UMBandung
Opini

Bandung-Jakarta-Karanganyar: Melangkah Untuk Silaturahmi

×

Bandung-Jakarta-Karanganyar: Melangkah Untuk Silaturahmi

Sebarkan artikel ini

OLEH: ACE SOMANTRI — Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung

BANDUNGMU.COM — Kriing suara handphone berdering tanda bunyi panggilan, ternyata sahabat baikku dari Bogor. Kita segera ke Solo! Semoga ada sesuatu yang didapat walaupun hanya sebuah pendapat.

Langsung dalam pikiran terbayang Kota Solo, tempat para pembuat bakso, karena paling banyak terlihat di jongko mini dan gerobak dorong tertulis Bakso Solo.

Ada percakapan lanjutan dengan sahabatku, dia bertanya apakah jalan darat atau udara? Saya jawab terserah bagaimana baiknya. Dia berujar, “Kita sambil jalan-jalan pakai jalan darat, paling dari Bogor – Bandung – Solo kurang lebih 11 jam dengan perjalanan santai.”

Namun setelah ada beberapa pertimbangan, sahabatku membatalkan perjalanan darat karena ada acara keluarga yang tidak bisa ditinggalkan. Akhirnya ada perubahan rute khususnya saya yaitu Bandung- Jakarta- Solo, sedangkan sahabatku Bogor- Jakarta-Solo.

Perubahan rute membuat saya harus segera mengondisikan perjalanan Bandung Jakarta tengah malam dan itu tidak mudah kalau menggunakan moda transportasi reguler. Jaraknya cukup jauh dari rumah ke pool moda transportasi tujuan bandara-bandara sehingga booking travel door to door.

Jadwal penerbangan jam 06.45 wib membuat saya harus pergi dini hari mengejar subuh di bandara. Karena belum cukup tidur istirahat, selama perjalanan Bandung – Jakarta dimanfaatkan untuk tidur kembali.

Perjalanan udara untuk ke wilayah Jawa baru pertama kali. Biasanya perjalanan udara apabila ke luar Pulau Jawa. Tepat pukul 04.00 WIB sampai di Bandara Soekarno-Hatta. Saat itu pintu masuk 4 belum dibuka.

Baca Juga:  UM Bandung Jadi Tuan Rumah Mukerwil dan Musywil XIV Nasyiatul Aisyiyah Jabar

Sambil menunggu dibuka, saya boarding pass secara mandiri. Setelah dibuka pintu masuk, langsung bergegas ke musala untuk mengambil air wudu persiapan subuh.

Ada yang lupa jadwal subuhku lebih lambat dari jadwal salat keumuman, menunggu beberapa menit sambil menanti satu rombongan jamaah subuh pertama.

Sekalian memantau barang-barang jamaah yang disimpan karena tempatnya penuh jamaah pertama dan masih banyak jamaah belum shalat subuh. Pada gelombang kedua, saya sendiri menjadi imam salat berjamaah subuh.

Tidak lama sahabatku sudah sampai juga dan mengajak segera ke ruang tunggu keberangkatan. Karena masih pagi, sahabatku mengajak ke outlet starbuck untuk sarapan dan minum pagi.

Lagi-lagi saya jarang sekali membeli produk starbuck karena selain mahal harganya ada emosionalitas cinta produk dalam negeri lebih diutamakan. Karena sahabatku yang bayar, alhamdulillah saya terima dengan senang hati.

Tidak terasa sudah ada panggilan dari bagian informasi untuk penerbangan ke Solo. Kita berdua tidak sempat nongkrong di outlet starbuck. Langsung dibawa makanan dan minumannya ke ruang tunggu pintu keberangkatan.

Selanjutnya take off dengan Citilink. Tidak lama sampai di Boyolali. Keluar dari pesawat sudah ada yang menunggu untuk menjemput. Beyuur jemputan membawa kita ke salah satu rumah makan dengan suasana khas Jawa Tengah. Sepanjang jalan menuju Karanganyar lokasi yang di tuju ternyata kaki gunung Lawu.

Baca Juga:  Membangun dan Membesarkan Gerakan Ekonomi Syariah

Alhamdulillah akhirnya sampai di lokasi kaki Gunung Lawu, tepat di lokasi resto and cafe D’LAWU BISTRO. Setelah turun dari mobil yang ditumpangi terbilang mewah, disambut seseorang yang terlihat cukup sederhana, orang menyebutnya bapak.

Salam dan sapa sambil memperkenalkan diri, senyum ramah orang tersebut sambil membungkukan badan tanda hormat. Saat itu tidak dipersilakan masuk ruangan, tetapi diajak keliling sekitar resto dan cafe, yang sudah berdiri bangunan untuk penginapan yang dikenal Cotage dan beberapa area lainnya.

Sambil berkeliling orang yang menyambut tersebut menjelaskan bangunan yang sudah selesai ataupun yang sedang proses serta menjelaskan rencana-rencana yang sudah dipersiapkan.

Saya cukup kagum dengan konsep yang dibuat dan rencana yang akan dikembangkan karena tergolong visioner dalam perspektif business development. Perencanaan pokok (masterplan) ternyata terintegrasi antara resto dan cafe dengan penginapan (Cotage) yang stara hotel bintang tiga.

Nnamun view yang ditampilkan menjadi value lebih dibandingkan dengan hotel berbintang yakni dimanjakan dengan lembah alam terbuka. Bahkan lebih unik lagi, arsitektur Cotage mirip di Australia, seolah-olah pengunjung dan penikmatnya serasa di traveling ke luar negeri.

Hampir semua tempat dikunjungi. Tidak ada yang terlewati. Jadwal makan siang langsung diminta untuk mencicipi sekaligus menikmati makan siang. Menu yang ditawarkan sekelas resto bintang lima.

Baca Juga:  Mahasiswa PIAUD UM Bandung Berjaya pada Olimpiade Nasional PGPAUD dan Kaulinan Barudak

Sambil menunggu menu yang dipesan, orang yang menyambutku menyampaikan bahwa area D’LAWU BISTRO dari awal tanah kosong hingga 65 % selesai dalam jangka waktu 15 bulan. Luar biasa!

Informasinya pengunjung semakin ramai, Cotage penuh terus, apalagi akhir pekan sampai menambah karyawan part time. Ada yang lebih mengagetkan lagi Cotage dalam proses pembangunan sudah full booking. Saya sambil geleng-geleng kepala.

“Kok bisa ya dalam kondisi daya beli masyarakat rendah masih banyak yang menghabiskan uangnya untuk menginap satu malam.”

Setelah makan selesai, kita diantar ke Cotage yang sudah disedikan. Alhamdulillah, akhirnya saya bisa rebahan istirahat setelah salat zuhur dan ashar dijama qoshor.

Oh ya, ternyata yang tadi menyambutku dan sahabatku yang ramah dan sahaja adalah owner-nya. Dia seorang pengusaha nasional cukup suskes. Banyak bidang bisnis yang di kelola. Alhasil saya dan sahabatku, khususnya saya, selama beberapa waktu mencerna penjelasan dari seorang pengusaha sukses, sambil melihat langsung lokasi tempat bisnis yang di kembangkan.

Semoga lebih banyak lagi pengusaha muslim sukses. Pandemi tidak menjadi penghalang untuk tetap berinovasi dan berkreasi menatap masa depan gemilang. Tidak ada kesuksesan tanpa perjuangan. Perjuangan akan hampa ketika tidak ada niat tulus ikhlas untuk kebaikan dunia akhirat.***

PMB UM Bandung