Opini

Hijrah, Momentum Meninggalkan Cara Berpikir Jahiliyah

×

Hijrah, Momentum Meninggalkan Cara Berpikir Jahiliyah

Sebarkan artikel ini

Oleh : Ace Somantri Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung

BANDUNGMU.COM, Bandung — Putaran waktu tidak pernah berhenti, detik ke detik menjadi menit, dari menit ke menit menjadi jam, dan dari jam ke jam menjadi hari serta dari hari ke hari menjadi pekan dan bulan.

Selanjutnya kumpulan waktu tersebut menjadi satu tahun bulat yang terus berputar tidak pernah berhenti satu detik pun.

Maka dengan kekuasaan dan kebesaran Allah yang Maha Kuasa tidak ada satupun mahluk mampu membalikan waktu.

Yang paling penting saat ini selama masih di berikan kesempatan bernafas di dunia untuk tidak di sia-siakan.

Kualitas seseorang atas nama indivudu, kelompok sosial, bangsa dan negara di tentukan sejauhmana kemampuan produktifitas mengisi dan nilai isinya.

Hakikatnya di belahan dunia manapun, waktu itu tidak ada bedanya sama-sama penghuni planet bumi, sehingga tidak ada alasan kualitas hidup dan kehidupan tertinggal jauh dari saudara-saudara kita yang sudah melampaui dari standar minimum, bahkan maju berkembang melebihi tuntutan kebutuhan manusia.

Baca Juga:  Pengelolaan Keuangan Negara Dalam Laju Pertumbuhan Sistem Ekonomi Kerakyatan

Selama ini momentum tahun hijriyah hanya sekedar ada prosesi penyambutan bersifat syiar ceremonial yang banyak pada entertainment.

Sementara nilai-nilai yang di ambil dari hikmah pergantian tahun hijriyah masih sangat minim, padahal lebih dari 14 abad yang lalu.

Melihat pendekatan historis, awal tahun hijriyah di gagas oleh khalifah rasyidah Umar Ibnu Khattab yang terhitung di mulai pada masa awal hijrahnya Rasulullah Muhammad SAW dari Makkah ke Yatsrib atau Madinah.

Awal tahun hijriyah otomatis refleksi perjuangan ( jihad ) Rasulullah dalam menegakkan ajaran Islam sebagai ajaran yang menyelamatkan manusia dan alam semesta.

Ada beberapa catatan untuk di jadikan hikmah, spirit dan motivasi bagi umat Islam lebih maju dan berkembang sesuai tuntutan ajaran dan realitas kehidupan.

Baca Juga:  Inilah 3 Tips Menghindari Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Di antara hikmahnya ; Pertama, momentum mengevaluasi diri atau introspeksi diri terhadap sejauh mana nilai bobot perbuatan sebagai hamba kepada Rabbnya.

Kedua, Momentum hijrah di maknai sebagai awal peningkatan kualitas kerja dan karya lebih produktif.

Ketiga, momentum memberikan spirit bersungguh-sungguh dalam beramal baik sekalipun banyak hambatan dan rintangan.

Keempat, merancang ulang kontruksi gerakan berjamaah untuk beramar maruf nahyi munkar.

Sedikit dari sekian banyak hikmah dari pergantian tahun hijriyah, kiranya semua memahami bahwa momentum hijriyah sering terlewati begitu saja tanpa ada penekanan secara utuh.

Hal itu masih terkesan sesuatu yang biasa, padahal momentum hijriyah nilai spiritnya sangat besar signifikansinya terhadap kemajuan individu dan kelompok sosial, baik itu ormas Islam, Yayasan Islam, Perhimpunan Komunitas Muslim serta organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan muslim.

Wajar saja kemajuan peradaban Islam cenderung melambat dan terkesan statis- stagnan.

Makanya pada forum-forum pengajian dan kajian intelektual tidak berhenti dalam meja diskusi, melainkan masuk pada ranah aksi yang terencana, terstruktur, dan terukur.

Baca Juga:  Sekum PP Muhammadiyah Jelaskan Maksud Politik Sebagai Media Dakwah

Jadi apabila sistematis aksinya, setiap waktu yang tepat maka akan relatif mudah mengukur indikator ketercapaian sebuah hasil kerja dan produktifitas karya.

Selain hal tersebut, pola dan model memahami keteladanan nabi bukan hanya ritual hijrahnya jarak tempuh perjalanan dari Makkah ke Yatsrib semata, melainkan kesungguhan dan konsistensi untuk tetap mencari solusi membangun sebuah peradaban manusia dan alam semesta yang mendunia.

Momentum hijriyah sekaligus refleksi pembangunan peradaban dunia Islam yang rahmatan lilalamin.

Yatsrib di ubah menjadi al Madinah al Munawarah sebuah simbol peradaban Islam yang menyala menerangi gelapnya semesta alam jahiliyah.

Cahaya peradaban tidak pernah padam, sebuah simbol nilai yang berpengaruh sangat besar dari sosok seorang nabiyullah yang paling sempurna.

Bandung Juli 2022