Banyak pihak sering menganggap kemunculan citizen journalism mengancam eksistensi jurnalis. Namun anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Jurnalis tidak akan tergantikan selama tetap menjaga esensi jurnalistik.
Esensi jurnalistik terletak pada proses peliputan yang mendalam dan profesional. Jurnalis tidak hanya melaporkan peristiwa, tetapi menggali sebab, dampak, dan konteksnya. Dalam kasus banjir, misalnya, jurnalis tidak berhenti pada laporan wilayah terdampak, tetapi menelusuri penyebab, dampak sosial, serta kelompok yang paling rentan.
Profesionalisme menjadi pembeda utama antara jurnalis dan citizen journalism. Wartawan bekerja dengan etika jurnalistik dan melalui tahapan produksi yang jelas, mulai dari riset, liputan lapangan, hingga penyuntingan sebelum publikasi. Proses ini memastikan penyajian informasi yang akurat dan bertanggung jawab.
Sebaliknya, citizen journalism lahir dari spontanitas masyarakat yang merekam dan menyebarkan peristiwa melalui media sosial. Praktik ini membuka akses informasi awal, tetapi pelaku umumnya tidak melakukan pendalaman dan verifikasi.
Informasi sering berhenti pada apa yang terlihat, tanpa konteks yang utuh.
Meski demikian, citizen journalism tidak perlu dipertentangkan dengan jurnalisme profesional. Foto dan video warga justru dapat menjadi bahan awal liputan. Namun, hanya jurnalis yang mampu mengolah informasi tersebut menjadi berita yang lengkap dan berimbang.
Kesimpulannya, jurnalis tidak terancam oleh citizen journalism. Di tengah banjir informasi digital, peran jurnalis justru semakin penting untuk menyajikan berita yang faktual, mendalam, dan beretika.***(IK22/Furqon)





