Opini

Dampak Paparan Pestisida terhadap Maskulinisasi dan Keseimbangan Hormon Seks pada Pekerja Perempuan

Oleh: Rica Handayati, Syifa Salsabila Mulyani, dan Triani Nur Fitri*

PESTISIDA merupakan bagian penting dalam sistem pertanian modern yang berfungsi untuk meningkatkan hasil panen dan menekan kerugian akibat hama.

Meski efektif dari sisi produksi, penggunaan pestisida secara masif dan jangka panjang berisiko terhadap kesehatan manusia.

Beberapa golongan pestisida seperti organofosfat, karbamat, dan piretroid diklasifikasikan sebagai bahan kimia berbahaya yang dapat memicu gangguan sistemik, termasuk gangguan pada sistem hormonal.

Paparan kronis melalui kulit, pernapasan, atau konsumsi residu dalam makanan telah dikaitkan dengan gangguan sistem endokrin dan reproduksi (Fucic et al., 2021).

Perempuan di sektor pertanian menjadi kelompok yang sangat rentan terhadap paparan pestisida. Selain sering terlibat langsung dalam penyemprotan dan pengolahan hasil tani, mereka juga memiliki paparan tidak langsung dari lingkungan rumah tangga.

Minimnya alat pelindung diri dan edukasi kesehatan kerja memperburuk risiko ini. Sayangnya, isu kesehatan reproduksi pada pekerja perempuan di sektor pertanian belum banyak mendapat perhatian, meskipun mereka menghadapi beban paparan kimia yang sama atau bahkan lebih besar dibanding laki-laki (Atinkut Asmare et al., 2022).

Salah satu dampak yang mulai teridentifikasi akibat paparan pestisida jangka panjang adalah maskulinisasi, yakni munculnya karakteristik seksual sekunder laki-laki pada perempuan.

Hal ini terjadi akibat terganggunya kerja enzim aromatase, yang seharusnya mengubah hormon androgen menjadi estrogen. Ketika enzim ini dihambat oleh senyawa pestisida, kadar estrogen menurun dan kadar testosteron meningkat.

Ketidakseimbangan hormonal ini dapat menimbulkan gangguan siklus menstruasi, infertilitas, pertumbuhan rambut wajah berlebih, hingga perubahan suara (Gea et al., 2022).

Artikel ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara paparan pestisida dan terjadinya maskulinisasi pada perempuan pekerja pertanian.

Dengan fokus pada mekanisme gangguan enzim aromatase, ketidakseimbangan hormon seks, serta manifestasi klinis dan dampaknya terhadap kesehatan reproduksi.

Merekomendasikan langkah pencegahan berbasis gender guna melindungi perempuan dari risiko kesehatan jangka panjang yang ditimbulkan oleh pestisida.

Mekanisme paparan pestisida sebagai endocrine disruptor

Pekerja perempuan di sektor pertanian sangat rentan terhadap paparan pestisida melalui inhalasi, dermal, dan oral. Jalur inhalasi menjadi paling kritis, terutama saat penyemprotan tanpa alat pelindung. Jalur dermal dan oral terjadi melalui kontak langsung dan konsumsi makanan atau air yang terkontaminasi (Nisio et al., 2019).

Pestisida lipofilik seperti DDT, endosulfan, atrazine, dan pyrethroid cenderung terakumulasi dalam jaringan lemak tubuh, yang secara biologis lebih banyak dimiliki perempuan sehingga meningkatkan risiko gangguan hormonal akibat bioakumulasi jangka panjang (Warner et al., 2020 ; Ansaria et al., 2024).

Setelah masuk tubuh, pestisida mengalami proses toksokinetik: penyerapan, distribusi, metabolisme, dan ekskresi. Lipofilisitas tinggi mempercepat distribusi ke jaringan lemak, dan dalam kondisi stres atau menyusui, pestisida dapat dilepaskan kembali ke sirkulasi darah.

Proses metabolisme oleh enzim hati, seperti sitokrom P450, tidak selalu menetralkan toksisitas beberapa metabolit tetap aktif dan berpotensi mengganggu keseimbangan hormonal. Ekskresi melalui urin, feses, atau keringat berjalan lambat pada pestisida persisten (Zhang et al., 2020; Chai et al., 2020).

Secara toksodinamik, pestisida dapat mengganggu sintesis dan aksi hormon melalui peningkatan atau penurunan aktivitas aromatase, interferensi terhadap reseptor estrogen (ER) dan androgen (AR), serta perubahan ekspresi gen hormon.

