OLEH: Bripka Hamzah Mardiansyah, S.E., M.H.**
BANDUNGMU.COM–Alhamdulillah, kita masih berkesempatan bertemu bulan yang agung, mulia, dan yang dinanti-nanti umat Islam sedunia, yaitu bulan Ramadhan.
Coba perhatikan, tetangga, teman sejawat, keluarga, mungkin di antara mereka ada yang tidak dapat bertemu lagi dengan bulan penuh ampunan ini karena sudah tutup usia.
Bertemu kembali dengan Ramadhan ialah salah satu nikmat yang luar biasa, karena kita masih bernafas. Artinya, Allah masih berikan kita umur.
Mari manfaatkan kesempatan ini dengan aktivitas yang penuh manfaat dan jangan sampai kita menjadi orang yang merugi.
Bukankah sifat manusia tak mau rugi? Bukankah manusia selalu menuntut keuntungan?
Jelas, sebagaimana Allah mengisyaratkan bahwa manusia yang merugi ialah yang hari ini sama dengan hari kemarin.
Allah Swt berfirman,”Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang terdahulu sebelum kamu, mudah-mudahan kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa” (QS Al Baqarah [2]: 183).
Dari penggalan ayat tersebut, tergambar jelas bahwa Allah menyeru dan memanggil hamba-Nya secara khusus, yaitu siapa saja yang beriman.
Sedangkan di luar itu (tidak beriman) tidak masuk dalam seruan-Nya. Maka, bila kita masih menghirup udara hingga detik ini, yakinlah bahwa itu salah satu tanda Allah sayang pada kita, mengapa?
Siapa yang merugi?
Karena Allah masih memberi kita kesempatan! Jadi, dengan kata lain, amat rugilah mereka yang mengaku beriman kepada Allah, tetapi tidak berpuasa.
Lalu, pada frasa berikutnya, bahwa puasa itu sifatnya wajib, perintah langsung oleh Allah. Namun dari sisi bahasa, makna ‘wajib’ tersebut bersifat pasif.
Artinya, manusialah yang harus berpuasa, sebab manusia menjadi subjek dan puasa sebagai objek perintah sehingga jatuhlah hukum wajibnya.
Selanjutnya, Allah memberitakan kepada kita bahwa puasa ini juga diperintahkan kepada orang-orang terdahulu sebelum kita.
Mengapa Allah mengabarkan ini? Tak lain supaya manusia dapat mencontoh umat terdahulu bagaimana cara berpuasa, seperti yang dicontohkan Rasulullah Saw dan para sahabatnya.
Adapun dalam frasa terakhir, inilah tujuan utama dari berpuasa, yakni agar orang-orang yang berpuasa (orang beriman) menjadi umat yang bertaqwa.
Ingat, Allah berfirman dalam Surah Al Hujurat ayat 13 yang artinya, “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”
Anak Muda Terhanyut Game Online Higgs Domino Island
Ada sebuah fenomena aneh di tengah-tengah masyarakat, khususnya yang dilakukan para pemuda.
Mereka hanyut dalam salah satu game yang sedang digandrungi, yaitu Higgs Domino Island, yang saat ini telah diunduh hingga 50 juta kali. Luar biasa!
Sebetulnya game ini biasa saja, seperti game pada umumnya. Tapi, bila dikembangkan di dalamnya terdapat Slot. Anak zaman sekarang menyebutnya Chip atau Nyelot.
Jika Anda melihat ada pemuda berkumpul, lalu gadget-nya dimiringkan bisa dikatakan 75% itu main slot.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) bahkan mengharamkan game online ini, tapi anehnya permainan ini masih digandrungi hampir semua kalangan. Mengapa?
Di sini faktor X-nya. Di dalam game tersebut setiap pemain harus memiliki sejumlah angka nominal (Chip) untuk bermain.
Nah, di sanalah candu itu dimulai, karena Chip ini diperjualbelikan. Lalu muncullah nilai ekonomisnya, yakni pemain yang berhasil mendapatkan Chip sejumlah sekian, misalnya, maka Chip tersebut bisa dijual kepada pemain yang lainnya.
Pemilik Chip disebut sebagai bandar Chip. Dan tidak semua orang bisa membeli Chip dan mengaksesnya, kecuali mereka (para pemain) saja.
Tulisan ini tidak sedang membahas halal-haram, boleh atau tidak boleh, legal atau ilegal permainan tersebut.
Namun, yang perlu dibahas ialah fenomena bermain game pada waktu berpuasa, terlebih game Higgs Domino yang dimainkan sebagian besar anak muda.
Esensi puasa sejatinya mengajari kita untuk bersabar. Sabar dalam membatasi diri dari hal-hal yang tidak berguna.
Salah satunya setan yang terselubung itu adalah game. Alih-alih mengisi waktu dengan yang manfaat, malah seharian mereka bermain game.
Merusak ibadah
Perbuatan mereka tentu merusak nilai ibadah puasa, sehingga puasanya hambar tak bernilai.
Ibarat sayur asem, tiada garam tiada bumbu, rasanya seperti air biasa. Begitulah puasa yang sia-sia.
Padahal, Allah menyediakan bulan Ramadhan ini hanya satu kali dalam setahun. Semestinya bulan penuh barakah itu kita sambut dengan suka ria.
Sebagaimana sering disebutkan, “Berapa banyak orang yang berpuasa, tiadalah berguna puasanya melainkan hanya sebatas menahan haus dahaga dan lapar.” (HR Thabroni)
Sebab itu, hai pemuda harapan bangsa, jangan habiskan waktumu dengan hal tak berguna. Silakan bermain game, sebatas mengisi waktu, bukan menghabiskannya, apalagi di bulan puasa ini.
Bukankah Allah berjanji, setiap amalan di bulan Ramadhan akan berlipat? Bukankah setiap yang Sunnah akan dinilai dengan pahala wajib?
Mumpung puasa baru beberapa hari, mari perbaiki kembali program harian kita, agar lebih bermakna dan bermanfaat.
**Ba Satsamapta Polres Bengkulu, Alumnus MAN Model Kota Bengkulu











