BANDUNGMU.COM, Bandung — Di tengah hiruk pikuk kota pelabuhan Guangzhou, Masjid Xianxian berdiri teduh sebagai saksi perjalanan panjang Islam di Cina. Sejak lebih dari 1.300 tahun lalu, masjid ini menjadi pintu masuk penyebaran Islam di negeri Tirai Bambu. Dari Guangzhou, jejak sejarah itu berlanjut ribuan kilometer ke barat hingga Chengdu, memperlihatkan bagaimana Islam tumbuh, beradaptasi, dan bertahan lintas zaman dan budaya.
Jejak Sahabat Nabi di Guangzhou
Masjid Xianxian, yang juga dikenal sebagai Masjid Huaisheng atau “Masjid Pengingat Nabi”, berdiri sejak masa Dinasti Tang sekitar tahun 627 Masehi. Wakil Ketua Asosiasi Islam Cina, Wang Wenjie, menjelaskan bahwa Sa’ad bin Abi Waqqas—sahabat Nabi Muhammad SAW—mendirikan masjid tersebut sebagai bagian dari misi dakwah awal Islam ke Cina.
Menurut Wang, Kaisar Dinasti Tang menyambut kedatangan Sa’ad dengan terbuka. Kaisar bahkan memberikan izin kepada Sa’ad bin Abi Waqqas untuk memperkenalkan ajaran Islam di Guangzhou. Dari kota pelabuhan ini, Sa’ad kemudian menyebarkan Islam ke berbagai wilayah selatan Cina.
Kompleks Masjid Xianxian hingga kini merawat jasa dan perjalanan tersebut. Di halaman masjid, pengunjung dapat melihat tugu dan makam tiga jenderal Muslim Hui yang gugur saat mempertahankan Guangzhou dari kepungan Dinasti Qing. Tak jauh dari sana, deretan makam para imam menampilkan kain penutup berwarna merah, biru, dan ungu.
Namun, makam Sa’ad bin Abi Waqqas yang berada dalam bangunan tersendiri tetap menjadi titik ziarah paling ramai. Setiap hari, pengunjung datang untuk membaca doa dan Al-Qur’an. Di sisi lain, pengelola masjid juga tengah melanjutkan proyek konstruksi baru yang diperkirakan rampung dalam beberapa bulan ke depan.
Arsitektur Cina Bernafaskan Islam
Meski telah berusia lebih dari satu milenium, Masjid Xianxian menyatu dengan estetika arsitektur tradisional Cina. Atap kayu bergelombang, gerbang kayu berlapis, dan halaman luas mencerminkan ciri khas bangunan klasik. Sementara itu, unsur Islam hadir melalui kaligrafi Arab, arah kiblat, serta struktur atap bersusun yang mengarahkan pandangan ke barat.
Di tengah modernisasi Kota Guangzhou, masjid ini tetap menjadi ruang kontemplasi yang menghubungkan masa lalu dengan kehidupan Muslim masa kini.
Kehidupan Ibadah di Masjid Huangcheng, Chengdu
Berbeda dengan nuansa sejarah maritim Guangzhou, Masjid Huangcheng di Chengdu menawarkan atmosfer perkotaan yang hidup. Masjid yang berdiri sejak abad ke-16 ini mengusung perpaduan arsitektur Cina dan Islam. Atap melengkung, ukiran naga, serta minimnya kubah berpadu dengan kaligrafi Arab dan mihrab yang menghadap kiblat.
Imam Masjid Huangcheng, Chen Kun, menuturkan bahwa komunitas Muslim di Chengdu terus berkembang setiap tahun. Selama Ramadan, pengurus masjid menyiapkan makanan berbuka puasa dan menyelenggarakan salat Tarawih. Jamaah juga melaksanakan salat Idul Fitri dan Idul Adha di area masjid. Chen menambahkan bahwa masjid tidak menggunakan pengeras suara untuk azan demi menjaga harmoni dengan lingkungan sekitar.
Museum Mini dan Harmoni Budaya
Selain ruang salat dan lapangan luas, Masjid Huangcheng menyimpan bangunan yang berfungsi sebagai museum mini. Di dalamnya, pengelola menampilkan kronologi penyebaran Islam di Cina. Dinding dekat gerbang masjid memajang kalimat syahadat dalam karakter Cina sebagai simbol harmonisasi budaya.
Museum tersebut juga menyimpan kursi dan meja perpustakaan berusia ratusan tahun yang masih digunakan hingga kini. Pengunjung dapat membaca, berdiskusi, dan mengikuti pengajian tanpa biaya. Koleksi lainnya mencakup naskah pembelajaran agama, maket tiga dimensi masjid, foto-foto kuno hubungan pemimpin Cina dengan komunitas Muslim, Al-Qur’an kuno, serta papan cap kayu hitam untuk menyalin ayat.
Dua manekin berpakaian imam—satu berwarna hijau toska bergaya tradisional dan satu lagi hitam dengan bordiran bendera Cina serta tulisan Arab—melengkapi gambaran perjalanan panjang Islam di Chengdu. *** (IK22/Furqon)






