Haedar Nashir Ungkap Delapan Nilai Utama Hadapi Covid-19

oleh -
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir

BANDUNGMU.COM — Ketua Umum PP Muhammadiyah menyampaikan bahwa kehadiran pandemi Covid-19 niscaya menjadi ibrah dan hikmah yang menumbuhkan pandangan dan sikap luhur berbasis nilai-nilai utama (al-qiyam al-fadilah). Dalam Pidato Milad Muhammadiyah ke-109 pada Kamis (18/11/2021), ia menyebutkan delapan nilai utama yang dapat dikembangkan, di antaranya:

Pertama, nilai ketauhidan untuk kemanusiaan

Tauhid merupakan asas paling mendasar dalam Islam. Tauhid dalam Islam tidak terbatas menyangkut aspek iman untuk mengesakan Tuhan semata, bersamaan dengan itu tauhid maupun iman dan takwa terkait dengan urusan kemanusiaan dan kehidupan. Karenanya, kata Haedar, dari musibah covid-19 dapat dipetik hikmah menguatkan keyakinan kaum beriman bahwa sikap bertauhid meniscayakan kepedulian pada persoalan kemanusiaan, termasuk menyelamatkan jiwa manusia.

“Kehidupan berbasis tauhid adalah realitas yang integral, holistik, monistik, dan universal. Tauhid itu multidimensi, baik vertikal dalam hubungan dengan Allah maupun horizontal dalam relasi kemanusiaan dan alam semesta. Itulah kredo tauhid yang melahirkan ihsan kepada kemanusiaan dan rahmat bagi semesta alam,” tutur Haedar.

Kedua, nilai pemuliaan manusia

Haedar mengatakan bahwa pandemi covid memberikan pembelajaran pentingnya untuk memuliakan manusia atau jiwa dan fisik manusia agar dihargai dan diselamatkan, sebaliknya jangan sampai diabaikan, disia-siakan, dan direndahkan. Ketinggian martabat manusia diawali dari penciptaannya sebagai makhluk terbaik (QS. Al-Tin: 4) dengan kedudukan dan tugas selaku “‘abdullah” untuk mengabdi kepada Allah (QS. Al-Dzariyat: 56) dan “khalifah fī al-ardh” untuk memakmurkan bumi (QS. Al-Baqarah: 30; Hud: 61).

“Pemuliaan derajat itu tidak diberikan dan dimiliki makhluk Tuhan lainnya. Karenanya menjadi suatu hal yang bertentangan dengan prinsip penciptaan manusia manakala ada di antara manusia yang tidak menghargai atau merendahkan keberadaan dirinya atau sesamanya, padahal Allah Yang Maha Pencipta memuliakannya,” kata Haedar.

Ketiga, nilai persaudaraan dan kebersamaan

Pandemi ini masalah bersama. Tindakan satu orang berpengaruh terhadap pihak lain dan lingkungan sekitar. Manusia tidak bisa egois dan merasa bebas dari wabah ini, sebab hal tersebut merupakan bagian dari penderitaan semua umat manusia. Kaum beriman memang diajarkan bersabar dan tawakal dalam menerima musibah, namun bukan berarti insan beriman abai dan tidak peduli terhadap keadaan.

“Hal ini termasuk dalam merasakan penderitaan saudaranya yang terpapar dan lebih-lebih yang meninggal dunia. Karenanya diperlukan rasa persaudaraan dan kebersamaan dari semua pihak sebagai wujud aktualisasi nilai utama agar menjalani kehidupan bersama di tengah perasaan satu nasib,” ucap Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini.

Keempat, nilai kasih sayang

Islam mengajarkan nilai “tarahum” atau welas asih dengan sesama secara praksis. Al-Ma‘un mengandung praksis kemanusiaan pro-duafa yang berwatak welas asih itu. Mengutip Dokter Soetomo, tokoh Boedi Oetomo yang juga perintis Klinik PKU Muhammadiyah Surabaya tahun 1924, nilai welas asih (kasih sayang) berbeda dengan pandangan tentang perjuangan manusia dalam seleksi alam ala Charles Darwin (The Orogin Of Species), bahwa hanya organisme unggul yang akan mampu bertahan dalam perjuangan hidup.