Senyawa seperti atrazine dan methoxychlor dapat memicu konversi testosteron menjadi estradiol, atau sebaliknya menyebabkan maskulinisasi akibat akumulasi testosteron.

DDT dan p,p’-DDE memiliki efek estrogenik dan antiandrogenik yang mengganggu keseimbangan hormon seks,di mana penurunan konversi testosteron menjadi estrogen dapat mengakibatkan gejala maskulinisasi seperti perubahan suara, pola distribusi lemak tubuh, dan pertumbuhan rambut berlebih (hirsutisme) (Amir et al., 2021).

Dampaknya mencakup gangguan siklus menstruasi, penurunan AMH, hingga Premature Ovarian Failure (POF). Gangguan ini terjadi akibat disrupsi hormon GnRH, LH, FSH, serta aktivitas aromatase.

Konsekuensinya termasuk atrofi ovarium, folikel kistik, penurunan kualitas oosit, infertilitas, dan peningkatan risiko kanker payudara serta ovarium.

Beberapa pestisida juga memicu perubahan epigenetik pada gen ER dan AR, memperpanjang kerentanan terhadap disfungsi hormonal dan reproduksi (Amir et al., 2021).

Gambar mekanisme paparan pestisida sebagai endocrine disruptor.

Dampak pada keseimbangan hormon seks

Paparan pestisida, khususnya yang berperan sebagai pengganggu endokrin (EDCs), memiliki dampak signifikan terhadap keseimbangan hormon seks pada pekerja perempuan, utamanya estrogen, progesteron, dan androgen. EDCs ini dapat memengaruhi tubuh melalui beberapa mekanisme utama (Ghosh., 2022).

Pertama, pestisida dapat mengganggu sintesis dan metabolisme hormon. Mereka bisa menghambat atau meningkatkan aktivitas enzim penting seperti aromatase, yang mengubah androgen menjadi estrogen.

Perubahan ini menggeser rasio normal hormon, berpotensi meningkatkan androgen secara relatif dan menyebabkan pergeseran ke arah maskulinisasi (Zhang et al., 2020).

Kedua, pestisida dapat berinteraksi langsung dengan reseptor hormon. Beberapa pestisida bertindak sebagai agonis (meniru efek hormon alami seperti estrogen) atau antagonis (memblokir efek hormon seperti androgen).

Misalnya, pestisida organoklorin memiliki efek estrogenik lemah, sedangkan yang lain dapat menunjukkan efek anti-androgenik, mengganggu sinyal hormon yang tepat (Sharma et al., 2020).

Ketiga, akibat gangguan ini, kadar hormon seks dalam darah mengalami perubahan. Ketidakseimbangan ini dapat menyebabkan berbagai masalah klinis, seperti gangguan siklus menstruasi (anovulasi, siklus tidak teratur), penurunan kesuburan, dan berpotensi mempercepat menopause.

Lebih lanjut, ketidakseimbangan hormon yang diinduksi pestisida dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit seperti endometriosis, fibroid uterus, PCOS, dan beberapa jenis kanker yang bergantung pada hormon (misalnya kanker payudara).

Meskipun maskulinisasi yang jelas jarang pada manusia dewasa, perubahan subtle pada karakteristik seks sekunder dapat terjadi akibat pergeseran rasio hormon (Laws et al., 2021).

Gejala maskulinisasi pada pekerja perempuan

Paparan pestisida dapat mengganggu jalur biosintesis hormon seks, terutama melalui inhibisi enzim aromatase yang berperan dalam konversi testosteron menjadi estrogen.

Akumulasi hormon androgen akibat hambatan enzim ini memicu munculnya karakteristik seksual sekunder laki-laki pada perempuan, suatu kondisi yang dikenal sebagai maskulinisasi.

Efek ini tidak hanya bersifat lokal atau sementara, tetapi merefleksikan disrupsi hormonal sistemik yang berpotensi mengganggu fungsi reproduksi dan keseimbangan endokrin jangka panjang (Gea et al., 2022; Zhang et al., 2020).

Manifestasi klinis maskulinisasi yang umum ditemukan mencakup hirsutisme, jerawat parah, kulit berminyak, serta perubahan suara.

Ketidakseimbangan hormonal ini juga berdampak pada penurunan kadar estrogen, yang mengarah pada gangguan menstruasi seperti oligomenore, amenore, dan anovulasi.

Penelitian pada perempuan petani menunjukkan adanya perubahan profil hormonal, termasuk peningkatan androgen dan penurunan FSH dan LH, yang mengarah pada infertilitas (Medithi et al., 2022; Wu et al., 2022; Miranda-Contreras et al., 2022). Gangguan ini mencerminkan keterlibatan aksis hipotalamus-hipofisis-ovarium dalam respons terhadap paparan senyawa pestisida.

Selain perubahan hormonal, maskulinisasi juga tampak dalam aspek morfologis seperti penebalan pita suara, penyusutan jaringan payudara, serta redistribusi lemak tubuh ke daerah abdomen.

Hiperandrogenisme kronis menjadi penyebab utama dari perubahan tersebut, yang seringkali bersifat tidak reversibel (Zhang et al., 2020).

Dalam konteks sosial, gejala-gejala ini sering dipersepsikan sebagai penyimpangan biologis, terutama di komunitas agraris, dan dikaitkan dengan penurunan nilai sosial perempuan (Garcia et al., 2022).

Dampak fisiologis ini turut memicu konsekuensi psikososial yang serius. Perempuan dengan gejala maskulinisasi menghadapi stigma, isolasi sosial, dan gangguan citra diri.

Studi menunjukkan bahwa infertilitas dan perubahan fisik eksternal akibat paparan pestisida berkorelasi dengan ansietas dan rendahnya harga diri, khususnya pada perempuan usia muda (Wu et al., 2022; Rao et al., 2021).

Oleh karena itu, pemahaman tentang maskulinisasi akibat pestisida harus melibatkan perspektif multidisipliner yang mencakup dimensi medis, psikologis, dan sosial budaya.

Pencegahan dan rekomendasi

Upaya pencegahan paparan pestisida pada perempuan petani sangat penting mengingat kerentanan biologis dan sosial yang mereka hadapi dalam aktivitas pertanian.

Salah satu rekomendasi utama adalah penggunaan alat pelindung diri (APD), yang terbukti mengurangi risiko paparan bahan kimia berbahaya.

Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa perempuan kerap tidak difasilitasi dengan APD oleh pemberi kerja, sehingga mereka harus membeli masker sendiri untuk melindungi diri.

Kasus ini mencerminkan ketidaksetaraan akses terhadap perlindungan dasar dan memperlihatkan rendahnya perhatian terhadap keselamatan kerja berbasis gender ( Bozdogan., 2018).

Selain itu, pentingnya pemeriksaan hormon secara rutin bagi petani perempuan meskipun tidak disebutkan secara eksplisit, tergambar dalam anjuran biomonitoring berkala untuk mendeteksi dampak paparan pestisida terhadap sistem endokrin.

Biomonitoring menjadi langkah penting untuk mengidentifikasi perubahan biokimia yang mungkin tidak terlihat secara klinis namun berpotensi mengganggu kesehatan reproduksi ( Apù et al., 2025).

Pada sisi lain, edukasi dan regulasi pestisida berbasis gender menjadi elemen krusial dalam upaya perlindungan jangka panjang.

Penelitian menekankan perlunya pelatihan yang inklusif dan keterlibatan aktif perempuan dalam penyusunan regulasi serta sosialisasi penggunaan pestisida.

Tujuannya agar mereka tidak hanya menjadi objek, tetapi subjek dalam pengambilan keputusan yang memengaruhi keselamatan mereka sendiri.

Pendekatan ini tidak hanya memberdayakan perempuan, tetapi terbukti meningkatkan efektivitas program pengendalian risiko pestisida secara keseluruhan (Rattanawitoon et al., 2023).

Simpulan

Meskipun pestisida penting untuk pertanian modern, akan tetapi dapat menimbulkan risiko kesehatan serius, terutama bagi perempuan pekerja pertanian.

Mereka sangat rentan terhadap paparan pestisida yang dapat mengganggu sistem hormonal, khususnya memicu maskulinisasi.

Hal ini terjadi karena pestisida menghambat enzim yang mengubah hormon perempuan menjadi hormon laki-laki menyebabkan ketidakseimbangan yang berujung pada perubahan fisik.

Misalnya saja seperti pertumbuhan rambut berlebih, jerawat, perubahan suara, dan masalah reproduksi seperti gangguan menstruasi dan infertilitas.

Kurangnya alat pelindung diri dan edukasi yang minim memperburuk risiko ini. Oleh karena itu, perlu tindakan pencegahan yang kuat.

Termasuk penyediaan APD, pemantauan kesehatan rutin, dan edukasi berbasis gender agar perempuan petani dapat terlindungi dari dampak jangka panjang pestisida.

*Mahasiswa prodi Bioteknologi Universitas Muhammadiyah Bandung

Exit mobile version