Opini

Saat Emosi Menjadi Senjata Utama di Ruang Publik Digital

×

Saat Emosi Menjadi Senjata Utama di Ruang Publik Digital

Sebarkan artikel ini
Sumber: geotimes.id

Media sosial awalnya dipandang sebagai ruang demokratis yang memberi kebebasan berekspresi. Namun, arus informasi yang kian deras justru mengubahnya menjadi arena konflik berbasis emosi. Politik identitas kini lebih dominan dibandingkan argumen rasional dalam diskusi publik digital.

Algoritma media sosial tidak bersifat netral. Platform digital memprioritaskan konten yang memicu emosi karena mampu menarik interaksi tinggi. Ketika isu politik dibungkus identitas kelompok, unggahan tersebut lebih mudah viral, meski kerap mengandung bias atau informasi tidak utuh. Polarisasi pun tumbuh sebagai konsekuensi langsung dari sistem yang mengutamakan reaksi cepat.

Politik identitas menggeser cara publik menilai isu. Rasa terancam terhadap identitas mendorong respons emosional, sementara verifikasi fakta sering terabaikan. Diskusi berubah menjadi pertarungan narasi “kami” dan “mereka”, bukan dialog berbasis data.

Baca Juga:  Aset Muhammadiyah dan Pilar Ekonomi Umat Islam

Rendahnya literasi digital memperparah situasi. Hoaks dan misinformasi mudah menyebar ketika pesan selaras dengan identitas kelompok. Akibatnya, media sosial lebih sering menjadi ruang penguatan emosi daripada pencarian kebenaran.

Tanpa kesadaran kritis terhadap algoritma dan penguatan literasi digital, politik identitas akan terus mendominasi ruang publik daring dan memperdalam polarisasi sosial.***(IK22/Cellinda)