Perkembangan teknologi digital bergerak sangat cepat. Dunia pendidikan Indonesia pun harus ikut menyesuaikan diri. Kehadiran artificial intelligence (AI), pembelajaran jarak jauh, aplikasi interaktif, hingga platform digital menunjukkan bahwa pendidikan tidak bisa lagi mengandalkan cara-cara lama.
Namun, di balik peluang tersebut muncul tantangan baru. Salah satu yang paling penting adalah bagaimana memastikan teknologi terutama AI tidak disalahgunakan dalam proses belajar.
Pakar teknologi pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Dr. Rendy Ardiansyah, mengingatkan bahwa AI tidak boleh menjadi alat untuk mempermudah kecurangan.
“AI harus menjadi pendamping belajar, bukan pengganti proses belajar itu sendiri. Tanpa literasi digital, pelajar bisa menyalahgunakannya dan kehilangan kemampuan berpikir mandiri,” ujarnya.
Ia menilai penyalahgunaan AI, seperti membuat tugas tanpa memahami materi atau mengandalkan jawaban otomatis, bisa melemahkan kemampuan berpikir kritis siswa.
Karena itu, pemerintah, sekolah, guru, dan orang tua perlu bekerja sama memperkuat literasi digital. Langkah ini penting agar teknologi memberikan dampak positif bagi generasi mendatang, bukan membuka celah baru untuk kecurangan atau penyalahgunaan.
Dengan pemanfaatan yang tepat, AI dapat membantu proses belajar menjadi lebih efektif tanpa menghilangkan peran pelajar dalam memahami materi.***(IK22/Resna)





