BANDUNGMU.COM, Bandung — Anak muda di era digital kini membeli barang bukan hanya karena fungsi, tetapi juga karena tampilannya di media sosial. Mereka memilih skincare berkemasan lembut, gelas kopi transparan, kalender akrilik, hingga alat tulis berdesain imut sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari. Anak muda melihat barang-barang tersebut sebagai elemen visual yang bisa ditampilkan dan dibagikan.
Tren ini dikenal sebagai konsumsi estetik, yaitu pola konsumsi yang menempatkan aspek visual dan identitas sejajar dengan fungsi produk, bahkan sering kali lebih utama.
Media Sosial Mendorong Konsumsi Visual
Platform seperti TikTok, Pinterest, dan Instagram mempercepat tren konsumsi estetik. Video unboxing dengan pencahayaan menarik sering memicu rasa ingin memiliki. Banyak pengguna membeli barang setelah melihat konten tersebut, meski pada akhirnya jarang mereka gunakan dan hanya menjadi dekorasi kamar.
Generasi yang tumbuh dalam budaya visual menjadikan estetika sebagai bahasa sosial baru. Orang lain sering menilai kepribadian seseorang dari feed Instagram, gaya berpakaian, atau moodboard digital. Warna dan desain kini menjadi simbol identitas diri.
Dorongan Psikologis di Balik Barang Estetik
Faktor psikologis turut mendorong tren ini. Banyak anak muda membeli barang estetik sebagai bentuk aspirasi menuju versi diri yang lebih tertata. Konten rutinitas harian dengan nuansa rapi dan minimalis menciptakan gambaran hidup yang tenang dan terkontrol.
Dalam situasi penuh tekanan, barang estetik memberi rasa nyaman. Aktivitas sederhana seperti menulis di planner pastel atau minum kopi dari gelas cantik membantu menciptakan ketenangan emosional.
Estetika sebagai Kapital Sosial
Anak muda tidak hanya menggunakan barang estetik, tetapi juga memotretnya dan membagikannya. Barang tersebut memberi dua nilai sekaligus: kegunaan dan nilai konten. Dalam budaya digital, nilai visual ini berfungsi sebagai kapital sosial.
Penelitian desain menunjukkan bahwa warna lembut dan tekstur halus dapat memicu respons emosional positif. Sensasi ini membuat produk estetik terasa lebih menarik dibanding fungsi dasarnya.
Kritik terhadap Budaya “Pretty Things”
Tren konsumsi estetik juga memunculkan kritik. Kemasan cantik sering menambah limbah, sementara budaya belanja impulsif meningkat karena dorongan tren dan media sosial. Beberapa analis menilai fenomena ini sebagai bentuk kapitalisme baru yang mengandalkan estetika visual.
Meski begitu, sebagian pihak melihat sisi positifnya. Seorang analis tren digital dalam laporan gaya hidup 2025 menyebut barang estetik dapat membantu Gen Z mengelola stres dan membangun rutinitas yang lebih personal.
Menuju Konsep Cantik tapi Fungsional
Kesadaran akan dampak konsumsi estetik melahirkan konsep cantik tapi praktis. Anak muda mulai mencari produk yang menarik secara visual sekaligus berguna dan tahan lama. Contohnya planner estetik dengan sistem produktivitas, botol minum cantik yang dapat digunakan ulang, atau skincare berdesain menarik dengan sistem isi ulang.
Generasi muda tidak ingin memilih antara fungsi dan estetika. Mereka menginginkan keduanya hadir bersamaan.
Estetika sebagai Bagian dari Kehidupan Digital
Perubahan ini menunjukkan pergeseran budaya konsumsi. Estetika kini menjadi bagian dari cara anak muda menjalani keseharian. Mengatur meja kerja, memilih warna barang, hingga menyusun konten visual menjadi bentuk ekspresi diri.
Bagi banyak anak muda, pertanyaan utama bukan lagi “apakah ini berguna?”, melainkan “apakah ini mencerminkan siapa saya?”. Selama pertanyaan itu terus hidup, tren “pretty things” akan tetap menjadi bagian dari budaya digital generasi saat ini.***(IK22/Wida)










