Opini

Muhammadiyah Karawang: Pusat Dakwah Strategis

×

Muhammadiyah Karawang: Pusat Dakwah Strategis

Sebarkan artikel ini

Oleh: Ace Somantri, Dosen Universitas Muhammadiyah

BANDUNGMU.COM — Hari bermuhamamdiyah menjadi tradisi di berbagai level pimpinan di masing-masing daerah berbagai provinsi, kota, atau kabupaten seluruh Indonesia.

Dalam menyambut milad, semarak dan muktamar Muhamamdiyah ke-48, kiranya momentum bersama Muhammadiyah menjadi saat yang tepat untuk saling mengingatkan dalam kebaikan dan kebenaran.

Eksistensi Muhamamdiyah terus berjalan dengan berbagai hal ihwal kegiatan, dalam semarak tersebut ada kegiatan jalan sehat diikuti 1.000 orang lebih.

Kegiatan yang dijalankan menjadi amanah institusi persyarikatan Muhamamdiyah, baik tingat pusat, wilayah, daerah, cabang, dan ranting.

Di berbagai daerah, termasuk Muhammadiyah Karawang, terus melakukan kegiatan-kegiatan persyarikatan dalam rangka syiar dakwah amar maruf nahi munkar.

Masjid Al-Ghamar saat ini pusat kegiatan harian, pekanan, dan bulanan. Selain untuk ibadah shalat, pun sama kegiatan unit usaha waralaba logmart hadir melayani kebutuhan makanan dan minuman ringan.

Lokasi ini juga ada tempat untuk rest area sambil melihat aktivitas olahraga memanah. Sejak awal pendirian masjid hingga saat ini ada perubahan, tetapi belum signifikan.

Baca Juga:  Puasa dari Dosa Digital: Menyucikan Batin di Era Teknologi

Sebagai warga pesyarikatan, dalam waktu tertentu sempat mengisi beberapa kali jumatan sebagai khatib Jumat. Ternyata jamaahnya lumayan banyak, walaupun tidak berdiri di tengah-tengah pemukiman warga.

Ada hal yang menggelayut dalam benak pikiran, terlintas dalam bayangan bahwa lokasi sangat strategis untuk pengembangan syiar dakwah multi-kebutuhan pelayanan masyarakat, sepertinya harus dibuatkan unit-unit lain yang pas dan tepat.

Dakwah tidak selalu berbicara verbal berpidato atau berceramah di depan publik dalam sebuah pengajian. Dakwah verbal dalam ceramah, saat itu terdengar pepatah dan petuah cukup menarik dan antusias. Namun, sayang sekali setelah pulang dari pengajian lupa lagi apa yang didengar.

Maka fenomena tersebut harus jadi catatan perbaikan dalam berdakwah bahwa member inspirasi dan motivasi untuk mengajak kebaikan yang benar untuk diubah dengan pola dan model yang berbeda, tetapi berdampak jauh lebih terasa dan berasa.

Baca Juga:  Menggerakan Muhammadiyah, Menggempur Nafsu Duniawi

Berat memang, tetapi harus dilakukan untuk perubahan yang lebih dinamis. Muhammadiyah harus mampu memberi solusi menyelesaikan masalah yang muncul di masyarakat, mulai dari urusan besar, sedang, kecil, dan sangat kecil.

Seperti urusan kebangsaan dan kenegaran, urusan organisasi persyarikatan Muhammadiyah, dan juga masalah keluarga setiap warga.

Kurang lebih 7.000-an meter lebih area wakaf milik persyarikatan Muhammadiyah berdiri masjid dan waralaba logmart, selebihnya belum dimaksimalkan, posisi dijalan utama keluar jalan tol Karawang barat menuju arah kota.

Jikalau dilihat dari harga saat ini, konon kabarnya lebih dari 10 juta lebih per meter, artinya aset tersebut ketika dikaji pendekatan ekonomi bisnis sangat-sangat potensial dan strategis, selain nilai aset di angka miliyaran rupiah.

Maka produktivitasnya berharap melebihi dari nilai aset yang ada dalam bentuk lahan tersebut. Lahan-lahan potensial seperti itu, bukan hanya di Karawang, sangat mungkin banyak di tempat-tempat lainnya.

Baca Juga:  Rajaban, Isra Mikraj, dan Tradisi Kemanusiaan

Sehingga ke depan persyarikatan wajib memiliki peta yang akurat kondisi objektif situasi aset, sumber daya manusia, dan kekuatan organisasi persyarikatan Muhammadiyah.

Kekuatan Muhamamdiyah sebagai entitas bangsa, salah satu dari sekian entitas pendiri bangsa dan negara, dengan usia dan perjalanan panjang relatif lebih dewasa dari entitas lainnya.

Maka Muhammadiyah harus benar-benar memiliki data peta potensi dan kekuatan organisasi sebagai bahan dasar pembangunan kesejahteraan warga.

Sehingga ketika ada aset yang belum dimanfaatkan untuk lebih cepat di kembangkan sesuai kebutuhan masyarakat dan organisasi persyarikatan.

Networking yang dimiliki Muhammadiyah secara institusional menjadi salah satu pendorong para penggerak persyarikatan membangun relasi sosial ke berbagai pihak untuk berkolaborasi dalam peningkatan dan pengembangan produktifitas aset untuk amal usaha Muhammadiyah.

Produktivitas aset menjadi bernilai lebih ketika berdampak pada peningkatan kesejahteraan batin dan lahir bagi warga dan masyarakat. Wallahu ‘alam.***