Oleh: SUKRON ABDILAH – Chief in Editor
BANDUNGMU.COM — Suatu hari, di pagi hari yang cerah bendera, saya menyeduh kopi hitam di gelas batok yang kepulkan aroma harum khas menyengat, tapi menyegarkan. Kopi Arabica tea atuh!
Badan yang tadinya lesu karena kelelahan, dengan secangkir kopi panas membuat saya tambah semangat. Dengan hanya mencium baunya saja, air kopi telah membangkitkan gairah hidup saya di hari itu; sehingga ide bertebaran memanggil gerak jasad untuk mewujudkannya.
Saya pun berteriak dalam hati kegirangan, karena saking banyaknya ide yang harus diejawantahkan. Ide yang terbang mirip seribu kunang-kunang yang beterbangan di Padang Savana yang imajinatif.
Lelah dalam hidup ialah sesuatu yang biasa dan normal terjadi pada diri manusia. Tetapi, akan berubah menjadi abnormal kalau setiap hari kelelahan itu membuat kita malas melakukan apa-apa. Hanya ngarengkol berselimutkan saja.
Semangat hidup. Ya, inilah yang harus kita tanamkan dalam aktivitas sehari-hari. Tanpa semangat hidup, saya pikir, dunia ini akan ada tanpa ajegnya sebuah peradaban. Semangat hidup sangat terkait erat dengan rasa cinta menggebu, dengan obsesi, dengan cita-cita, dan dengan terbangunnya masa depan.
Cinta dalam diri dapat mengalirkan adrenalin untuk memproduksi sesuatu dalam kerangka kreativitas dan inovasi. Coba lihatlah gadget super cerdas seperti Apple Iphone. Produk ini lahir ke tengah-tengah hidup kita karena sang penemunya mencintai kehidupan. Mencintai dunia teknologi. Dan, mencintai ilmu pengetahuan. Utamanya mencintai masa depan.
Sang pencipta, Steve Jobs, memang kini telah tiada meninggalkan dunia — yang kata sebagian Sufi bersifat fana — namun produk yang didasari cintanya tersebut hingga kini masih bermanfaat bagi umat manusia. Malahan ketika setahun lebih pasca kematiannya, Apple “New Ipad” habis terjual empat juta lebih dalam jangka tiga hari saat launching.
Itulah bukti cinta dan semangat hidup yang telah dibenamkan dalam diri manusia. Karena itu, ketika kita menjadikan kehidupan ini sebagai wahana berkarya, di saat itulah hidup akan dipenuhi cinta dan semangat.
Biar pun kondisi hidup serba kekurangn, tetapi Anda akan menjadikannya sebagai ladang amal dan pahala dengan terus-menerus melahirkan karya. Karena itu, kerja, usaha, karya, cinta dan semangat hidup ialah sesuatu yang harus dibangkitkan mulai saat ini.
Bagi saya hidup harus dipahami secara sederhana. Tak ada Yang sulit dalam hidup ini, utamanya bila menyangkut persoalan hidup. Setiap persoalan hidup, seberat apa pun itu, Tuhan akan tetap bersama kita; Dia akan memberikan ujian-Nya sesuai kemampuan.
Selain itu, Dia tidak akan pernah meninggalkan kita untuk berjibaku keluar dari badai kehidupan. Namun, sebagai makhluk yang tak bisa teringat terus pada-Nya, kita kerap hanyut sangat lama sekali “melupakan” kehadiran-Nya dalam hidup ini.
Bahkan, bagi sebagian orang “atheis” hadirnya Tuhan dalam hidup diingkari dengan logika dan rasio. Tanpa sadar, kita sebetulnya, hanya beberapa saat saja mengingat Tuhan. Sangat jarang – saya seyakin-yakinnya ― dalam 24 jam sehari-semalam mengingat Tuhan.
Nama-Nya hanya menggema di saat waktu memasuki Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya. Hanya beberapa menit saja Allah menggema di hati kita. Setelah itu, hanya menunggu sepersekian detik, Tuhan tak lagi diizinkan mengikuti kita saat melakukan aktivitas duniawi.
Bagi saya, tak ada yang namanya kekuatan diri ketika Tuhan hanya dipahami sebagai asma-asma Indah saja. Sementara itu, ditiadakan dari segala aktivitas kehidupan.
Akibatnya, banyak manusia silau dengan harta dan kekayaan. Kesuksesan juga artinya menjadi “berat sebelah”, sehingga manusia akan menerima manusia lain ketika sukses melimpahkan kekayaannya. Bercakap-cakap hanya dengan kalangannya saja.
Selamat hidup menjadi lebih hidup, kawan! Ingat, sekali lagi, seberat apa pun persoalan hidup, Tuhan akan selalu bersama kita.
Tetapi, umat manusia cenderung egois dengan memaksakan kehendaknya untuk dikabulkan Allah. Padahal, diperlukan sebuah gaya komunikasi interaktif antara hamba dengan Tuhan dalam sebuah kesempatan yang ditentukan, ketika dirinya sedang tertimpa sebuah masalah besar.
Kadangkala ketika seseorang berhadapan dengan masalah yang sangat besar ia kerap terjebak melakukan hal-hal di luar garis moral yang ditentukan Islam.
Berdoa merupakan kompas yang berfungsi membetulkan arah jalan kehidupan umat manusia, sehingga mereka sadar bahwa dibalik harapan tersimpan kenyataan yang diluar perkiraannya.
Dalam hal ini, berdoa secara konsisten akan mengembalikan seorang individu untuk kembali pada ketenangan dan ketentraman, sehingga dapat kembali berkonsentrasi melakukan perubahan.
Prof Fazlur Rahman, di dalam buku bertajuk “Islamic Methodology in History” (1965) menjelaskan bahwa masalah pokok di bidang moral mengenai kemerdekaan dan pertanggungjawaban manusia, ialah ketiadaan pijakan moral.
Dalam posisi demikian, kata Gurunya almarhum Buya Syafii Maarif itu, kehadiran ayat-ayat Al-Quran dan amal perbuatan Nabi (baca: sunah) diperlukan untuk menjamin agar energi kreasi tetap maksimal dan menjaganya agar tetap dalam koridor moral yang benar.
Begitu juga bagi seorang manusia yang tengah bergelut dengan masalah – entah itu kemiskinan atau musibah – diperlukan sebuah aktivitas bernilai ilahiyah, agar gerakannya bernilai, bermoral, dan berpahala.
Dengan inilah maka perubahan diri yang kita lakukan akan membahagiakan kehidupan kita di dunia maupun di akhirat kelak. Karena itu, berusaha dan berdoalah, InsyaAllah! Anda dapat mewujudkan kesuksesan hidup yang diimpikaan menjadi nyata.
Innallaha ma’ana!












