UMBandung
Opini

Etika Dalam Debat: Membangun Dialog Yang Bermartabat

×

Etika Dalam Debat: Membangun Dialog Yang Bermartabat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi (Istockphoto)

Oleh: Sudarman Supriyadi, Peminat Literasi, Politik, dan Sosial-Kegamaan

BANDUNGMU.COM — Debat merupakan salah satu bentuk ekspresi dalam ruang publik yang memainkan peran penting dalam membangun pemahaman kolektif. Termasuk juga debat soal politik dan pilpres.

Namun, di balik jalinan argumen dan pendapat, sering kali terabaikan pentingnya etika dalam berdebat. Etika bukanlah sekadar aturan formal, melainkan merupakan fondasi dari komunikasi yang bermartabat.

Sering kali debat menjadi medan pertarungan tanpa batas sehingga peserta terjebak dalam ego dan hasrat untuk menang. Selalu menyerang dan menihilkan kebenaran orang lain agar kemudian mendapatkan sanjungan orang lain.

Dalam konteks ini, Albert Einstein mengingatkan kita, “Debat tanpa etika hanya akan menghasilkan konflik tanpa henti.” Einstein menyoroti bahwa kualitas debat tidak hanya terletak pada substansi argumen, tetapi pada cara peserta saling berinteraksi.

Etika dalam debat mencakup sikap hormat terhadap lawan bicara dan pemahaman terhadap perbedaan pendapat. Saling respek dan menghormati di antara lawan debat tidak akan menjatuhkan wibawa.

Baca Juga:  Pentingnya Integrasi Nilai Keislaman dalam Pembelajaran Biologi

Sebagaimana yang disampaikan oleh Nelson Mandela, “Sikap sejati dari seorang pemimpin bukanlah seberapa baik dia mengatur perdebatan, tetapi seberapa baik dia memperlakukan orang-orang yang tidak sependapat dengannya.”

Eks Presiden Afrika Selalatan ini Mandela menekankan pentingnya menghormati pandangan orang lain. Bahkan ketika kita tidak sependapat dengan lawan debat.

Dalam keadaan politik dan sosial yang semakin kompleks, etika debat menjadi semakin relevan. Debat dalam tema apa pun, apalagi soal pilpres, debat tetaplah debat, tetapi etika juga harus tetap nomor satu.

Berbicara tentang hal ini, Mahatma Gandhi mengajarkan, “Saya percaya bahwa kebebasan yang sejati hanya dapat dicapai ketika semua manusia menghargai kebebasan orang lain, sama seperti mereka menghargai kebebasan mereka sendiri.”

Baca Juga:  Hima Ilkom UM Bandung Sukses Selenggarakan IMB

Pernyataan ini mencerminkan esensi etika dalam debat, yakni memperlakukan lawan bicara dengan hormat dan mengakui hak mereka untuk berpendapat.

Penting juga untuk diingat bahwa tujuan utama dari sebuah debat seharusnya bukanlah sekadar kemenangan pribadi. Namun, soal pencarian kebenaran bersama.

Sebagaimana diungkapkan oleh Martin Luther King Jr, “Tujuan tertinggi dari pendidikan adalah pengetahuan dan cinta, tujuan tertinggi dari kehidupan adalah memahami satu sama lain.”

Etika dalam debat membawa kita pada pemahaman bahwa diskusi adalah sarana untuk belajar bersama, bukan ajang untuk merendahkan pihak lain.

Dengan menginternalisasi nilai-nilai etika dalam debat, kita dapat menciptakan ruang diskusi yang lebih produktif dan membangun masyarakat yang lebih inklusif.

Ajang debat pilpres menjadi panggung yang sangat baik untuk bertarung gagasan. Bukan soal gimik-gimik dan lelucon yang tidak substantif.

Etika dalam debat adalah pondasi dari dialog yang bermartabat dan perbedaan pendapat dapat diterima sebagai bagian dari keberagaman manusia.

Baca Juga:  Abdul Mu'ti: Muhammadiyah Bukan Kendaraan Politik Praktis

Seiring dengan itu, kita dapat mengambil inspirasi dari kata-kata Abraham Lincoln, “Ketika saya tidak setuju dengan seorang pria, saya memiliki kebiasaan baik untuk mengamatinya dari sudut pandangnya, jika saya bisa menemukannya.”

Etika dalam debat membawa kita pada pemahaman bahwa melihat dari sudut pandang orang lain dapat memperkaya perspektif kita sendiri.

Berdebatlah dengan elegan dan bermartabat. Berdebatlah dengan ide dan gagasan yang kesatria tanpa merendahkan siapa pun.

Ingat, juri dari pilpres atau pileg adalah rakyat, bukan elite politik atau ketua umum partai. Bukan pula pemodal yang kadang-kadang hanya mementingkan kelompoknya sendiri.

Debat yang berkualitas akan mengedukasi rakyat soal bagaimana menentukan dan memilih calon pemimpin bangsa. Jadi, berdebatlah dengan cerdas agar rakyat bisa memilih pemimpin yang cerdas pula.***

PMB UM Bandung