Opini

Memilih Sekolah dan Problem Pendidikan Kita

×

Memilih Sekolah dan Problem Pendidikan Kita

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi (Istock)

OLEH: ACE SOMANTRI — Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung

BANDUNGMU.COM — Setiap akhir tahun akademik ada kesibukan bagi para penyelenggara pendidikan.

Mulai dari kegiatan evaluasi hasil belajar satu semester yang dilalui juga mengevaluasi kegiatan lain dalam satu tahun akademik.

Selain mengevaluasi, ada juga mengoordinasikan untuk persiapan pergantian tahun akademik atau tahun ajaran.

Pihak penyelenggara pendidikan selain sibuk evaluasi dan koordinasi, gencar mempromosikan institusinya untuk menerima calon-calon peserta didik.

Berbagai cara membuat kemasan promosi agar dapat diminati para user, khususnya para orang tua sebagai wali dari anak-anak yang akan masuk sekolah ataupun perguruan tinggi.

Jumlah sekolah sangat banyak. Namun sekolah yang memenuhi kriteria sesuai dengan era hari ini dan hari esok harus ada tracking portfolio sekolah yang akan dipilih orang tua untuk menitipkan anaknya.

Hal itu penting untuk menjamin keberlangsungan belajar anak-anak ke depan. Pasalnya ketika anak disekolahkan di situ akan ada investasi.
Namun jika salah pilih sekolah, maka akan sulit mencapai break even point (harapan) yang sudah diinvestasikan.

Baca Juga:  Pendidikan Islam Abad 21 Perlu Menyeimbangkan Pengetahuan dan Karakter

Maaf, jangan salah menafsir tentang investasi yang dimaksud karena apabila salah menafsir bisa menganggap menerapkan mindset kapitalisme oriented dalam mendidik anak.

Investasi yang dimaksud bahwa pendidikan itu instrumen penting penentu masa depan anak.

Sebagai generasi orang tua yang mendapat amanah untuk menumbuhkembangkan potensi mereka, secara otomatis menjadi generasi bangsa, maka semakin baik generasi semakin baik juga masa depan bangsa.

Ada bermacam ragam pola dan sistem pembelajaran yang ditawarkan sekolah, khususnya sekolah swasta. Inovasi dan kreasi model pengembangan pembelajaran kekinian terus dimodifikasi.

Secara umum semua sekolah menawarkan konsep pembelajaran yang membentuk karakter, tapi tawaran itu perlu cek dan ricek kurikulum yang dikembangkan.

Tidak sedikit sekolah masih menggunakan pola konvensional atau gaya lama. Prinsipnya yang penting asal jalan dan terpenuhi kuota kursi yang ditawarkan.

Kebanyakan sekolah yang sudah lama, kelemahannya masih mempertahankan pola lama. Padahal, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini berlangsung super cepat.

Ada sekolah yang menawarkan model baru pembelajarannya. Skema kurikulum yang dikembangkannya tergolong kekinian seperti enterpreneur school, digital school, digipreneur school, dan boarding school berbasis tahfiz. Hanya kelemahannya sekolah tersebut portofolionya belum memiliki jam terbang yang cukup.

Baca Juga:  Organisasi dan Inventaris Hidup

Akhirnya orang tua cukup kebingungan memilih sekolah untuk anak-anaknya. Kriterianya bukan hanya melihat performa sekolah, melainkan pertimbangan biaya sekolah.

Dari sekian kriteria sekolah ideal yang diinginkan orang tua, selanjutnya disinkronkan dengan kemampuan finansial.

Inilah kata kunci, bahwa pendidikan adalah investasi, karena dengan biaya yang dikeluarkan itu bentuk investasi yang akan di jalankan oleh pihak pengelola sekolah.

Jika salah kelola akan berdampak pada benefit yang akan didapatkan kedua belah pihak, yaitu orang tua sebagai investor dan sekolah sebagai penerima amanah mengelola.

Sekalipun sekolah sebagai nobel industri, banyak sekolah yang mengkapitalisasi untuk dijadikan industri usaha jasa, terindikasi ada unsur bisnis oriented.

Pembiayaan sekolah tergolong bagus, sangat mahal, dan yang bisa mengakses hanya orang kaya raya.

Fenomena sekolah tersebut tidak masuk kategori industri mulia, lebih tepatnya industri atau usaha jasa pendidikan.

Seharusnya negara hadir memberikan solusi untuk menekan penyimpangan kebijakan dunia pendidikan.

Baca Juga:  Majelis Hukum Aisyiyah Kalbar Edukasi Siswa SD Muhammadiyah 2 Pontianak Tentang Bahaya Cyberbullying

Sekalipun pada akhirnya pemerintah berdalih sudah ada sekolah yang benar-benar dibiayai negara, tapi kuotanya terbatas dan model pengembangan kurikulumnya cenderung statis atau tidak update.

Ketika sekolah menjadi nobel industri, seharusnya pendekatan pengelolaan harus seperti mengelola industri usaha dan total quality management sebagai basis pengelolaannya. Orientasi mutu lulusan menjadi standar akhir dari sekian standar yang dipenuhi.

Kemuliaan dalam pendidikan dipotret pada sisi proses produksinya. Artinya, penyelenggara pendidikan sebagai produsen yang melahirkan produk manusia yang memiliki kemampuan, keterampilan, dan sikap sesuai dengan tuntutan memenuhi kebutuhan untuk mempertahankan hidupnya.

Manajemen produksi dalam mencetak manusia yang memiliki kemampuan, keterampilan, dan sikap membutuhkan waktu panjang. Beda dengan produksi barang yang hanya membutuhkan waktu cukup cepat.

Selain proses produksi, kemuliaan pengelola pendidikan bernilai strategis untuk melahirkan khalifah di bumi.

Keberlangsungan kehidupan terus berlanjut dengan penuh harmonis antar-sesama untuk menuju tujuan akhir dalam hidup.

Sekolah hanya salah satu instrumen untuk membantu manusia mewujudkan cita-cita dan tujuan mulia. Semoga demikian.***