“Ajaran welas asih dari Al-Mā‘ūn justru mendasarkan perjuangan hidup secara bersama sehingga yang kuat mau berbagi dengan yang lemah, bukan sebaliknya mengorbankan yang lemah. Mereka yang lemah pun tetap berbuat baik terhadap sesama,” tegas pria kelahiran Bandung, 25 Februari 1958 ini.

Kelima, nilai tengahan atau moderat

Muhammadiyah dalam menghadapi pandemi Covid-19 mengembangkan pendekatan wasathiyah dengan mengambil langkah berdasarkan pertimbangan “rasional-ilmiah” dan “spiritual-rohaniah”. Muslim tidak boleh memiliki sifat “al-jubnu”, yakni takut berlebihan dalam menghadapi keadaan. Sebaliknya dilarang bersikap “tahawwur”, yaitu nekad tanpa perhitungan. Adapun sikap yang dianjurkan ialah “syaja‘ah”, yakni berani dengan seksama. Itulah ajaran “wasathiyyah Islam” dalam bersikap menghadapi sesuatu yang tidak menyenangkan agar tidak terjebak pada sikap ekstrem atau berlebihan.

“Muhammadiyah berusaha mengembangkan nilai moderat atau Wasaṭiyah yang berprinsip dan autentik, tanpa merasa paling Wasaṭiyah, tetapi tidak pula bias Wasaṭiyah yang atas nama moderat membenarkan “apa saja” dan menjurus pada hal-hal yang ekstrem (guluw atau taṭarruf). Nilai Wasaṭiyah Muhammadiyah didasarkan pada rujukan Al-Quran, Sunah Nabi yang maqbūlah, dan ijtihad dengan pendekatan bayani, burhani, dan irfani yang interkoneksi didukung khazanah ilmu dan hikmah,” ucap Haedar.

Keenam, nilai kesungguhan berusaha

Usaha mengatasi pandemi merupakan komitmen dan tanggungjawab bersama. Konsistensi melaksanakan kebijakan oleh pemerintah, disiplin menjalankan protokol kesehatan, melakukan vaksinasi, dan berbagai langkah lainnya merupakan keniscayaan dalam mengatasi pandemi ini. Segala ikhtiar maksimal yang bersifat rasional-ilmiah dan spiritual-rohaniah harus terus dilakukan sebagai jalan jihād untuk mengakhirinya. Allah memberikan jalan lapang bagi siapapun yang bersungguh-sungguh dalam berjuang mengatasi masalah kehidupan (Q.S. Al-Ankabut: 69).

Ketujuh, nilai keilmuan atau ilmiah

Pandemi ini meniscayakan pentingnya manusia bersandar pada ilmu. Ilmu yang mencerdaskan dan mencerahkan kehidupan. Para ahli epidemiologi, ahli virus, kedokteran, dan para ilmuwan lainnya telah memberi sumbangan berharga dalam memahami dan menghadapi virus Corona yang mengguncang dunia selama dua tahun ini. Demikian halnya dengan ditemukannya vaksin yang memberikan salah satu jalan untuk memgatasi pandemi ini, meskipun bukan satu-satunya jalan.

Kedelapan, nilai kemajuan

Haedar mengatakan bahwa manusia diajari Tuhan dengan berbagai cara. Musibah boleh jadi merupakan cara Tuhan agar manusia terus mengungkap rahasia ciptaan-Nya yang sangat luas dan tak terbatas, bersyukur atas segala nikmat-Nya, serta mengakui Kemahakuasaan-Nya. Di sinilah pentingnya membangkitkan nilai dan etos kemajuan bagi seluruh manusia atas musibah yang mewabah di seluruh dunia ini.***(Muhammadiyah.or.id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *