Oleh: SUKRON ABDILAH, Penulis Buku Filosofi Doa
“Ya Tuhan Kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka,” (QS. Al-Baqarah [2]: 201).
Hidup yang penting happy!
Pernahkah kamu mendengar kata-kata seperti itu?
Setujukah dengan ungkapan itu?
Harus setuju! Lagian, siapa, sih, orangnya, yang ingin hidup menderita? Tak akan ada orang yang mau hidupnya dipenuhi kesedihan dan kemenderitaan, sebab hal itu sangat menyakitkan hati.
Tetapi, ada sebagian orang yang berprinsip, hidup happy itu semacam mabuk-mabukan, dugem, free sex, dan bersenang-senang. Bahkan, ada muslimah yang nambahin, bahwa hidup happy itu kumpul bersama teman sambil ngegosip ria.
Lantas, pernahkah kita berpikir, kenapa ada orang yang mau menghabiskan waktu dan uangnya hanya untuk mabuk-mabukan, dugem, joget-joget di diskotik atau melakukan sex bebas?
Menurutmu, apakah hal tersebut mereka lakukan karena hidupnya sudah happy, atau malah sebaliknya?
Kalaulah hidupnya sudah happy, ngapain juga mereka mabuk-mabukkan, dugem, joget, dan bergaul bebas di luar rumah? Logikanya, kalau hidup mereka sudah happy, ya, seharusnya tidak melakukan perbuatan tuna moral seperti itu, kan?
Ketika seseorang melakukan perbuatan maksiat seperti mabuk-mabukan, dugem, joget, dan sex bebas; sejatinya hidupnya belum happy. Tak heran apabila ia melampiaskannya ke dalam perbuatan bejat tersebut, karena mereka sedang mencari kebahagiaan.
Alangkah lebih baik, bila mereka mengisi jatah usia muda dengan perbuatan baik, yang tidak merugikan hidupnya di akhirat kelak.
Bagaimana caranya, agar kita bisa menggapai happy di dunia dan happy di akhirat?
Ya, jawabannya, selalu berbahagia bila hidup bersama Allah, sebab dengan-Nya kita akan selalu happy.
Kira-kira, kalau kita sudah happy bersama Allah, mau tidak pindah kepada selain Allah?
Pada dasarnya setiap gerak yang kita lakukan tiada lain untuk mencari sesuatu kesenangan, yakni kebenaran hidup, kebaikan, keindahan, juga kebahagiaan.
Kita pasti setuju, kalau ada api yang mau membakar lengan, kita secara refleks akan menghindarinya, sebab tahu bahwa jilatan api itu akan membuat tangan menjadi panas. Berbeda kalau ada orang yang mau ngasih uang, kita pasti mengambilnya, karena tahu bahwa uang itu baik bagi dompetmu.
Jadi, kalau ada orang yang suka hura-hura nggak karuan seperti mabuk-mabukan, dugem, freesex dan segala macam kemaksiatan, jangan dulu menganggap mereka sedang happy apalagi sudah happy. Tidak!
Justru, mereka melakukan itu pada dasarnya sedang mencari kesenangan, karena sejak awal sudah merasa bosan atau tidak bahagia.
Begini, kalau hati kita sudah tenang dan bahagia, kira-kira apa yang akan kita lakukan?
Kita, kalau sudah tenang dan berbahagia hati, hal selanjutnya yang ingin dilakukan adalah bersyukur, bukan yang lain. Begitulah kenyataan dan sifat kodrat manusia beriman. Ketika mendapat nikmat, ia akan selalu bersyukur. Kalaupun mereka kufur terhadap nikmat, Allah mengancamnya dengan siksaan pedih di akhirat kelak.
Kalau ada yang memberi kebahagiaan, uang misalnya, dan kita begitu teramat senang dengan pemberian itu, pasti kita tidak tahan ingin mengucapkan terima kasih kepada si memberi.
Apalagi, jika kita menyadari bahwa semua nikmat yang diberikan Allah kepada hidup kita seperti usia, kesehatan, kekayaan, dan waktu luang; tentunya kita akan selalu mengucapkan Alhamdulillah (segala puji Allah), sebagai bentuk syukur kita kepada Allah.
Begitu juga kalau hati kita sudah dipenuhi dengan ketenangan, kebahagiaan, dan ketentraman; kita pasti ingin selalu bersyukur kepada Allah Swt. Sedangkan syukur itu akan menambah kenikmatan dalam hidup kita.
Jadi, semakin besarlah kebahagiaan kita, sehingga bukan hanya syukur yang ingin kita lakukan kalau hati sudah sedemikian senangnya, melainkan juga ingin membagi kebahagiaan itu dengan orang lain.
Ketahuilah, hati kita sangat terbatas dalam menampung kebahagiaan, sehingga kalau kelebihan, tubuh kita otomatis akan ngikutin isyarat hati yang menginginkan agar kebahagiaan tersebut dibagi-bagi kepada orang lain, khususnya kepada orang-orang yang disayangi.
Kalaulah kebahagiaan masih serasa kosong dalam hati, hal yang kita lakukan adalah mencarinya. Apabila kebahagiaan itu sudah kita dapatkan, kita akan mensyukurinya, karena itu tanda kita sudah tenang, senang, dan merasa beruntung.
