Opini

“Bencana Demografi” Gen Z di Era Algoritmik

×

“Bencana Demografi” Gen Z di Era Algoritmik

Sebarkan artikel ini

Oleh: SUKRON ABDILAH, Penulis dan Ideapreneur

BANDUNGMU.COM — Saya pernah membaca di berita bahwa Indonesia sedang bersiap menghadapi bonus demografi—masa di mana jumlah penduduk usia produktif jauh lebih besar daripada usia nonproduktif. Di atas kertas, ini terdengar seperti kabar baik. Tapi ketika saya menatap cermin (dan layar ponsel), saya merasa yang datang bukan bonus, melainkan bencana demografi versi Gen Z: banyak yang muda, pintar, kreatif… tapi juga cemas, bingung, dan terjebak algoritma.

Saya lahir di generasi yang katanya “digital native”. Kami tidak belajar teknologi—kami tumbuh didalamnya. Waktu saya masih SD, Facebook jadi taman bermain. Saat kuliah, Instagram berubah jadi katalog kehidupan ideal. Dan sekarang, di usia kerja, TikTok menjadi tempat kami mencari validasi, hiburan, bahkan identitas.

Namun, di balik semua kemudahan itu, ada paradoks besar: semakin terkoneksi, semakin terfragmentasi. Semakin tahu banyak hal, semakin sulit fokus pada satu hal.

Bonus Demografi yang Tersesat

Kata Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2030–2040 Indonesia akan menikmati puncak bonus demografi, dengan sekitar 64 persen penduduk berusia produktif. Di seminar-seminar ekonomi, angka ini disebut peluang emas. Tapi di dunia digital saya, peluang emas itu kadang tampak seperti beban emosional kolektif.

Coba lihat teman-teman saya. Sebagian sibuk ikut kelas “How to be productive in your 20s”, sebagian lain ikut webinar “Healing for the Burnout Generation”, dan sisanya—termasuk saya—menonton semuanya lewat TikTok sambil rebahan.

Baca Juga:  Ngaji Online di TikTok Jadi Tren Gen Z, Kreator @tehmei Ajarkan Tahsin dengan Cara Sederhana

Menurut survei Katadata Insight (2024), 1 dari 3 Gen Z Indonesia mengaku mengalami burnout bahkan sebelum usia 25 tahun. Bayangkan, baru saja mulai bekerja, tapi sudah merasa lelah dengan hidup yang belum sempat dimulai. Mungkin ini yang disebut bencana demografi digital: ketika potensi produktif generasi muda terkikis bukan karena kemiskinan, melainkan oleh algoritma yang terlalu pandai mengatur emosi manusia.

Hidup dalam Ekonomi Atensi

Dulu, sumber daya paling berharga adalah minyak. Sekarang: perhatian. Setiap detik perhatian Gen Z bernilai bagi perusahaan digital. TikTok, Instagram, YouTube—semuanya berperang merebut waktu tonton kita. Jujur saja, saya sendiri tidak luput. Awalnya saya membuka TikTok untuk mencari ide tulisan. Lima menit pertama penuh wawasan. Lima belas menit kemudian, saya sudah menonton kucing menari dan teori konspirasi tentang “pola tidur orang sukses.” Dua jam berlalu, ide tulisan lenyap, tapi rasa bersalah datang menyerbu.

Inilah ironi algoritmik: ia memberi kita sensasi terkoneksi dengan dunia, tapi diam-diam mencuri kemampuan kita untuk berpikir dalam diam. Menurut studi DataReportal 2025, rata-rata pengguna Gen Z Indonesia menghabiskan 3 jam 47 menit per hari di media sosial. Itu berarti hampir dua bulan dalam setahun hanya untuk menatap layar—belum termasuk waktu overthinking setelahnya.

Baca Juga:  Musibah Gempa Cianjur dan Upaya Memperbaiki Diri

Generasi sebelum kami mengenal “panggung politik”, sedangkan kami hidup di “panggung digital.” Dulu orang sibuk mencalonkan diri jadi pejabat, kini kami mencalonkan diri jadi viral. Saya pernah memposting video naratif tentang keresahan generasi muda di dunia kerja. Isinya cukup serius. Tapi yang paling banyak dikomentari justru: “Lighting-nya bagus, pake apa, Kak?”

Itu momen ketika saya sadar: di era algoritmik, pesan sering kalah dari penampilan. Dan ini bukan sekadar persoalan gaya hidup, tapi juga masalah eksistensial. Menurut laporan Deloitte (2024), 71 persen Gen Z merasa tekanan besar untuk terlihat bahagia dan sukses di media sosial, meski kenyataannya mereka sedang berjuang di dunia nyata. Akibatnya, banyak dari kami hidup dalam dua dunia: satu yang indah di layar, satu yang berantakan di kepala.

Kecemasan sebagai Mata Uang Baru

Dulu, orang takut kehilangan pekerjaan. Sekarang, kami takut kehilangan arah. Kecemasan jadi semacam bahasa universal Gen Z. Kami bisa bercanda tentang overthinking, tapi di balik tawa itu ada ketegangan nyata.

Saya pernah bercakap dengan teman yang baru resign dari startup. Katanya, ia tidak tahan dengan tuntutan “always online”. Tapi setelah berhenti, ia malah stres karena takut “tidak relevan.” Di era algoritmik, relevansi menjadi agama baru. Tidak ada yang lebih menakutkan bagi Gen Z selain menjadi “tidak dilihat.”

Baca Juga:  Tradisi Papajar, Ajang Silaturahmi Menyambut Ramadhan

Mungkin inilah risiko dari generasi yang dibesarkan oleh notifikasi: kita tumbuh cepat, tapi tidak tumbuh utuh. Kita diajarkan multitasking, tapi jarang diajarkan makna dari berhenti sejenak. Kita terbiasa mengukur diri dari engagement rate, bukan keterlibatan nyata dalam hidup.

Namun, saya masih percaya: di balik layar yang melelahkan ini, Gen Z juga menyimpan daya lenting luar biasa. Kami bisa mengubah keresahan menjadi konten edukatif, kecemasan menjadi karya kreatif, dan rasa kehilangan arah menjadi percakapan kolektif.

Bencana demografi hanya akan terjadi jika kita menyerahkan masa depan sepenuhnya pada algoritma. Tapi jika kita bisa menggunakannya dengan kesadaran, mungkin bonus demografi itu masih bisa diselamatkan—meski lewat layar ponsel.

Saya menulis esai ini di tengah malam, dengan notifikasi TikTok yang terus muncul. Tangan saya hampir tergoda membuka aplikasi itu, tapi saya memilih menutup laptop. Mungkin inilah bentuk kecil perlawanan di era algoritmik: menyala tanpa terbakar. Karena di dunia di mana semua orang berlomba jadi viral, mungkin langkah paling revolusioner justru sederhana—berani offline, dan benar-benar hidup.