Haedar Nashir: Merusak Alam Berarti Merusak Kehidupan

oleh -

BANDUNGMU.COM — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menjelaskan runtutan perkembangan peradaban mulai dari revolusi kognisi umat manusia sampai dengan revolusi industri, Haedar menyebut, tragedi kerusakan alam terjadi justru pasca revolusi industri. Di mana terjadi reduksi kemampuan alam dan manusia untuk kembali kepada habitat aslinya.

“Revolusi IPTEK itu membawa kemakmuran hidup. Tetapi pada saat yang sama revolusi IPTEK merusak alam dan manusia,” imbuh Haedar, di acara Seminar Nasional Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah secara daring, Rabu (01/09/2021), dikutip dari laman resmi Muhammadiyah.

Rusaknya alam saat dan pasca revolusi IPTEK menurutnya akibat dari kekuatan kapitalisme yang berselingkuh dengan kekuatan IPTEK, dan mendapat dukungan melalui penguatan rasionalitas untuk merusak, memperdaya, atau bahkan memperkosa alam sehingga alam tidak berdaya lagi di hadapan mereka.

Mengutip Mahatma Gandhi, Haedar menegaskan bahwa, dunia ini selalu tidak cukup untuk memenuhi keinginan manusia yang rakus, dan masih kosong bagi orang mencintai perdamaian. Akan tetapi realitanya kehidupan ini gaduh akibat ulah segelintir orang yang dibiarkan merusak kehidupan.

Tidak bisa dipungkiri kerusakan alam erat kaitannya dengan peran kapitalisme dan neo kapitalisme, karena mereka tidak punya ambang batas untuk menghentikan eksploitasi terhadap alam. Fakta demikian bisa ditemukan di banyak literatur, terlebih kelompok kapital yang bergerak di bidang pertambangan.

Kerusakan alam yang terjadi di darat maupun di laut oleh Alquran disebut sebab ulah tangan manusia. Akan tetapi atas kerusakan yang dilakukan manusia memiliki logika post factum/logika pembenaran atas kerusakan yang dilakukan dengan menggunakan logika-logika rasional.

Menurut Haedar, pertaruhan manusia saat ini dalam usaha perbaikan lingkungan/iklim adalah mengubah alam pikiran metafisis manusia yang sudah terlanjur menjadi alam berpikir/nalar fungsional dan instrumental. Sebab kedua nalar tersebut bukan hanya dalam ilmu pengetahuan, tapi dalam segala aspek nalar hidup manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *