Belajar Efektif dan Menyenangkan dengan CINTA

oleh -

Oleh: Entoh Wahyu, S.Pd.I. Guru PAI SD Muhammadiyah 3 Bandung

BANDUNGMU.COM — Dalam Islam, belajar adalah never ending proses (uthlubil ‘ilma minal mahdi ilallahdi). Terlebih pada anak usia sekolah, belajar adalah kewajiban bahkan kebutuhan. Tidak terkecuali pada masa pandemi seperti saat ini, tidak ada alasan untuk berhenti belajar. The show must go on.

Ikhtiar untuk menjaga keberlangsungan proses belajar dan  semangat belajar anak pada masa pandemi menjadi sebuah keniscayaan. Dalam hal ini penulis merumuskan ”Belajar Efektif dengan CINTA: cita-cita, interest, norma, target, dan aplikasi.”

Cita-cita

Menjadilah dokter, insiyur, master dan profesional, sesudah itu kembalilah kepada Muhammadiyah (KH. Ahmad Dahlan). Sejak awal, pendirian Muhammadiyah (dan AUM binaannya) menekankan kepada para kader dan siswanya untuk memiliki cita-cita yang tinggi. Terlepas kelak tercapai atau tidak, cita-cita merupakan hal yang penting yang harus dimiliki seseorang. Cita-cita dapat mendorong seseorang lebih semangat dalam menjalani kehidupan (Mona Sugiarto, 2020).

Para ahli psikologi telah banyak mengupas betapa pentingnya seorang anak memiliki cita-cita. Secara psikologis, cita-cita akan mempengaruhi alam bawah sadarnya dan berpengaruh pada perbuatan sadar sehingga mereka menciptakan pola kehidupan serta pola belajar yang mengacu pada tercapainya cita-cita tersebut.

Baca Juga:  Pembelajaran Tatap Muka, Berikut Strategi SD Muhammadiyah 3 Bandung

Dengan memiliki cita-cita, seseorang akan lebih memaknai kehidupan. Mulailah sekolah Muhammadiyah dan guru sekolah Muhammadiyah menekankan serta mendorong motivasi siswa untuk memiliki cita-cita. Jadikan pandemi ini menjadi motivasi siswa untuk merumuskan cita-cita mulia mereka agar kehidupan mereka lebih bermakna.

Interest

Secara umum siswa belum menyadari bahwa belajar adalah kebutuhan. Mereka memahami belajar adalah kewajiban. Salah satu cara efektif untuk memahamkan bahwa belajar adalah kebutuhan yakni bagaimana menciptakan suasana belajar yang membuat siswa interest (menarik minat).

Dimulai dari “membunuh” perasaan benci siswa pada guru. Jika selama ini sering kali matematika menjadi “hantu”, buat citra baru dan pendekatan semenarik mungkin dari sisi gurunya, paling tidak siswa comfort dengan guru tersebut.

Jangan menjadi beban tambahan bagi siswa, sudah menerima pelajaran yang sulit, ditambah gurunya killer. Guru yang ngangenin akan berpengaruh pada interest siswa sehingga memiliki motivasi lebih untuk belajar.

Secara perlahan siswa akan mulai menyadari bahwa belajar adalah kebutuhan. Bahkan, bukan hal yang tidak mungkin mereka akan addicted to study. Marilah kita mulai hal ini di sekolah Muhammadiyah.

Norma

Learn and fun, layaknya bermain. Setiap permainan pasti ada rule of the game. Aturan main dalam dunia pendidikan lebih dikenal dengan kontrak belajar. Buatlah kesepakatan-kesepakatan dengan siswa, bahkan biarkan mereka menentukan konsekuensi sendiri, sesuai dengan perkembangannya.

Baca Juga:  Menginspirasi, Diva Kurnianingtyas Sudah Jadi Doktor di Usia 24 Tahun!

Semua anak (yang sudah balig) pasti paham mana yang baik mana yang tidak baik, apa yang boleh apa yang tidak boleh. Buat aturan main seperti itu yang diterapkan pada pola belajar. Terlebih di masa pandemi seperti saat ini, jangan sampai frekuensi menggunakan gawai justru lebih banyak untuk bermain daripada untuk belajar.

Hal ini perlu ditunjang dengan pemahaman orang tua juga. Kondisikan ada waktu bersama di keluarga tanpa HP, misalnya pada rentang waktu magrib sampai pukul 20.00 adalah waktu offline. Buat norma semisal untuk diterapkan di sekolah dan muailah keteladanan itu dari guru serta kepala sekolah.

Target

Target bisa jadi merupakan bagian dari norma. Target merupakan capaian spesifik yang menukik pada keberhasilan belajar. Tetapkan target rasional, jangan bebankan anak dengan target di luar kemampuannya yang sulit bagi mereka memberi hasil yang sesuai dengan ekspektasi kita.

Jangan sungkan memberikan apresiasi pada prestasi anak. Berikan pujian dan motivasi pada setiap target yang sudah dicapai. Mulailah berbincang dengan mereka: “Nak, jika kamu berhasil menghafal juz ama bulan ini, ayah akan berikan sepeda.”  Target ini menjadi alat ukur bagi anak untuk mengevaluasi secara mandiri cara dan gaya belajar mereka.

Baca Juga:  Ibu, Sang Guru Penyayang (Part 2)

Aplikasi

Tidak dapat dimungkiri, belajar di masa pandemi berbasis online pasti menggunakan aplikasi. Aplikasi di sini lebih pada penerapan. Efektifnya belajar bahasa Arab (atau bahasa Inggris) salah satunya adalah dengan dipraktikkan. Misalnya, dalam satu hari semua warga sekolah berbahasa Arab atau Inggris.

Penerapan seperti ini sangat penting untuk memahamkan apa yang dipelajari itu berguna untuk diri siswa/anak.

Pendidikan di masa pandemi harus bersahabat dengan kemajuan zaman. Meleklah IT dan ikuti arus perkembangannya. Sadari bahwa dunia anak adalah dunia bermain. Mari kita cipta bahwa dekatnya anak dengan gawainya, sebenarnya mereka sedang belajar.

Simpulan

Banyak cara efektif untuk belajar dengan menyenangkan di masa pandemi. CINTA yang dibahas dalam tulisan ini merupakan salah satu formula dan sumbangsih pemikiran penulis.

Mari kita ciptakan dinamika dalam dunia pendidikan anak di masa pandemi ini lebih bermakna. Penerapan secara teknis bisa jadi akan berbeda pada satu sekolah dengan sekolah yang lain, antara satu keluarga dan keluarga yang lain. Semoga ini menjadi ikhtiar positif dan memberikan keberkahan untuk semua.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *