Hebat! Tidak hanya Halalbihalal, Muhammadiyah juga Perintis Awal Pelayanan Kesehatan

oleh -
Ilustrasi Idulfitri (Sumber: istockphoto).

BANDUNGMU.COM – Apa yang biasanya dilakukan oleh mayoritas umat Islam indonesia setelah lebaran? Selain liburan, ada hal yang penting yang biasanya dilakukan, yakni halalbihalal.

Bagaimana asal-usul dan arti halalbihalal? Mengutip Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), halalbihalal artinya hal maaf-memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadan, biasanya diadakan di sebuah tempat (auditorium, aula, dan sebagainya) oleh sekelompok orang.

Perihal banyak dan seringnya institusi dari Persyarikatan Muhammadiyah yang mengadakan acara Halalbihalal, menurut Ketua PP Muhammadiyah, dr. Agus Taufiqurrahman, hal itu karena memang Muhammadiyah termasuk yang merintis sejak awal silaturahmi Idulfitri ini.

Merujuk sumber dari ”Suara Muhammadiyah”, Muhammadiyah telah menggunakan istilah Halalbihalal sejak Idulfitri 1 Syawal 1344 H atau pada 1926 Masehi. Berangkat dari data tersebut, kata dr. Agus, telah mematahkan yang menyebut bahwa istilah Halalbihalal baru muncul di Indonesia pada 1945.

“Karena ini dokumen tertulis, cetakan barangnya masih ada, bahwa Muhammadiyah sejak awal melakukan kegiatan halalbihalal—silaturahmi Idulfitri seperti yang kita lakukan ini,” urainya pada malam dalam acara Silaturahmi Syawalan MPKU PP Muhammadiyah belum lama ini, seperti dikutip dari laman resmi Muhammadiyah, Sabtu 22 Mei 2021.

Menyampaikan tetang sejarah Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) Muhammadiyah, dr. Agus menyebut, sejak awal berdirinya Muhammadiyah, embrio MPKU sudah terbentuk dengan adanya Bidang Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO).

Meskipun di awal sempat menjadi bahan bercandaan saat Kiai Sudja menyampaikan keinginannya untuk mendirikan rumah sakit, tetapi pada 1923 keinginan tersebut menjadi kenyataan. Bahkan, rumah sakit tersebut menjadi tempat pelayanan kesehatan pertama yang dimiliki oleh pribumi waktu itu.

“Setahun kemudian muncul cabang PKO pertama di Surabaya yang dipimpin langsung oleh dr. Soetomo, pahlawan kita. Bahkan namanya harum dipakai untuk nama rumah sakit negara di Surabaya,” imbuhnya

Pelayanan bidang kesehatan yang bisa dinikmati oleh pribumi di tengah masa penjajahan sudah menjadi kesadaran para generasi awal pimpinan Muhammadiyah. Maka kemudian, MPKU harus menjadi bagian yang tidak terelakkan dan terus dikawal, tertata, serta maju pengelolaannya.

Agus berharap, selain bidang kesehatan, rumah-rumah sakit Muhammadiyah juga harus menjadi pusat keunggulan. Hal ini menurutnya bukan suatu yang tidak mungkin karena jika diambil sampel rata-rata berbasis kabupaten/kota, rumah sakit Muhammadiyah menjadi rumah sakit terbaik di kota itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *