Opini

Gelombang Self-Love Mereda, 2025 Menjadi Tahun Self-Discipline

×

Gelombang Self-Love Mereda, 2025 Menjadi Tahun Self-Discipline

Sebarkan artikel ini
Sumber: pinterest

Di balik tampilan KRS yang rapi, unggahan media sosial yang produktif, dan narasi “on my grind”, banyak mahasiswa diam-diam merasakan kelelahan. Mereka tetap hadir di kelas dan menyelesaikan tugas, tetapi kehilangan semangat.

Kondisi ini dikenal sebagai burnout kampus, kelelahan fisik, mental, dan emosional akibat tekanan akademik, organisasi, magang, serta ekspektasi diri yang terus meningkat. Mahasiswa merasa harus selalu produktif, seolah jeda menjadi tanda kegagalan.

Tugas datang bertubi-tubi, tenggat organisasi saling berbenturan, orang menganggap magang sebagai kewajiban, sementara media sosial membentuk standar baru kuliah aktif, magang berjalan, dan tetap terlihat sukses. Tekanan tersebut membuat banyak mahasiswa kehilangan motivasi belajar, bukan karena malas, tetapi karena lelah berkepanjangan.

Baca Juga:  De-stoikisme dalam Perspektif Islam

Tanda-tanda burnout semakin nyata. Konsentrasi menurun, pola tidur berantakan, kelelahan tak kunjung hilang, hingga mati rasa secara emosional. Bagi sebagian mahasiswa, kampus berubah dari ruang berkembang menjadi ruang bertahan.

Setelah lama menggaungkan self-love, banyak mahasiswa mulai menyadari bahwa istirahat saja tidak cukup. Tahun 2025 menandai pergeseran menuju self-discipline yang lebih manusiawi. Bukan disiplin yang memaksa produktivitas, melainkan kemampuan mengatur waktu, menetapkan batasan, dan memilih prioritas tanpa rasa bersalah.

Mahasiswa mulai berani berkata “tidak”, mengurangi aktivitas yang menguras energi, memperbaiki pola tidur, serta memberi diri sendiri izin untuk beristirahat. Langkah tersebut bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk adaptasi.

Baca Juga:  Pers Kini dan Hari Esok

Burnout kampus menjadi pengingat bahwa mahasiswa bukan mesin. Jika perguruan tinggi ingin melahirkan generasi yang sehat secara mental dan kuat secara akademis, ruang bernapas, sistem yang fleksibel, dan dukungan kesehatan mental harus menjadi kebutuhan utama, bukan sekadar pelengkap.

Mahasiswa tidak menuntut kemudahan. Mereka hanya ingin tetap utuh sebagai manusia, bukan sekadar lulus sebagai angka statistik.***(IK22/Wida)