Opini

Memahami Kritik Sebagai Pengingat Diri

×

Memahami Kritik Sebagai Pengingat Diri

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi (Istock)

Oleh: Ace Somantri – Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung

BANDUNGMU.COM – Sejak abad 20-an ada pergeseran sikap dan perilaku manusia, yakni keterbukaan berpikir menjadi tren tersendiri.

Bukan hanya di kalangan filosof dan ilmuwan saling mengkritisi teori, melainkan berkembang hingga dalam pengembangan teori dan implementasinya juga saling mengkritisi.

Budaya kritis baik sekali untuk membangun karakter berpikir terbuka dan mengikis perilaku buta mata hati dan merasa paling baik dan benar. Kalau dalam Islam di kenal istidraj.

Apabila ada ilmuwan yang antikritik dan cenderung menolak saran secara subjektif, maka dipertanyakan identitas keilmuanya.

Padahal teologi QS Al-Ashr sangat tegas dan jelas menyatakan bahwa instrumen kebaikan ada dalam sikap saling mengingatkan dalam kebenaran.

Persoalannya, kesadaran diri menerima kritik dan koreksi termasuk saran dari orang lain, keumuman orang cenderung tidak menerima, apalagi bukan dari orang yang disukai.

Sebenarnya siapa pun orangnya, ketika dia punya karakter kritis, biasanya memiliki sikap berpikir merdeka. Budaya kritis sejatinya menjadi instrumen pengingat diri.

Saling mengkritisi hal yang lumrah dan biasa terjadi. Bahkan hal tersebut menjadi budaya baik ketika mampu menstimulasi peningkatan kapasitas keilmuan dan keluwesan wawasan.

Baca Juga:  Mendalami Zuhud dan Tazkiyatun Nafs di Kajian Rutin Masjid Baitul Qowwam

Bagaimana dengan sikap menjustifikasi yang cenderung menghakimi? Kadang-kadang muncul dalam sebuah komunitas masyarakat ketika di dalamnya heterogen etnis, suku, dan agama, terjadi tekanan psikologis.

Hal itu muncul karena perasaan berbeda dan perasaan mayoritas-minoritas kelompok tertentu. Islam dengan Al-Quran sebagai peraturan utama sangat fleksibel dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Tidak ada yang lebih universal selain ajaran Islam. Di dalamnya ada proses dan pengalaman beragama yang konsisten. Kemudian juga tidak ada pembaruan ayat-ayat tekstual.

Islam mengajarkan diri untuk tetap menjaga dan merawat konsistensi beragama secara sungguh-sungguh. Dengan demikian, kita menemukan kesejatian sebagai makhluk Allah yang memiliki tugas dan amanah selama hidup di dunia.

Ketidaksesuaian orkestrasi karena kepentingan manusia bermacam ragam, cukup mengalami kesulitan menjadi nada yang indah dan merdu dalam hidup keseharian.

Sama halnya, dalam sebuah kelompok orang yang multi-interest di dalamnya, ada kecenderungan berakhir dengan perselisihan dan pertentangan. Sesuatu hal yang sangat tidak diiinginkan.

Soal kepentingan

Sebenarnya masyarakat sangat paham bahwa setiap individu tidak mungkin hidup dalam sebuah komunitas yang tidak memiliki kepentingan. Semua ada kepentingan masing-masing.

Baca Juga:  Lazismu Tinjau Bantuan Bagi Palestina di Al-Khair Warehouse Mesir

Namun disayangkan dalam perjalanannya dominasi hawa nafsu sering menutup rasio dan logika yang sehat. Peta jalan tidak berjalan dengan maksimal.

Sejatinya interesting dalam suatu kelompok dan institusi hal yang wajar. Bahkan, hal tersebut menjadi kekuatan yang dahsyat untuk mencapai suatu tujuan.

Kepentingan umat harus di atas kepentingan pribadi. Semua itu bisa dipahami oleh semua orang, meskipun ada sebagian orang yang ngeyel menentangnya.

Sebagai sosok manusia yang lemah dan fana, kita harus banyak menyadari bahwa kita bukan dewa, apalagi Tuhan. Egosentris yang kerap kali muncul harus ditekan ke dalam.

Terlebih akan menjadi bijak kalau bisa mengendalikan emosi yang dirasuki oleh dengki dan benci. Mencari solusi yang tepat itu lebih berarti.

Mata kita saat ini terbuka. Peristiwa demi peristiwa bukan di depan mata kita saja. Bahkan ada di sebagian tempat, orang-orang rela mempertahankan lahan dan tempat tinggal dengan meregang nyawa.

Masa hanya sekadar karena demam panggung jabatan RT, RW, DKM, organisasi profesi, organisasi masyarakat, institusi bisnis, bahkan institusi pendidikan, tak pandai meredam komplik kepentingan.

Baca Juga:  Gaya Hidup Halal: Mengupayakan Sehat Jasmani dan Ruhani

Padahal demam jabatan bisa memancing sikap arogansi diri yang berlebihan. Bahkan bisa membawa pada petaka buat diri seseorang dan institusinya.

Terlebih jika jabatan yang diambil dilakukan dengan cara-cara yang melanggar kaidah institusi, maka itu akan mewarisi tradisi kurang baik.

Jangan sampai hal memilukan terjadi ketika petaka demi petaka muncul sebagai akibat dari suatu perkara yang diawali dengan pelanggaran kaidah institusi.

Jauh panggang dari api, begitu istilahnya, untuk menggambarkan manusia yang berharap sempurna, tetapi emosi penuh arogansi justru menyelimuti diri.

Iri, dengki, dan benci dalam diri seperti tidak ada. Namun, entah kenapa setiap datang pesta demokrasi berbagai organisasi dan institusi dengan varian aturan masing-masing senantiasa muncul demam jabatan.

Momentum itu menjadi kesempatan dan ajang adu argumentasi guna memberi solusi dan kontribusi. Pada momen tersebut kedewasaan berpikir dan bersikap akan diuji oleh publik.

Saling mengkritisi satu dengan yang lain merupakan sesuatu hal yang harus terjadi dan ditradisi. Tentu saja dengan kemasan tawasubilhaq.

Tujunya, salah satunya, demi proses pendewasaan karena kritik adalah pengingat diri. Semoga saja.***