Inilah 4 Bekal Membentuk Jiwa Kepemimpinan dalam Keluarga

oleh -
Ilustrasi (Unsplash)

BANDUNGMU.COM — Wakil Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana (LPB) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Arif Jamali Muis, menuturkan bahwa tidak bisa dimungkiri keluarga merupakan tempat untuk menentukan dan menyelamatkan kehidupan.

Arif menjelaskan keluarga sebagai tempat menentukan dan menyelamatkan kehidupan amat terasa lebih-lebih di masa pandemi covid-19 seperti sekarang ini.

Selain keluarga sebagai faktor terpenting dalam kehidupan, menurut Arif, keluarga juga sebagai tempat bersemayam cinta, kasih sayang, sekaligus sebagai kawah candradimuka.

“Akan minimnya kepemimpinan, keluargalah yang menjadi kawah candradimukanya, bukan di tempat yang lain, yang lain saya kira hanya tinggal moles. Maka kalau di Muhammadiyah itu salah satu perkaderan melalui keluarga,” tuturnya, seperti dikutip dari laman resmi Muhammadiyah, Kamis (03/03/2022) siang.

Baca Juga:  Sejarah Peradaban Islam-UIN Raden Fatah Palembang Gelar Webinar Kuliah Tamu 2021

Ari menjelaskan setidaknya ada empat hal yang harus diketahui dan dipahami untuk membentuk jiwa kepemimpinan dalam keluarga.

Pertama, budaya dialog dan keterbukaan dalam keluarga. Dialog menjadi penting untuk memutuskan sesuatu dalam keluarga, bukan saja dilakukan oleh orang tua, melainkan anak-anak harus dilibatkan secara aktif.

“Ketika kita mengambil keputusan dalam keluarga, meskipun kita punya prinsip, kita punya keputusan tersendiri, tapi jangan keputusan itu disampaikan di keluarga kemudian semua orang harus mengikuti. Lebih baik ajaklah dialog semua anggota keluarga,” tuturnya.

Baca Juga:  PC Aisyiyah Sukajadi Pertajam Pilar Ekonomi Umat pada Musypimcab ke-2

Kedua, dalam keluarga harus dihidupkan budaya baca. Budaya kedua ini dimaksudkan untuk menunjang dan memaksimalkan budaya pertama.

Sebab, kata Arif, agar dialog itu bermakna, di rumah itu harus ada budaya baca dan literasi karena tidak mungkin dialog itu akan bermakna tanpa ada budaya membaca di rumah.

Dalam keluarga, terlebih keluarga Muhammadiyah, harus memiliki budaya ini dan selalu menyediakan uang serta ruang dalam keluarga untuk berbelanja buku.

Harus dipahami juga bahwa budaya baca akan memberikan dampak positif dalam jangka panjang pada kehidupan anak. Budaya membaca menjadi bekal argumentatif bagi anak dalam menentukan pilihan hidup.

Baca Juga:  5 Kampus Muhammadiyah Masuk 100 Besar Rangking Universitas se-Indonesia Versi Webometrics

Ketiga, ajari anak untuk berani mengambil atau menentukan keputusan serta konsekuensinya. Namun, jika keputusan yang diambil salah, tidak lantas dihujat, tetapi diarahkan.

Menurut Ari, budaya sekolah di Indonesia minim sekali mengajarkan anak dalam menyampaikan pemikirannya dan mengambil keputusan sendiri.

Keempat, ajari keluarga dan anak dalam bermasyarakat dan berorganisasi atau dalam pengertian keluarga atau anak menjadi pribadi-pribadi yang bermanfaat di masyarakat.

“Anak menjadi apa pun itu boleh asal memberikan manfaat positif bagi lingkungan dan masyarakat luas,” tandas Arif.***