PMB UMbandung
Edukasi

Inilah 5 Kunci Membangun Generasi Kokoh di Tengah Era Disrupsi

×

Inilah 5 Kunci Membangun Generasi Kokoh di Tengah Era Disrupsi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi (Istockphoto)
PMB UMBandung

BANDUNGMU.COM — Di tengah terpaan era disrupsi yang penuh dengan kejutan dan ketidakpastian, keluarga memiliki peran pokok dalam mendidik generasi muda agar memiliki religiusitas atau kematangan beragama berdasarkan prinsip-prinsip pokok ajaran Islam.

“Keluarga harus (menciptakan lingkungan ideal) membantu anak untuk bisa berhijrah keyakinan, hijrah pemikiran, hijrah perasaan, hingga hijrah sulukiyah atau perilaku,” kata Wakil Ketua Lembaga Pengembangan Pondok Pesantren Muhammadiyah (LP3M) PP Muhammadiyah Khoiruddin Bashori dalam Pengajian Ramadhan 1443 H, Kamis (07/04/2022).

Khoiruddin mengutip ayat 129 Surah Al Baqarah tentang kualifikasi Rasul. Ayat ini menurut Khoiruddin menyimpan lima kata kunci sebagai sarana untuk mengembangkan religiusitas di dalam keluarga.

Baca Juga:  Perluas Bidang Riset, UM Bandung Jalin Kerja Sama dengan SEAMEO CECCEP

Kesatu, tilawah, yakni kebiasaan membaca Al Quran beserta berbagai macam buku-buku lain. Kedua, taklim, yakni mengajari anak dengan cara yang inspiratif.

Ketiga, kitabah, yakni pembiasaan tradisi menuliskan gagasan dari pikiran yang muncul pada proses sebelumnya. Keempat, hikmah, yakni mengambil pelajaran terbaik dari realitas yang ada. Kelima, tazkiyah atau upaya membersihkan hati.

Jika lima hal ini dilakukan, Khoiruddin percaya akan lahir generasi penerus yang kokoh menghadapi disrupsi selaras dengan Surah Al Anbiya ayat 105.

“Anak-anak seperti ini akan jadi petarung sejati yang siap menghadapi segala sesuatu, baik dan buruk dengan keridhaan,” tuturnya mengutip makna radhiyatan rardhiyah dalam Surah Al-Fajr ayat 28.

Baca Juga:  Asyiknya Wisata Edukasi di Museum Geologi Bandung

Lebih lanjut, mereka juga berani karena istikamah dalam kebenaran sehingga muncul sifat seperti dalam Surah Fussilat ayat 30.

Karena pranata keluarga telah terbentuk ideal, selanjutnya adalah anak-anak itu tumbuh sebagai anak yang religius. Namun, produktif dan peduli sehingga mendukung dirinya memaknai kehadirannya di bumi sebagai seorang khalifah.

“Oleh karena itu maka kalau kita mengaku sebagai khalifah kok tidak punya kreasi apa pun, itu berarti menyalahi tugasnya sebagai khalifah,” kata Khoiruddin seperti dikutip dari laman resmi Muhammadiyah.

Bahkan anak-anak ini bisa memiliki tiga sifat Rasulullah sebagaimana tersirat dalam hadis riwayat Muslim nomor 4226, yakni baik hati, berani, dan dermawan.

Baca Juga:  Haedar Nashir Ungkap Delapan Nilai Utama Hadapi Covid-19

Jika semua unsur itu sudah terpenuhi, tidak mustahil dari sebuah keluarga itu akan lahir generasi dengan sifat qawwamina sebagaimana dalam Surah Al Maidah ayat ke-8.

Khoiruddin lalu mengutip penafsiran Buya Hamka terhadap makna dari kata qawwamina ini.

“Qawwamina menurutnya berkepala tegak, memiliki harga diri penuh, berjiwa besar karena hati bertauhid, tidak tampak merundukkan diri selain kepada Allah semata. Pribadi demikian selalu bersifat lemah lembut tapi teguh dalam memegang prinsip-prinsip kebenaran. Tidak terombang-ambing oleh hembusan angin peradaban dan tidak terhuyung ketika ditempa musibah dan tidak pongah ketika mendapat keuntungan,” ringkasnya.***

PMB UMBandung