Oleh: Ace Somantri — Ketua Pusat Studi LP3K Universitas Muhammadiyah Bandung dan Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Bandung
BANDUNGMU.COM – ”Jauh dijugjug anggang diteang”, inilah peribahasa Sunda bagi para suami saat awal mencintai istrinya. Mencintai kadang-kadang buta mata dan hati. Itulah uniknya cinta.
Tidak mengenal suku, ras, dan kadang-kadang agama pun tidak jadi soal. ”Duriat” memang tidak bisa dihalangi, daratan kulalui, lautan dan samudera kuseberangi.
Semua yang dilakukan bukti saling cinta menembus batas sejauh mata memandang lepas. Tidak heran banyak di antara kita sejak menjalin cinta dan kasih-sayang hingga usia renta tetap terikat tali kasih yang tidak putus dan lepas, kecuali setelah tidak bernapas.
Tali ikatan cinta seorang suami pada istri kadang-kadang cedera hanya karena cemburu buta atau kata dan kalimat yang tidak sepaham serta sepakat dalam realitas dalam berumah tangga.
Itu semua dinamika dalam cinta sepasang suami dan istri penuh cinta. Tidak selamanya komunikasi di antaranya flat tanpa rasa. Namun, banyak fenomena kehidupan beriringan menjadi perpaduan rasa bumbu sebuah cinta.
Menjaga dan merawat cinta tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan. Butuh energi dan fasta sebuah kata yang dipahami bersama.
Suara dan kata kadang-kadang dengan hati tidak sama, itu sering membuat sikap terbata-bata seolah-olah tidak terima begitu saja. Memang bisa jadi itu perlawanan nurani terhadap sebuah kebohongan yang disengaja ataupun tidak disengaja.
Cinta menyatukan sesuatu yang banyak berbeda. Namun, bukan untuk menjadi sama warna, melainkan justru terpadu menjadi varian warna seperti pelangi yang indah dipandang mata.
Entah apa yang ada dalam setiap jiwa, ketika berusaha merajut asa dalam cinta, tetapi sesak dengan kata-kata yang mengandung bumbu rasa yang kontras dan tidak pas. Kadang-kadang berlebih satu varian rasa sehingga membuat tanda tanya pada perasaan.
Tidak mudah memang, menjaga konsistensi rasa apabila tidak dibiasakan ukuran dan takaran bumbu dalam meracik kehidupan cinta untuk menjadi tatan sebuah keluarga bahagia.
Perjalanan cinta sepasang suami istri, ada hal yang paling penting disadari, cinta bukan hanya suami dan isteri, melainkan ada yang lain, yaitu anak, orang tua, saudara, tetangga, dan makhluk yang ada di alam semesta.
Cinta dan kasih sayang adalah jelmaan sifat dari sang pencipta. Kita tidak boleh egois walaupun seorang manusia memiliki superego. Kasih sayang sesama dalam merawat dan menjaga ada ruang dan waktu yang berbeda. Namun, sikap jiwa kita tidak dibatasi dengan alasan cinta yang semu.
Cinta dan kasih sayang hakikatnya hanya milik Allah. Kita semua hanya berusaha menjadi bagian terkecil dari sekian miliar makhluk yang dicipta.
Apa pun yang bersemayam dalam jiwa dan raga suami dan istri, hakikatnya pasangan yang diberi amanah untuk menjaga serta merawat kasih sayang Allah SWT. Yakni dalam perjalanan hidup bersama membangun keluarga yang bukan hanya anak yang dilahirkan, melainkan semua manusia yang ada di alam semesta.
Sangat pilu dan merana ketika melihat pada diri dan jiwa yang tidak sadar apa yang seharusnya kita jaga. Orang terdekat bukan sekadar pasangan, melainkan amanah yang harus dijaga perasaan hati dan jiwanya.
Rasa sakit yang di derita oleh setiap pasangan itu bisa berdampak pada keretakan kasih sayang. Di situ pula ada keretakan rasa syukur atas kasih sayang Allah yang diterima oleh semua pasangan di mana pun berada.
Sangat luar biasa bagi pasangan suami istri tetap menjaga amanah dan mampu memperbaiki setiap retakan tembok syukur pada sang pencipta. Beban yang berat akan terasa berat ketika jiwa dan hati kita meyakini berat.
Setiap amanah yang dibebankan bukan suatu cobaan atau ujian, melainkan hanya untuk disadari bahwa ada hal yang harus dijalani penuh suka cita sebagai bentuk syukur atas pilihan yang diberikan. Kesempatan yang dihadapi semata-mata bagian dari permainan yang Allah berikan untuk dinikmati, bukan dikhianati dan di ingkari.
Sifat rahman dan rahim Allah SWT tidak dibatasi. Siapa pun mereka yang mampu menikmati maka dia merasakannya dan yang mengkhianati juga akan merasakan juga.
Oleh karena itu, jadilah pasangan yang berusaha untuk menikmati dan mensyukuri permainan di dunia penuh suka cita. Jaga semua peralatan permainan di dunia secukupnya dan rawat sebaik mungkin untuk tetap dapat diwariskan pada generasi berikutnya.
Alam semesta adalah wahana bermain semua makhluk didalamnya. Manfaatkan sebaik-baiknya. Semoga kita bisa merawat dan menjaga penuh bahagia dan suka cita.***
