Oleh: Ace Somantri, Dosen UM Bandung
BANDUNGMU.COM — Semua orang yang lahir di dunia, baik yang terpelajar maupun yang tidak terpelajar sudah dipastikan memiliki aktivitas kegiatan (amalan) rutin setiap harinya.
Kegiatan sehari-hari menjadi bagian dari hidup setiap orang, mulai dari usia anak-anak, remaja, dewasa dan lanjut usia.
Bermacam ragam kegiatan. Untuk usia anak dan remaja mereka lebih banyak aktivitas pembelajaran formal di sekolah atau madrasah hingga perguruan tinggi.
Sementara orang dewasa dan lansia, kebanyakan bekerja, usaha, atau kegiatan lainnya yang menjadi kegiatan pokok sebagai orang dewasa.
Bermacam ragam kegiatan orang dari anak hingga dewasa pada prinsipnya dilakukan atas dasar kesepakan dan komitemen untuk menjalankan suatu pekerjaan, baik itu belajar atau bekerja dalam sebuah perusahaan atau instansi.
Bekerja dan usaha pada dasarnya sebuah perjalanan fitrah manusia yang hidup di dunia. Oleh karena itu, wajar ketika seseorang berusaha atau bekerja so pasti ada maksud dan tujuan yang akan dicapai.
Saleh sosial
Diterima atau tidak, setuju atau tidak, dan disukai atau tidak siapa pun yang melakukan sesuatu hal pasti maksud dan tujuannya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan jasmani dan ruhani.
Lebih praktisnya tujuan setiap orang melakukan pekerjaan tiada lain untuk mempertahankan hidup untuk diri dan keluarganya. Sebenarnya dan sebaiknya hal ihawal yang dilakukan setiap manusia harus atas dasar semata-mata ibadah kepada Allah SWT.
Hanya perlu dicatat bahwa ibadah kepada Allah SWT senyatanya tidak hanya berhenti pada ritualitas formal rukuk dan sujud menghamba. Namun, harus memiliki efek dan dampak pada perilaku setiap saat di mana pun berada (saleh sosial).
Etos kerja merupakan sebuah tuntutan substansial dalam dunia kerja, baik sebagai pelaku dunia wirausaha atau staf dan karyawan pada sektor formal dan non formal.
Produktivitas kinerja akan terwujud manakala etos kerja menjadi bagian tak terpisahkan dari karakater individu orang yang menjalankan segal hal ihwal yang dikerjakan.
Hakikat etos kerja
Ada beberapa jenis etos kerja. Misalnya etos bekerja keras, yakni sikap seorang pelaku usaha atau karyawan dalam setiap mengerjakan sesuatu pekerjaan senantiasa mengeluarkan seluruh potensi dan kekuatan.
Dengan demikian akan terpatri tekad untuk menyelesaikan atau menuntaskan pekerjaanya sesuai dengan target yang akan dicapai dan sesuai dari yang telah direncanakan.
Selanjutnya etos disiplin, yakni sikap seseorang menjadi pekerja atau pelaku usaha untuk on the track pada komitmen waktu yang ditentukan atau direncanakan hingga tidak mengganggu agenda-agenda lainnya.
Etos berikutnya profesional, yakni setiap orang yang sudah komitmen terhadap seuatu hal yang dikerjakan akan menjalankan sesuai petunjuk dan ketentuan bidang pekerjaan dan keahlian yang dimiliki. Dengan komitmen tersebut sehingga terpenuhi dan tercapai tujun dari apa yang dikerjakan atau di usahakan.
Kekuatan berjamaah, saling dukung atau gotong royong sebuah etos yang melegenda dan membudaya sejak peradaban manusia ada.
Saat ini, sejak abad modern hal itu justru sedikit terkikis karena dampak sikap perilaku manusia yang cenderung individualis.
Semua itu terjadi akibat dari rusaknya sistem sosial kapitalis yang memisahkan kelompok fakir miskin dan duafa dengan orang-orang kaya raya.
Ikhlas dan cerdas
Kerja ikhlas nan cerdas menjadi tambahan nilai etos kerja yang relatif sulit diukur, tetapi bukan berarti tidak dapat dijalankan. Justru etos ini salah satu sikap seseorang memiliki spirit dan motivasi spiritualitas cukup tinggi.
Dengan etos tersebut mampu menciptakan suasana batiniah bahagia dan senantiasa sejahtera sehingga kondusivitas kerja tetap terjaga dan harmonis.
Ikhlas nan cerdas menjadikan seseorang akan senantiasa menunjukkan sikap yang berusaha untuk menghindari kebohongan dan keculasan dalam kinerja atau beraktivitas usaha.
Pun ketika menghadapi masalah, tidak lantas mempersalahkan orang lain. Namun, senatiasa melakukan evaluasi diri dan memperbaiki yang dianggap tidak atau kurang tepat dalam kinerjanya.
Kerja keras, disiplin, profesional, dan ikhlas nan cerdas menjadi sebagian kecil etos kerja untuk meningkatkan produktivitas kinerja, baik itu dalam menjalankan profesi atau melakukan aktifitas usaha.
Etos kerja mendorong dan menciptakan kondusivitas lingkungan kerja dalam sebuah aktivitas pekerjaan di institusi perusahaan atau industri barang maupun jasa.
Dari itu semua etos kerja yang dimiliki bukan hanya berlaku bagi staf dan karyawan saja, melainkan berlaku bagi para owner atau CEO, direksi, atau pimpinan lainnya.
Bahkan etos kerja sejatinya harus ditunjukkan oleh para puncak pemimpin, bukan meminta dan menekan etos kerja kepada bawahan semata. Wallahu’alam.***