Selanjutnya, kalau kebahagiaan terlalu banyak atau terlalu luas kita rasakan, barulah kita akan membutuhkan hati orang lain untuk menampung kebahagiaan kita, agar mereka juga mendapatkan bahagia.
Makanya, orang yang tidak pernah bersyukur, tidak ada istilah sudah mendapatkan kebahagiaan apalagi keuntungan. Sebab, punya harta banyak juga, hatinya malah dirundung ketakutan dan kehawatiran, bukannya tambah tenang. Di mana bahagia dan untungnya, semakin berharta malah semakin sempit hatinya.
Rasulullah Saw. bersabda, “Pada hari Kiamat nanti akan didatangkan seorang penduduk dunia yang paling banyak mendapatkan kenikmatan, namun dia termasuk penduduk neraka. Lalu dia dimasukkan sebentar di dalam api neraka, kemudian dia ditanya, ‘Hai anak Adam, pernahkah engkau melihat kebaikan?
Pernahkah engkau mendapatkan kenikmatan?’ Maka dia menjawab, ‘Tidak, demi Allah, wahai Rabbku’.
Selanjutnya, akan didatangkan seorang yang paling sengsara di dunia, namun dia termasuk penduduk surga. Lalu dia dimasukkan sebentar ke dalam surga, kemudian dia ditanya, ‘Hai anak Adam, pernahkah engkau melihat kesengsaraan? Pernahkah engkau menderita kesusahan?’ Maka dia menjawab, ‘Tidak, demi Allah, wahai Rabbku. Aku tidak pernah mendapatkan kesengsaraan sama sekali, dan aku tidak pernah melihat kesusahan sama sekali’.” (HR. Muslim).
Kita mungkin bertanya, kenapa orang yang banyak mendapatkan kenikmatan di dunia menjawab tidak pernah mendapatkan kebaikan dan kenikmatan? Sedangkan yang di dunianya sengsara mengatakan mendapatkan begitu banyak kebaikan dan kenikmatan?
Kemewahan dunia berupa materi itu, tidak bersangkutan sama sekali dengan kebahagiaan yang sesungguhnya. Ibaratnya, makanan yang terhidang dengan hiasan yang memikat selera, tidak menjamin enak rasanya. Demikian juga dengan nikmat di dunia, ketenangan, kebahagiaan, dan kebaikan; semua terpisah dengan materi.
Boleh saja kita memiliki kelimphan harta, rupa yang menawan, tahta yang tinggi, usia yang panjang, dan waktu luang yang luas. Tetapi, kalau Allah tidak menganugerahi kita kebahagiaan, tidak menampakkan keindahan, dan keagungan rahmat-Nya tidak dilimpahkan, apa artinya semua itu?
Kita malah akan hidup tersiksa, penuh dengan ketakutan, selalu dicurigai segala sesuatu bisa mengurangi harta, memikat kekasih kita, dan menjatuhkan tahta kita.
Hidup seperti itu, teramat jauh dari ketenangan dan kebahagiaan, kan?
Ingatkah kita dengan kisah Fir’aun, yang hanya gara-gara bermimpi ada seseorang yang akan menjatuhkan singgasananya, ia langsung memerintahkan bala pasukannya untuk menyembelih bayi-bayi Bani Israil yang baru lahir.
Kenapa Si Fir’aun sampai memerintahkan demikian?
Tentu saja gara-gara rasa takut yang teramat luar biasa horror-nya. Padahal ia baru diancam lewat mimpi. Ia jadi menderita gegara takut kehilangan tahta dan kekuasaan. Fir’aun gelisah dan resah karena kesenangannya terhadap materi terancam. Ia menjadi tidak bahagia lagi hidupnya.
Demikianlah harta di dunia, hanya sebagai hiasan semata, itu pun tidak nyata. Namun, Allah masih bisa membahagiakan kita tanpa perantara harta yang melimpah, hanya secukupnya, dan ditambah dengan berbagai cobaan.
Seperti pada kisah Nabi Ayub as. Beliau begitu bahagia dan berysukur pada Allah Swt mengambil seluruh hartanya yang berlimpah hingga beliau papa, istri dan anaknya juga meninggalkannya, bahkan sampai hidup sendirian karena penyakit yang dideritanya mengakibatkan siapa pun jijik untuk melihatnya, lalu menjauhinya. Tetapi, beliau tetap bahagia dan berysukur kepada Allah Swt.
Nabi Ayyub as memberi tauladan kepada kita, bahwa kita bisa berbahagia tanpa harta. Tapi, tidak berarti juga kita harus miskin harta dan tidak bertahta. Karena keduanya juga penting untuk perjuangan di jalan Allah.
Tidak menganggap penting harta dan tahta juga keliru, apalagi sampai benar-benar memilih hidup di bawah garis kemiskinan.
Karena itu,
• Gunakanlah usia muda kita, sebelum datang usia tua kita.
• Gunakan kekayaan kita, sebelum datang kemiskinan.
• Gunakan kesehatan kita, sebelum datang rasa sakit.
• Gunakanlah waktu luang kita, sebelum dikepung waktu sempit kita.
• Gunakanlah hidup kita, sebelum datang mati kita.
Insyaallah, dengan memanfaatkan lima perkara sebelum datangnya lima perkara yang lain itu hidup kita menjadi lebih bernilai. Kebahagiaan kita pun tidak hanya akan mewujud di dunia, tapi juga abadi di akhirat kelak.












