Warga Muhammadiyah Wajib Contohkan Keteladanan di Media Sosial

oleh -

BANDUNGMU.COM – Ada fakta yang cukup membuat kita prihatin dan mengelus dada bahwa netizen Indonesia dikenal paling barbar sedunia. Demikian fakta yang terungkap dalam rilis survei Microsof soal Digital Civility Index (DCI) pada 2020 lalu.

Dari hasil survei yang melibatkan 16.000 responden di 32 negara itu, kualitas kesopanan netizen Indonesia menempati urutan ke-29 dari 32 negara. Di Asia Tenggara, netizen Indonesia menempati posisi pertama untuk kualitas paling tidak sopan.

Menanggapi hal itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menganggap penting bagi Muhammadiyah untuk lebih giat menebarkan dakwah pencerahan dan menguatkan nilai-nilai Islam sebagai agama peradaban melalui berbagai aktivitasnya.

“Di sinilah pentingnya kita terus mengkaji pemikiran-pemikiran keislaman kita secara bayani, burhani, dan irfani. Sebagai bagian dari realitas yang bersifat revolusi sains dan teknologi itu, kita juga berhadapan secara praksis dengan apa yang kita sebut sebagai simulakra (dunia tipuan) media sosial saat ini,” kata Haedar, seperti dikutip dari laman resmi Muhammadiyah, Selasa 25 Mei 2021.

Pisau bermata dua

Dalam forum Halalbihalal PP Muhammadiyah 1442 H, Ahad 23 Mei 2021, Haedar menganggap media sosial bagaikan pisau bermata dua.

Satu sisi mampu bermanfaat untuk kepentingan dakwah, ilmu pengetahuan, dan interaksi yang lebih canggih. Namun, pada sisi yang lain mampu mereduksi akal budi dan keadaban.

“Dan disebutkan bahwa 68 persen (ketidaksopanan) justru dilakukan oleh yang sudah berusia dewasa. Yang banyak dikembangkan adalah hoaks dan segala macam kebencian dan diskriminasi,” imbuhnya.

Haedar pun berpesan agar warga Muhammadiyah tidak ikut larut dalam keriuhan di media sosial dengan cara-cara yang tidak menggambarkan sikap dan akhlak yang tercerahkan.

“Poin ini penting bagaimana kita sebagai organisasi dakwah menghadirkan dakwah yang membawa dan membangun keadaban publik. Normatifnya kita sudah tahu, paham bahwa Islam itu agama yang mengajarkan akhlakul karimah, tetapi kemudian bagaimana penerjemahannya dalam tablig dan dakwah,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *