Opini

Industri Film Indonesia di Tengah Laju Sinema Global

Sumber: istock

Dalam dua dekade terakhir, industri film global melaju cepat. Hollywood terus memperbesar skala produksi, Jepang menguat melalui anime lintas budaya, Korea Selatan membangun ekosistem kreatif yang solid, sementara Thailand konsisten menghadirkan kejutan. Di tengah arus tersebut, perfilman Indonesia bergerak lebih lambat. Meski sineas nasional sesekali melahirkan karya yang menarik perhatian dunia, industri film Indonesia belum membentuk konsistensi kreatif yang kuat.

Film seperti The Raid dan The Night Comes for Us memperlihatkan kemampuan teknis sineas Indonesia, terutama dalam genre aksi. Namun, para pembuat film belum sepenuhnya mengimbangi kekuatan visual itu dengan pendalaman karakter dan eksplorasi naratif. Banyak film menonjol dalam aspek eksekusi, tetapi para kreator masih enggan memperluas cerita dan mengambil risiko artistik.

Ketimpangan genre juga menjadi persoalan utama. Industri film Indonesia masih didominasi horor, drama, komedi, dan romansa, padahal sejarah dan kekayaan budaya nasional membuka peluang pengembangan genre yang jauh lebih beragam. Struktur industri turut memperparah stagnasi ini. Produser pemilik modal kerap memegang kendali utama, sehingga keputusan kreatif sering mengikuti kalkulasi pasar jangka pendek, bukan visi jangka panjang.

Selain itu, modal memiliki pengaruh kuat terhadap politik representasi. Sepanjang sejarah, perfilman pernah membentuk memori kolektif masyarakat. Saat ini, banyak film justru mengomodifikasi budaya lokal tanpa riset mendalam dan sensitivitas sosial. Praktik tersebut mendorong representasi yang berulang dan stereotipik, yang pada akhirnya mereduksi kompleksitas identitas budaya.

Sementara itu, perubahan pola menonton melalui platform OTT seharusnya membuka ruang eksplorasi yang lebih luas. Namun, tanpa keberanian menata ulang ekosistem produksi, industri film sulit memanfaatkan peluang tersebut. Oleh karena itu, tantangan perfilman Indonesia tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis, tetapi juga menyangkut keberanian membangun industri yang memberi ruang bagi kreativitas, keberagaman genre, dan representasi yang lebih adil. ***(IK22/RizkyA)

Exit mobile version