PMB UMbandung
Opini

BBM Naik, Rakyat Tercekik

×

BBM Naik, Rakyat Tercekik

Sebarkan artikel ini
PMB UMBandung

Oleh: Ace Somantri, Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung

BANDUNGMU.COM — Napas terengah-engah, turun naik tensi semakin tidak terkendali stabilitasnya. Tubuh bangsa dan negara dalam situasi kondisi yang sedang tidak sehat mental.

Jasad negara pun terganggu karena selama ini pola cash in cash out flow keuangan dalam kondisi sekarat. Berbagi jenis inpus dipasang agar tetap bernapas dan berusaha meningkatkan energi tetap masih terbaring lemas.

Akhirnya satu per satu aset yang ada milik negara digunakan hanya untuk mempertahankan kematian yang sudah di ujung tenggorokan. Dengan tangan tidak berdaya akhirnya aset rakyat pun berusaha ambil dengan iming-iming kompensasi yang tidak berkeadilan.

Apa boleh buat, nyawa bangsa ini sedang di ujung tanduk menunggu Mahakuasa iba dan berharap memberi kekuatan pada jasad negara tetap bertahan walaupun letih, lemas, tak berdaya, dipenuhi berbagai jenis inpus yang menempel dalam tubuh.

Rakyat tidak bisa marah karena semua paham bangsa dan negara ini sakit parah terbaring menunggu ajal tiba. Berbagai obat pun dicari hingga kelililng dunia, namun hasilnya tidak memuaskan.

Sesuai diagnosa para ahli bahwa penyakit yang di derita sudah akut dan sulit disembuhkan karena setelah didiagnosa tidak menerima dirinya sakit.

Baca Juga:  Wajib Merayakan Maulid: Sirah Nabi Kalah Populer dengan Kesahihan Nasab dan DrakorĀ 

Kenapa itu terjadi? Karena sakitnya ada di pusat ubun-ubun kepala dan harus ada bedah operasi yang membutuhkan waktu lama. Konsekuensinya setiap segala apa pun apabila mengalami gangguan sakit jasad maupun mental permanen seharusnya cepat diganti.

Pun yang menggantinya jangan yang sudah memiliki dan mengidap penyakit kronis, apalagi terpapar virus yang sama itu harus dihindari.

Di ujung hari-hari hidup bangsa dan negara ini memperihatinkan, kemarahan rakyat pun sudah tidak terdengar karena memamg sedang sakit.

Bahkan para pembantu dan penjaganya sibuk mencari aman karena mereka mengetahui bahwa majikannya sedang terbaring sakit parah yang sulit disembuhkan.

BBM dinaikkan dengan berbagai alasan, namun alasanya semua ngawur maklum sedang sakit. Akhirnya semua tanpa disadari lambat laun virusnya menyebar saking sakitnya lama, rakyat pun sebagian terpapar virus yang sama.

BBM naik pun rakyat tetap membeli walaupun rela antri mengular, sepintas muncul pertanyaan kenapa mereka tetap antri beli, padahal harganya mahal?

Baca Juga:  Tahun Baru Islam: Selamat Datang Kalender Hijriah Global Tunggal

Seharusnya pom bensin sepi pembeli, justru seperti tidak peduli harga berapa pun tetap akan aku beli, kira-kira itu sebuah fenomena sakitnya unik di negeri ini.

Bagaimanapun, hari ini sebelum BBM naik terjadi inflasi harga bahan pokok dan kebutuhan air bersih dan listrik. Semakin diperas tanpa rasa belas kasihan, rakyat tercekik oleh tangan tirani yang berlumuran darah dari mangsa-mangsa yang di terkam tanpa perlawanan.

Rakyat pun jauh untuk melawan, bersuara pun langsung di habisi tanpa ada proses keadilan hukum yang adil dan beradab.

Habis sudah bangsa ini, negara tetangga menurunkan harga BBM karena minyak dunia turun, di negeri katanya loh jinawai malah naik harga dengan dalil subsidi terlalu tinggi.

Padahal pemerintah sendiri mengakui selama ini subsidi kurang lebih hanya 20 persen tepat sasaran dan sisanya tidak tepat, artinya 80 persen banyak yang bocor.

Kenapa tidak tepat sasaran terindikasi bocor rakyat yang harus menanggung? Lagi-lagi maklum sedang sakit parah, nalar intelektualnya tidak objektif dan rasional, apalagi benar sangat jauh.

Seharusnya dari kebocoran 80 persen dialihkan untuk menutupi beban subsidi bukan ambil lagi dari rakyat. Makin tidak karuan karena makin emosional logika penyelesaianya.

Baca Juga:  Hasil Survei: Informasi atau Sosialisasi?

Jauh panggang dari api, negeri loh jinawi hanya sebuah selogan manis di bibir. Perut bumi kaya dengan minyak dan gas sekedar ada dalam tulisan data semata, angka-angka laba rugi menghiasi dinding neraca dan jurnal.

Audit sebagai penghias dalam laporan akhir tahun buku yang kaya dengan rekayasa, laba yang seharusnya menyebar ke kantong-kantong sosial yang layak menerima, raib entah ke mana.

Namun yang jelas banyak kantong saku dan tas para pembajak bermata satu penuh harta, ternyata hasil mengambil di tengah perjalanan menuju lokasi tempat para penerima, namun setibanya di lokasi kerat-peti sudah tidak berisi harta.

Bocor tetap bocor, pembajak tetap pembajak. Rakyat sudah apriori hingga tidak peduli apa yang terjadi, bahkan sudah rela menghadapi kematian tanpa ada energi yang di miliki.

Mari bersaksi bahwa sebenarnya tidak ada subsidi, apalagi peduli. Sebenarnya harta dan kekayaan dalam perut bumi adalah milik kami.***

PMB UMBandung