UMBandung
Opini

TunasMU Jawa Barat: Kaum Mustadh’afin dan Wong Cilik Bersatu Tak Bisa Dikalahkan

×

TunasMU Jawa Barat: Kaum Mustadh’afin dan Wong Cilik Bersatu Tak Bisa Dikalahkan

Sebarkan artikel ini

Oleh: Ghifar Hawary, Ketua Relawan Tunas Muda Jawa Barat

BANDUNGMU.COM — Indonesia dengan keberagaman budaya, alam, dan masyarakatnya, memiliki kekayaan yang tak ternilai.

Dalam perjalanan menuju masa depan yang lebih baik, peran anak muda menjadi salah satu pilar utama yang membentuk fondasi kemajuan bangsa ini.

Betapa pentingnya peran anak muda dalam membawa Indonesia menuju kemajuan yang berkelanjutan.

Kami Tunas Muda Berkemajuan Jawa Barat merupakan sebuah organisasi yang mengikat seluruh elemen pemuda pemudi berkemajuan yang mempunyai mimpi yang besar untuk kemajuan dan nasib negeri ini.

Hal yang melatarbelakangi untuk terus berjuang hingga saat ini adalah kesadaran sejarah bahwasannya Bapak Proklamator Kemerdekaan Indonesia dan dan sang tokoh revolusioner pendidikan Indonesia pada zaman dahulu merupakan satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkan.

Ketika kaum mustad’afin dan wong cilik yang sama-sama berjuang mendapatkan kesejahteraannya merupakan kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

Baca Juga:  RUU Sisdiknas Juga Untuk Madrasah Yang Terintegratif

Presiden Soekarno yang kita kenal sebagai presiden pertama Republik Indonesia, pada masanya beliau mempunyai seorang guru yang bernama Muhammad Darwis atau mempunyai nama populer sebagai KH Ahmad Dahlan selaku pendiri Muhamadiyah.

Perjuangan beliau dalam mensejahterakan rakyat Kauman merupakan awal dari motivasi perjuangan beliau.

Di sisi yang lain, Soekarno pun berjuang dalam membangun dan merebut Kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah.

Persamaan visi, misi, tujuan, dan impian dalam membangun Indonesia menjadi sebuah titik temu perjuangan bersama mereka.

Seiring berjalannya waktu, perjuangan mereka menemukan persimpangan dalam paradigma membangun Indonesia.

Soekarno mempunyai titik fokus kepada pluralisme dalam bernegara. Muhammad Darwis mempunyai fokus kepada tiga elemen yakni healing, schooling, dan feeding.

Dari jalan keduanya mempunyai niat yang sama yakni membangun dan memperjuangkan hak-hak kaum mustadh’afin dan wong cilik.

Baca Juga:  Unik! Suami Istri ini Dikukuhkan Menjadi Guru Besar UMP

Dua gagasan tersebut merupakan gagasan yang bisa saling melengkapi satu sama lain untuk menjadi sebuah solusi negeri.

Dengan penuh kesadaran, kami yakin dan percaya bahwa gagasan dan mimpi tersebut bisa kita lanjutkan pada masa kini dan mempersiakannya untuk masa depan. Sinergitas ini merupakan sebuah keniscayaan bagi kondisi bangsa sekarang ini.

Pada dasarnya, Soekarno dan Muhammadiyah bersama-sama memprioritaskan pemberdayaan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Melalui program-program sosial dan ekonomi, mereka berusaha mengurangi kesenjangan ekonomi dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat, khususnya yang kurang beruntung.

Kolaborasi antara Soekarno dan Muhammadiyah juga menciptakan dasar bagi kebebasan beragama dan perlindungan hak-hak minoritas di Indonesia.

Mereka bersama-sama menyuarakan prinsip-prinsip keadilan dan keberagaman yang menjadi landasan bagi negara yang menghormati keberagaman etnis dan agama.

Melalui sebuah harapan sederhana ini, kami menitipkan secercah cahaya yang merupakan bentuk kecintaan kami kepada Indonesia.

Baca Juga:  Menyoal Penyegaran Kepemimpinan Kepanduan Hizbul Wathan

Kami berharap pemimpin negara kita adalah sosok yang dapat mewakili dan mengakomodasi aspirasi anak muda memegang peranan penting dalam membangun masa depan Indonesia.

Kami mendambakan pemimpin yang memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik serta memahami bahasa dan aspirasi generasi muda untuk membangun hubungan yang kuat dan saling pengertian.

Kriteria ini dapat membuka peluang besar bagi pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif. Anak muda Indonesia merupakan aset berharga yang dapat memberikan kontribusi besar terhadap pembangunan nasional.

Dengan pemimpin yang memahami dan mendukung aspirasi mereka, Indonesia dapat mencapai potensinya sebagai negara yang maju dan berdaya saing.

Maka dari itu, representasi anak muda tidak selamanya harus anak muda, tetapi lebih jauh dari itu adalah memahami apa yang dibutuhkan oleh anak muda agar bisa bergerak cepat menuju Indonesia unggul.***

PMB UM Bandung