PMB UMbandung
News

Zeilin Fitriyani Harumkan Nama UM Bandung Lewat Prestasi Orasi Ilmiah Tingkat Nasional

×

Zeilin Fitriyani Harumkan Nama UM Bandung Lewat Prestasi Orasi Ilmiah Tingkat Nasional

Sebarkan artikel ini
PMB UMBandung

BANDUNGMU.COM, Bandung — Mahasiswa Prodi Administrasi Publik Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Zeilin Fitriyani kembali menorehkan prestasi dengan meraih juara pertama dalam lomba orasi ilmiah tingkat nasional.

Kompetisi yang berlangsung di Unpad tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Olympic of Public Administration 5.0 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Administrasi Publik (HIMA AP) FISIP Unpad pada Sabtu (31/10/2026).

Dalam perlombaan tersebut, Zeilin berhasil melewati sejumlah tahapan seleksi hingga masuk ke babak grand final bersama empat peserta lainnya.

Keberhasilannya meraih juara pertama menjadi pengalaman berharga, sekaligus membuktikan bahwa mahasiswa kampus swasta mampu bersaing dalam kompetisi akademik tingkat nasional.

Secara terpisah, Selasa (03/11/2026), di UM Bandung, Zeilin mengaku bahwa keinginannya mengikuti perlombaan orasi ilmiah sebenarnya sudah muncul sejak semester awal perkuliahan. Namun, kurangnya rasa percaya diri membuat dirinya belum berani mencoba.

Kesempatan tersebut akhirnya datang ketika informasi perlombaan disampaikan melalui Himpunan Mahasiswa Administrasi Publik. Meski sempat mengurungkan niat setelah mengetahui kompetisi itu berskala nasional, Zeilin memutuskan untuk tetap mengikuti perlombaan.

“Awalnya saya kira perlombaannya hanya tingkat provinsi atau Bandung Raya. Ternyata tingkat nasional. Sempat tidak percaya diri melihat peserta dari kampus lain, tetapi karena sudah mendaftar, akhirnya saya memutuskan untuk tetap mencoba,” ungkap Zeilin.

Baca Juga:  Aisyiyah Pemalang Dirikan Dapur Umum untuk Warga Terdampak Bencana di Pulosari

Menurutnya, proses perlombaan tidak berlangsung mudah. Peserta terlebih dahulu harus mengumpulkan naskah orasi untuk diseleksi sebelum melanjutkan ke tahap berikutnya. Dari proses seleksi tersebut, hanya lima peserta yang berhasil melaju ke babak grand final.

Tantangan lainnya muncul ketika peserta diwajibkan membuat video orasi berdurasi sekitar delapan menit tanpa pemotongan. Ketentuan itu menuntut setiap peserta benar-benar menguasai materi sekaligus memiliki kemampuan berbicara yang baik.

Zeilin bahkan menghabiskan waktu berjam-jam untuk melakukan perekaman video. Kegagalan yang berulang sempat membuat dirinya putus asa dan berencana mengundurkan diri dari perlombaan.

Namun, dukungan dosen membuatnya kembali bersemangat. Ia akhirnya mencoba melakukan perekaman ulang di tengah kesibukan mengikuti kegiatan akademik lainnya hingga berhasil menyelesaikan seluruh persyaratan perlombaan.

Saat menghadiri pengumuman pemenang di Unpad, Zeilin mengaku tidak memiliki ekspektasi tinggi. Bahkan, dirinya sempat merasa pesimistis karena harus bersaing dengan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi ternama.

“Pas diumumkan juara pertama, saya benar-benar tidak menyangka. Sampai gemetaran karena ternyata bisa juga bersaing dengan kampus-kampus negeri yang selama ini saya anggap sangat bagus,” tuturnya.

Pengalaman tersebut sekaligus mengubah pandangannya mengenai kemampuan mahasiswa perguruan tinggi swasta. Menurutnya, keberanian, persiapan, dan kesungguhan menjadi modal penting untuk menghadapi persaingan tanpa harus merasa rendah diri terhadap nama besar perguruan tinggi lain.

Baca Juga:  UNJ Siap Jadi Mitra Strategis Pemerintah dalam Pengendalian Pencemaran Udara

Kepemimpinan yang Mendengarkan Rakyat

Dalam perlombaan tersebut, Zeilin membawakan orasi berjudul “Menerjemahkan Suara Rakyat” yang mengangkat gagasan kepemimpinan transformatif sebagai pendekatan untuk memperkuat hubungan antara pemerintah dan masyarakat.

Melalui orasinya, ia menyoroti pentingnya kehadiran pemimpin yang tidak hanya menjalankan pemerintahan dari balik meja. Namun,  bagaimana mampu memahami persoalan masyarakat secara langsung.

Menurut Zeilin, salah satu persoalan dalam tata kelola pemerintahan adalah masih adanya jarak komunikasi antara pemimpin dan masyarakat. Kondisi tersebut dapat menyebabkan kebijakan yang dihasilkan kurang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

“Seorang pemimpin itu tidak hanya mengatur dari atas saja, tetapi harus mampu turun langsung, mendengarkan, belajar, dan beraksi bersama masyarakat,” jelasnya.

Ia menilai, kepemimpinan transformatif dapat menjadi salah satu pendekatan untuk mempersempit jarak tersebut. Dengan komunikasi yang lebih terbuka, pemerintah diharapkan mampu memahami kebutuhan masyarakat sekaligus melibatkan mereka dalam proses perubahan.

Dalam penyusunan materi orasinya, Zeilin juga menggunakan sejumlah pemikiran mengenai kepemimpinan, termasuk gagasan Burns, untuk memperkuat argumentasi yang disampaikan. Naskah orasi tersebut disusunnya dalam waktu sekitar empat hari.

Baca Juga:  Desri Arwen Resmi Dilantik Sebagai Rektor, UMT Perkuat Komitmen Akreditasi Unggul

Bagi Zeilin, kemenangan tersebut bukan menjadi alasan untuk berhenti mengembangkan kemampuan. Ia mengaku masih berkeinginan mengikuti berbagai kompetisi lainnya sebagai sarana memperluas pengalaman dan meningkatkan kualitas diri.

Zeilin juga berpesan kepada mahasiswa agar tidak takut mencoba sesuatu dan jangan merasa kalah sebelum berkompetisi. Menurutnya, keberanian mengambil kesempatan jauh lebih penting daripada terus memikirkan kemungkinan gagal.

“Lakukan saja semaksimal mungkin. Apa pun yang terjadi, kita tidak tahu akan juara atau tidak. Kalaupun tidak juara, selama sudah berusaha dengan baik dan maksimal, kita tidak akan menyesal,” pesannya.

Ia berharap prestasi tersebut dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa UM Bandung lainnya untuk lebih percaya diri mengikuti kompetisi di berbagai tingkatan.

Zeilin meyakini masih banyak mahasiswa berbakat yang memiliki kemampuan besar, tetapi membutuhkan dorongan dan kesempatan untuk menunjukkan potensinya.

Selain itu, ia berharap kampus terus memperkuat dukungan, pendampingan, dan apresiasi terhadap mahasiswa yang ingin mengembangkan prestasi, baik dalam bidang akademik maupun nonakademik.

“Menurut saya, masih banyak mahasiswa yang mampu mengharumkan nama UM Bandung. Apresiasi dan dukungan dari kampus bisa menjadi salah satu pendorong agar mahasiswa semakin berani berkarya dan berprestasi lebih baik lagi,” pungkasnya.***(FK)

PMB UMBandung