BANDUNGMU.COM — Memilih bermuhammadiyah tentu bukan karena keterpaksaan. Oleh karena itu, jika memilih dengan sukarela sudah seyogyanya warga, kader, dan pimpinan Muhammadiyah dalam bermuhammadiyah harus dengan gembira.
Demikian kurang lebih rangkuman perbincangan yang disampaikan oleh Ketua Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhammad Jamaludin Ahmad, pada Rabu (29/12/2021), di acara Kajian Rabu Malam Angkatan Muda Muhammadiyah Bantul (KRAMAT).
Menurut Jamal, memulai bergembira itu dimulai dengan ungkapan dan penguatan rasa syukur kepada Allah SWT. Terkait dengan pilihan bermuhammadiyah bukan karena menganggap yang lain jelek, melainkan karena di Muhammadiyah ditemukan kesamaan-kesamaan misi. Karena bermuhammadiyah dengan pilihan bukan paksaan, maka bermuhammadiyah harus gembira.
“Bermuhammadiyah itu dengan pilihan bukan paksaan, maka kita harus menjalani itu dengan hati yang gembira, dengan penuh rasa syukur,” ucapnya.
Terkait dengan bermuhammadiyah secara gembira, kata Jamal, disebabkan sejak awal kehadirannya, Muhammadiyah memang bertujuan untuk menggembirakan umum. Hal itu merujuk pada Statuten Muhammadiyah tahun 1914 yang menyebut (1) memajukan dan menggembirakan pengajaran dan pelajaran Igama di Hindia Nederland, dan (2) memajukan dan menggembirakan kehidupan (cara hidup) sepanjang kemauan agama Islam kepada lid-lidnya (anggota-anggotanya).
“Tahun 1914 Kiai Ahmad Dahlan sudah membuat rumusan tentang kemajuan dan tentang kegembiraan di dalam berislam,” tuturnya.
Oleh karena itu, dakwah yang dilakukan oleh Muhammadiyah adalah berusaha untuk membawa masyarakat kepada kemajuan, sekaligus dalam beragama diajak juga untuk bergembira. Oleh karena itu, dalam menjalankan ajaran Islam ataupun pengajaran umum di Muhammadiyah harus mengandung dua aspek tersebut, yaitu memajukan dan menggembirakan.
“Memang sejak awal Muhammadiyah ini dirancang oleh Kiai Ahmad Dahlan untuk memajukan dan menggembirakan. Maka nilai yang paling prinsip ini harus kita sadari, kita bawa sampai kapan pun, bahwa dalam berdakwah di Muhammadiyah itu unsur-unsur kemajuan dan menggembirakan ini harus tetap diperhatikan,” ungkapnya.
Diharapkan dengan gembira dan syukur dalam berMuhammadiyah akan melahirkan sinergi dan harmoni di tengah perbedaan. Sebab, perbedaan bukan untuk dibenturkan melainkan untuk melahirkan ‘suara’ yang lebih bagus.***















