terlalu banyak atau di atas ambang batas. Hal itu menyebabkan terjadinya cemaran mikbiologi.

Terkait dengan sasaran yang ingin dicapai, Adnan melanjutkan, pemerintah sebagai regulator, sebagai pelayan, stakeholders, di daerahnya, tentu bisa memberikan pemahaman dan pengetahuan kepada masyarakat bahwa bahan pangan segar asal tumbuhan sering tercemari oleh ketiga cemaran itu.

”Nantinya mereka bisa melakukan penanganan terhadap pangan asal tumbuhan ini dengan baik. Kemudian juga memberikan edukasi atau sosialisasi kepada para pelaku usaha untuk memperhatikan penanganan pangan segar asal tumbuhan ini sehingga aman untuk dikonsumsi. Masyarakat sendiri menjadi lebih nyaman dan tidak khawatir mengonsumsi makanan-makanan tersebut,” pungkas Adnan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *