Opini

Haru Kemerdekaan: Antara Euforia dan Luka Bangsa

×

Haru Kemerdekaan: Antara Euforia dan Luka Bangsa

Sebarkan artikel ini

Oleh: Kasriani* 

Benarkah Indonesia telah merdeka? Tepat 80 tahun negara Indonesia merdeka setelah memperoleh kemerdekaan sejak tahun 1945.

Di balik euforia kemerdekaan tepat pada Agustus 2025, perayaan dilakukan tak serta merta menunaikan upacara bendera sekedar sebagai simbolik penghargaan pada bangsa dan para pahlawan.

Namun, tentunya lebih dari pada itu. Pemaknaan mendalam harusnya terbentang pada tiap sanubari masyarakat dan tiap elemen penting dalam memajukan bangsa Indonesia.

Indonesia yang katanya merdeka, pemberian penghargaan kepemimpinan diserahkan kepada mantan koruptor negara, konstitusi diperjualbelikan, suara dibungkam, undang-undang dipermainkan, dan atau perlakuan tumpul ke atas tajam ke bawah masih merajalela.

Jajaran yang telah terdoktrin “NKRI harga mati” apakah berlaku hanya ketika berada di medan perang penjajahan? Atau harga mati hanya teruntuk mempertahankan cacatnya baju dinas dan pangkat yang dikejar mati-matian? Atau perlawanan pada rakyat hingga menewaskan nyawa sepihak?

Perasaan salah mungkin saja menggeruti, hanya dengan “permohonan maaf”, besok kesalahan sama akan terulang kembali. Siklus kepemimpinan yang tak pernah putus, apa kabar Indonesia maju?

Baca Juga:  Cintai dan Sayangi Anak Sepenuh Hati

Dukungan penuh dan ucapan tanda kehormatan terhadap para petinggi yang masih mempertahankan idealismenya, memelihara integritas, merawat visi misi kepemimpinan, menyokong Indonesia maju, dan menjunjung tinggi nilai-nilai pada tiap sila Indonesia.

Namunn, nyatanya tersingkirkan karena posisi minoritas yang ditakuti oleh jajaran koruptor dan atau koalisi masing-masing. Lelucon yang mengharukan, tetapi memang demikian adanya.

Hidup pada kemerdekaan atas dasar kepetingan beberapa oknum dan menjunjung tinggi kepentingan pribadi dan koalisi pemegang kendali tiap kursi-kursi yang terus dibenarkan.

Evaluasi bukan hanya teruntuk para pemimpin terpilih di negara Indonesia tericnta. Namun, teruntuk seluruh rakyat sebagai posisi tertinggi pada negara demokrasi.

Selayaknya integritas tak diperjualbelikan hanya bagi-bagi scincare saat kampanye, pembagian kupon yang isinya beragam, dan atau termakan janji manis tanpa memandang inetgritas latar belakang para calon wakil rakyat.

Baca Juga:  Masjid Raya Al-Jabbar, Kado yang Ditolak di Hari Milad

Beberapa di antaranya memikirkan “besok aku harus makan apa?” dijadikan sebagai boneka-boneka para petinggi untuk mengambil hak alih suara, dengan komitmen kehadiran jangka panjang untuk mensejahterakan, nyatanya tidak demikian.

Alih-alih memikirkan rakyat, simbolis serupa terjadi berulang-ulang hanya mengejar kepentingan pribadi, kepentingan partai, dan di antaranya terjerat kasus korupsi.

Padahal, hidup perlu berkesadaran penuh bahwa rakyat miskin sering kali dijadikan sebagai komoditas politik.

Apakah semengharukan ini kemerdekaan Indonesia?

Katika rakyat merayakan kemerdekaan di bulan Agustus dengan turun ke jalan, berteriak di hadapan gedung parlemen tertinggi negara hanya dengan tujuan “keadilan”.

Amukan rakyat bukan hanya aliansi kosong nyaring bunyinya, bukan karena ditunggangi koruptor untuk mengkritik para koruptor, bukan juga hanya gaya-gayaan menyampaikan orasi hingga dapat dikenang sebagai pahlawan.

Namun, itu adalah bentuk perlawanan ketidakadilan yang telah mengakar dan dipenjundangi oleh koalisi tertentu. Menuntut hak agar bekerja atas dasar hati nurani tanpa kepentingan memoles kekayaan sendiri.

Baca Juga:  Rasulullah Sang Ilmuwan

Hal tersebut menggambarkan bahwa pendidikan di Indonesia tergolong sangat lemah. Opini tersebut sesuai dengan GoodStats bahwa hampir seperempat (24,3%) dari 284,4 juta penduduk di Indonesia tercatat tidak pernah sekolah per Desember 2024.

Meski demikian, kesepakatan bahwa perwakilan rakyat atau pemimpin di Indonesia telah menempuh pendidikan secara formal.

Namun, pendidikan formal tidaklah cukup untuk berkerja dengan hati nurani dan menjunjung tinggi sistem negara demokratis.

Bukan karena studi yang telah ditempuh bertahun-tahun hingga mendapatkan gelar sarjana atau lebih dari itu.

Pendidikan yang notabenenya melahirkan orang-orang dengan tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa tanpa mendiskreditkan dan mempecundangi sistem yang telah berlaku. Harapan Tuhan selalu melindungi rakyat dan negara Indonesia tercinta.

Terdidik adalah pilihan.

Jika tidak dengan mereka.

Mulailah dari Anda!

*Mahasiswa Pascasarjana Universitas Padjadjaran Bandung