Istikamah dalam Agama Allah

oleh -
Ilustrasi istikamah (Foto: moondoggiesmusic.com)

BANDUNGMU.COM – Tidak dapat dimungkiri pada masa pandemik seperti ini orang-orang saling curiga satu sama lain, tidak mau berjabat tangan, senyum pun menjadi tak tampak karena terhalang oleh masker, dan tempat ibadah banyak yang ditutup demi menjaga keselamatan jiwa manusia.

Entah sampai kapan kondisi seperti ini akan bertahan. Di sisi lain saat ini sudah banyak orang yang merasa jenuh dan bosan dengan keadaan yang entah kapan berakhirnya.

Sebetulnya pandemi covid-19 bukan ujian terberat bagi kita. Lamanya usia cobaan yang menimpa kita yang kita sendiri tidak tahu kapan berakhirnya, itulah ujian terberat dalam hidup.

Ketika berbicara istikamah biasanya yang terbayang adalah suatu hal yang positif. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika para penceramah membahas kata ini selalu dikaitkan dengan hal-hal yang baik sehingga terbentuk stigma bahwa istikamah hanya digunakan untuk hal-hal yanng baik dan benar.

Padahal kalau kita jeli, dilihat dari artinya saja istikmah itu bermakna bersikap/berlaku tegak, lurus, atau seimbang. Arti tersebut menjelaskan bahwa istikamah merupakan kata netral yang tidak menunjukkan baik dan buruk karena yang menjadikan baik dan buruknya istikamah adalah objek istikamah itu sendiri. Dalam hal apa kita beristiqomah.

Sengaja penulis menuliskan judul ”Istikamah dalam agama Allah” karena ternyata masih ada orang yang istikamah di luar agama Allah. Sesungguhnya manusia itu ada yang istikamah dalam ketaatan, tetapi ada juga yang istikamah dalam kemaksiatan.

Istikamah dalam agama Allah berati kita selalu lurus berada dalam ketaatan kepada Allah. Lurus dalam arti secara akidah, ucapan, dan perbuatan sehingga ketiga unsur ini bisa lurus dalam koridor yang sama.

Kadang-kadang kita tidak istikamah antara ucapan dan perbuatan, antara keyakinan dan apa yang dilakukan. Kadang-kadang juga kita meyakini bahwa Allah itu Maha Melihat, tetapi pada waktu lain kita malah bermksiat seakan-akan Allah tak melihat perbuatan kita.

Sebagaimana yang sudah disinggung di atas bahwa ujian terberat itu bukan kaya atau miskin, bukan pula sehat atau sakit, melainkan menjaga keistikamahan agar tetap berada dalam ketaatan kepada Allah dalam setiap waktu dan keadaan.

Seperti halnya dalam kondisi pandemi covid-19 saat ini, banyaknya pegawai yang di-PHK sehingga mereka tidak punya penghasilan tetap untuk menghidupi keluarganya. Dalam kondisi seperti ini, apakah masih bisa istikamah dalam ketaatan kepada Allah ataukah menghalalkan segala cara agar tetap bisa bertahan hidup?

Ada satu ayat yang mudah-mudahan menjadikan kita termotivasi untuk senantiasa istikamah di jalan Allah.

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ”Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istikamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. (Q.S. Al-Ahqaf: 13)

Dalam ayat tersebut Allah menggunakan kata ”Rabbuna” yang memiliki arti “yang mengurus atau yang mengatur”. Pertanyaannya, apa yang Allah urus dan atur? Karena Allah merupakan Rabbul ‘Alamin, yaitu Tuhan yang mengatur alam semesta alam, termasuk kita di dalamnya.

Sesungguhnya kita tidak perlu memikirkan kehidupan ini, dari mana kita bisa makan, bagaimana kita bisa sembuh, dan lain sebagainya. Kalau kita terlalu memikirkan kehidupan dunia, akhirnya kita akan galau.

Lalu apa sebetulnya apa yang sering kita pikirkan sehingga menyebabkan kita galau? Kurang lebih ada dua jawabannya:

Pertama, masa lalu. Kita sibuk memikirkan masalalu yang tidak sesuai dengan keinginan kita sehingga kita galau, resah, dan gelisah tidak karuan. Kedua, masa depan. Sudah galau dengan masa lalu, kita menjadi bingung dan bimbang menghadapi masa depan.

Pada akhirnya hidup yang harusnya dijalani malah diabaikan. Kalaulah yakin Allah sudah mengatur dan mengurus kehidupan kita, seharusnya kita tidak galau.

Sesungguhnya tugas kita bukan memikirkan itu semua, melainkan hanya dituntut untuk menjalani kehidupan sesuai dengan apa yang kita terima dari Allah. Jadi, apa yang kita terima saat ini maka nikmati karena bahagia itu tidak perlu kaya, tetapi cukup kita ikhlas dan rida saja menerima apa yang Allah berikan kepada kita.

Kalau kita sudah bisa istikamah menikmati hidup dengan cara-cara yang Allah ridai, kita tidak akan bersedih memikirkan masa lalu karena dia yang tidak akan kembali. Kita pun tidak akan merasa takut menjalani masa depan karena yakin Allah SWT telah mengatur mana yang terbaik bagi kita.

Semoga Allah memberikan keistikamahan kepada kita dalam menikmati tantangan hidup yang Allah berikan kepada kita, tentu istikamah dalam hal-hal yang diridai dan dicintai-Nya.

Fairuuz Faatin, Mahasiswa KPI Universitas Muhamadiyah Bandung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *