Berkah Pandemi: Pemahaman Agama yang Moderat Meningkat

oleh -

BANDUNGMU.COM – Musibah pandemi ternyata tidak hanya membawa dampak negatif semata. Menurut Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’ti, pandemi juga membawa berkah tersendiri, salah satunya adalah meningkatnya pemahaman umat kepada paham keagamaan yang moderat.

Dalam diskusi Kanal Convey Indonesia, Jumat (23/7) Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’ti berpendapat demikian setelah mengamati dinamika keagamaan di tengah-tengah umat.

“Misalnya begini. Sekarang kaidah-kaidah ushul fikih yang dulu hanya menjadi kajian di komunitas tertentu sekarang menjadi kajian publik. Orang sekarang fasih menyebut hadis Nabi la dharara wa laa dhirara. Itu kan populer, yang dulu orang ga pernah menyebut itu. Kemudian kaidah dar’ul mafasid muqadamun ala jalbil masalih juga menjadi populer dan berbagai istilah fikih lain. Kemudian juga bagaimana orang, sejak ada Covid ini melakukan takziah virtual,” terang Mu’ti, seperti dikutip dari laman resmi Muhammadiyah.

“Kecenderungan menarik yang belum pernah saya bayangkan dulu, bagaimana sekarang ada. Awalnya kan takziah online, sekarang mulai ada pemakaman online. Contohnya pada Ketua Muhammadiyah Pekajangan, lalu hari ini Profesor Huzaemah,” imbuhnya.

“Ini sebetulnya realitas baru yang tidak terjadi sebelumnya dan itu memang membuat kita harus bertanya bagaimana dengan (hukum) takziah seperti ini. Diterima atau tidak, boleh atau tidak. Nah kemudian sebelum ini kan muncul pertanyaan misalnya ada tahlilan online, nikahan, Jumatan online, awalnya ditentang ternyata jalan terus dan masyarakat menerima,” tambah Mu’ti.

Pandemi yang memaksa menimbang ulang beberapa prinsip bersosial, termasuk dalam ritual agama berdasarkan prinsip maqashid syariah dan kedaruratan dianggap Mu’ti membawa umat dan bangsa pada pemikiran yang lebih maju.

“Jadi ini sebenarnya adalah sebuah realitas keberagamaan baru yang memang sebenarnya kemudian saya kira kalau kita kembali ke teori, ijtihad itu menjadi diperlukan ketika ada sebuah masalah baru yang tidak ada contohnya di jaman nabi dan harus diberikan kepastian hukumnya. Nah, sekarang terjadi yang saya sebut dengan online-online tadi itu menjadi realitas baru di mana orang beragama justru semakin maju dan mampu melihat integrasi antara agama dan ilmu pengetahuan,” jelasnya.

“Dan ini yang kemudian menjadikan kecenderungan meskipun juga ada kelompok-kelompok konservatif. Tapi kecenderungan yang paling banyak itu justru pada kelompok yang dia semakin terbuka dalam pemahaman beragama, semakin paham kaidah fikih, dan semakin menyadari betapa beragama itu tidak selalu black and white,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *