Oleh: Ace Somantri, Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung
BANDUNGMU.COM — Di belahan dunia mana pun manusia penduduk bumi dengan macam ragam etnis dan ras berbeda-beda.
Struktur tubuh pada dasarnya sama. Mulai dari kepala yang dilengkapi anggota tubuh yang memiliki fungsi sangat bernilai di antaranya terdiri atas mata, hidung, mulut, dan telinga.
Pandangan psikologis, muka atau wajah seseorang menjadi simbol yang merepresentasikan dirinya dalam kondisi apa pun, baik itu sedih, kecewa, senang, atau bahagia.
Manusia lahir ke bumi tidak semata hanya ada, tetapi banyak amanah yang diterima kala masih dalam alam rahim ibunda orang tua. Berbagai konsekuensi yang akan menjadi beban tanggungan, termasuk hal ihwal sebuah resiko.
Sejak usia dini sudah diajarkan akan sebuah perjuangan, sebuah tanda dan ciri indikasi nampak dalam wajah belia nan lucu menggemaskan. Jangan anggap bayi belia tidak mendengar dan merespons berbagai hal di sekitarnya. Daya rekam bayi justru masih orginal dan super cepat.
Ketika bayi usia belia, kalau wajah atau muka terlihat kurang senyum, segerakan untuk dilatih dan dipancing untuk bergembira agar senyuman bahagia nan ceria terus dipancarkan.
Kebahagiaan anak bagian dari kebahagiaan orang tua. Kesedihan anak bagian dari kesedihan orang tua. Orang tua manusia pertama yang memberi inspirasi kebahagiaan yang menggembirakan.
Oleh karena itu, orang tua harus bahagia ketika ananda banyak cerita yang diuangkap kala dia bahagia maupun kecewa. Dengarkan keluh kesahnya hingga dia kembali senyum tertawa. Berikan pencerahan untuk tetap menjaga sikap dengan senyum tanda bahagia.
Rasulullah SAW berkata, senyummu dihadapan saudaramu adalah sedekah bagimu, hadits ini di riwayatkan oleh Tirmidzi nomor 1956, luar bisa bukan? ajaran Islam itu sangat apresiatif, senyum saja bernilai sedekah apalagi lebih sekedar senyum.
Kenapa senyum menjadi sesuatu yang bernilai? Dalam kajian ilmu psikologi bahwa ketika seseorang senyum selain pancaran kebahagian, juga menjadikan syaraf-syaraf positif terbuka lebar mengembang sehingga untuk melanjutkan pada aktivitas berikutnya akan lebih fun dan happy.
Hal tersebut terjadi karena otot relaksasi menurunkan denyut jantung dan tekanan darah serta membantu mengurangi resiko terkenan serangan jantung. Bahkan juga meningkatkan imun tubuh.
Sangat luar biasa sikap dan perbuatan murah senyum banyak nilai manfaatnya. Silakan yang merasa sulit memberi senyum pada orang lain, mulailah belajar senyum depan cermin sendiri.
Setelah itu, selanjutnya tebarkan senyummu pada saat-saat tertentu yang pas dan tepat. Namun, jangan sampai senyum-senyum sendiri tanpa sebab nanti dikira bukan orang normal.
Senyum nan bahagia tanda seseorang sehat walafiat, di mana pun berada dan posisi apa pun kita untuk tersenyum tidak berbiaya alias gratis.
Senyum akan menjadi modal dalam mengembangkan relationship yang baik, kondisi apa pun mereka ketika murah senyum dan bukan senyum murahan, maka relationship akan terbangun sendirinya.
Relationship tidak terbatas ruang dan waktu, apalagi terbatas komunitas itu pandangan yang tidak tuntas dan terbatas. Justru sebaliknya bagaimana diri kita memberi budaya baik dan benar dalam sebuah komunitas, realtionship kita di share di mana kita hadir dan berada.
Tidak mahal untuk sedetik gerak senyum karena efeknya akan mampu mengubah keadaan lebih fun dan happy. Setelah terbangun suasana happy, penetrasi sebuah visi dan misi akan terasa dan dirasakan semua pihak.
Senyum adalah sebuah simbol kebahagian manusia. Diterima atau tidak itu konsensus psikososial masyarakat bahwa senyum bagian dari ungkapan kebahagiaan seorang manusia di mana pun berada.
Bangsa dan negara kita hari ini tak ubahnya seperti seorang manusia yang sedang kecewa gundah gulana. Jiwa dan raga Indonesia dipaksa senyum seolah-olah bahagia, padahal sedih dan kecewa.
Seandainya dapat bicara pasti bangsa dan negara ini akan menolak untuk senyum. Kesedihan dibalut kekecewaan sangat terlihat wajah muram bangsa ini. Walaupun dipaksa untuk senyum, rakyat Indonesia tidak bisa dibohongi. Hati nurani merasakan kebathinan jiwa dan raga bangsa ini tidak dalam bahagia.
Yang ada hari ini, wajah dan muka bangsa terlihat penuh dengan gelombang demonstrasi masa menolak segala kebijakan yang tidak prorakyat dan umat.
Tersenyumlah, niscaya kebahagiaan akan datang.***











