PMB UMbandung
Opini

Media Sosial dan Tren Belanja yang Menjerat Anak Muda

×

Media Sosial dan Tren Belanja yang Menjerat Anak Muda

Sebarkan artikel ini
Sumber Foto: Kompas
PMB UMBandung

Fenomena budaya konsumtif di kalangan anak muda semakin terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Media sosial seperti TikTok, Instagram, dan X menjadi etalase gaya hidup yang menampilkan rekomendasi produk dan tren yang cepat berganti.

Bagi banyak anak muda, mengikuti tren bukan lagi soal hiburan. Aktivitas ini menjadi bentuk validasi sosial. Masyarakat sering menganggap produk yang sedang viral sebagai sesuatu yang wajib dimiliki agar tidak terlihat “ketinggalan zaman”. Akibatnya, belanja impulsif semakin umum, dari skincare hingga gadget.

Di kota besar seperti Bandung dan Jakarta, pola konsumtif ini makin kuat dengan maraknya konten “haul”, “racun belanja”, dan review singkat. Algoritma media sosial mempercepat dorongan belanja: semakin sering sebuah produk muncul, semakin besar keinginan untuk membelinya, meski tidak benar-benar dibutuhkan.

Baca Juga:  Saat Emosi Menjadi Senjata Utama di Ruang Publik Digital

Budaya konsumtif juga berdampak pada kesehatan mental. Tekanan untuk selalu tampil sesuai tren memicu stres dan rasa kurang percaya diri. Banyak anak muda akhirnya merasa harus menyesuaikan diri dengan standar hidup yang tidak realistis.

Selain itu, lonjakan konsumsi berdampak pada lingkungan. Permintaan fast fashion, aksesoris musiman, dan barang sekali pakai meningkatkan volume limbah yang sulit terurai. Padahal, generasi muda memiliki peran besar dalam memperbaiki pola konsumsi ini.

Karena itu, penting bagi anak muda untuk lebih bijak menghadapi arus konten belanja. Membangun kesadaran finansial, memilah kebutuhan, dan mempertimbangkan dampak ekologis adalah langkah awal. Media sosial seharusnya menjadi sumber inspirasi, bukan jebakan gaya hidup yang merugikan.***(IK22/Wafa)

PMB UMBandung