Oleh: ACE SOMANTRI — Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung
BANDUNGMU.COM — Bencana identik dengan kerusakan alam, dimana kata kuncinya adalah kerusakan. Sementara kerusakan bukan hanya terkait dengan alam yang ada hubungannya dengan kerusakan struktur tanah dan air.
Secara falsafi, tanah dan air adalah isi perut bumi. Padahal yang ada di atas bumi bukan hanya tanah dan air, melainkan ada manusia, hewan, dan tumbuhan.
Artinya bencana bukan hanya kerusakan struktur tanah dan air, melainkan bencana yang berhubungan dengan struktur kehidupan manusia. Karena alam semesta ini secara faktual, manusia memiliki peranan dan fungsi dalam pengelolaan dan pengendaliannya.
Bencana alam sebenarnya semua berawal dari manusia itu sendiri. Al-Quran menegaskan bahwa telah jelas kerusakan di bumi (daratan) dan lautan disebabkan oleh tangan manusia.
Bencana alam kerap terjadi ketika musim hujan tiba, banjir dan longsor menjadi pandangan mata di beberapa daerah di wilayah Indonesia. Hampir semua orang memahami bahwa bencana identik dengan alam. Peristiwa kerusakan alam berawal dari kerusakan struktur kehidupan manusia.
Artinya bencana sosial lebih berbahaya karena menjadi penyebab semua jenis bencana alam. Kerusakan hubungan antar-golongan manusia atau antar-kelompok manusia secara fakta sosial cenderung saling mewarisi dari generasi ke generasi atau ada istilah sebutan dosa sejarah.
Perbuatan tersebut merupakan bentuk bencana sosial. Apa pasal? Karena ada ketidakstabilan struktur hubungan manusia satu dengan yang manusia lainnya sehingga terjadi disharmonis sesma manusia.
Disharmonis hubungan antar-manusia secara teologi merupakan pengingkaran terhadap sunnatullah, dimana sangat tegas dan jelas manusia satu dengan yang lainnya harus saling mengsihi dan menyayangi penuh harmonis (ruhama). Kemudian saling berbuat kebaikan tanpa ada sekat batas sosial.
Sehingga wajar ketika terjadi disharmonis sesama manusia akan terjadi bencana sosial. Dampaknya dari bencana sosial di dalamnya terjadi perselisihan dan pertikaian berujung gesekan fisik dan akhirnya berujung maut.
Termasuk ketika saling serang satu dengan yang lainnya dalam satu kelompok manusia tidak sedikit infrastruktur fisik menjadi amukan masa sekelompok manusia. Terlihat jelas ketika perselisihan dan pertikaian terbuka, tetapi ada disharmonisasi bencana sosial antar-kelompok manusia yang tertutup dengan cara saling dendam dan dengki.
Bencana sosial harus dikikis hingga habis. Tanamkan sifat rahman dan rahim Allah dalam kehidupan sehari-hari. Jangan ada kata menang dan kalah dalam menghadapi bencana sosial. Justru harus disadari bersama bahwa tidak ada untungnya dan manfaatnya ketika terus merusak tatanan struktur sosial.
Bukan hanya berdampak buruk hari ini, melainkan akan berlanjut terus-menerus hingga tidak terasa menyebarkan virus dendam dan dengki kemudian berakhir multi-bencana. Di awali dari bencana sosial yang berdampak jangka panjang, virus saling membenci sesama saudara sangat ironis, apalagi menggunakan legitimasi ayat – ayat Allah.
Antar-umat seagama saling menjustifikasi dengan menggunakan kalimat tendensius seperti radikal, fundamental, dan intoleran. Sementara tidak disadari politik adu domba pihak luar terhadap internal umat Islam tidak akan pernah berhenti.
Saling menyantuni dan mengasihi sunnatullah yang harus dilestarikan. Saling menyadari banyak kelemahan dalam diri ditradisikan dan saling menyapa sesama saudara seagama untuk menyambung hati.
Bencana sebuah malapetaka dan membuat sengsara penghuni alam semesta. Berbagai bencana semua bermula dari manusia yang durjana pada Mahakuasa.
Siapakah dia yang durjana? Ialah manusia yang tetap mengedepankan hawa nafsu yang tidak terkendali sehingga membawa pada perbuatan saling curiga dan prasangka pada sesama seagama tanpa dasar dan fakta ajaran agama.
Risiko bencana sosial menjadi pemicu hubungan antar-sesama retak dan pecah, terlebih sudah masuk dalam hati, satu sama lain merasa saling tersakiti.
Dalam ilmu psikologi sosial yang bersumber dari hadits, manusia semua fitrah atau bersih selanjutnya orang tua dan lingkunga yang membesarkan/mendewasakan beragamanya. Di sisi lain orang tua dan lingkungannya membentuk karakter tidak baik.
Ketika itu terjadi, apakah akan melahirkan pimpinan yang peduli, peka, dan memiliki karakter kasih sayang pada yang di pimpinannya? Rasanya berat dan ini sudah berjalan dari dahulu hingga sekarang.
Oleh karena itu, pemimpin yang dilahirkan dari generasi yang muncul dari dampak bencana sosial sebelumnya. Kiranya semua harus merenung menundukkan kepala memohon dan menyadari apa yang terjadi disebabkan oleh manusia itu sendiri. Allah tetap Maha Pengasih dan Penyayang.***











